Konjungtivitis alergi adalah peradangan konjungtiva yang dipicu oleh reaksi hipersensitivitas terhadap alergen. Ada beberapa bentuk konjungtivitis alergi yang berbeda dalam hal waktu onset, keparahan, dan mekanisme penyebabnya. Membedakan antara jenis-jenis ini sangat penting untuk menentukan terapi yang tepat dan memprediksi komplikasi potensial.
Pasien mengalami gejala sepanjang tahun yang meliputi:
Pemeriksaan fisik menunjukkan perubahan yang jelas pada palpebra (kelopak mata) berupa penebalan, kekeringan, dan eritema (kemerahan). Di konjungtiva terlihat papilâproyeksi kecil yang meradang. Papil pada keratokonjungtivitis atopi berukuran relatif kecil dan ditemukan pada kedua palpebra superior dan inferior.
Karena durasi penyakit yang panjang, neovaskularisasi kornea (pembentukan pembuluh darah baru di kornea) dapat muncul di daerah limbus (perbatasan kornea dan sklera). Pada kasus berat dan tidak terkontrol, sikatriks konjungtiva (jaringan parut) dapat terbentuk, yang dapat mengakibatkan kerusakan penglihatan permanen jika melibatkan kornea.
Kondisi ini ditandai dengan gejala akut yang lebih dramatis dibandingkan dengan keratokonjungtivitis atopi:
Menariknya, ketika konjungtivitis vernal menjadi kronis, papil juga dapat terbentuk pada konjungtiva, mirip dengan keratokonjungtivitis atopi. Namun, papil pada konjungtivitis vernal biasanya berukuran lebih besar dan ditemukan terutama pada palpebra superior, berbeda dengan distribusi yang lebih luas pada keratokonjungtivitis atopi.
Giant papillary conjunctivitis adalah bentuk alergi yang terjadi sebagai reaksi terhadap benda asing kronik yang kontak dengan konjungtiva. Kondisi ini paling sering ditemukan pada pemakai lensa kontak jangka panjang atau pemakai mata buatan (mata plastik/prostetik). Gejala klinis mirip dengan konjungtivitis vernal, termasuk gatal dan lakrimasi, namun penyebabnya adalah reaksi terhadap material kontak daripada alergen musiman atau atopik.
Untuk episode akut konjungtivitis vernal, pendekatan terapi meliputi:
Karena keratokonjungtivitis atopi adalah kondisi kronis, manajemen berfokus pada kontrol jangka panjang:
Penggunaan steroid topikal memerlukan monitoring yang ketat karena penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan:
Oleh karena itu, steroid sebaiknya digunakan untuk durasi pendek pada fase akut, bukan untuk manajemen kronik jangka panjang tanpa pengawasan.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi