Konjungtivitis berkaitan dengan Alergi dan Penyakit Terkait

Materi pembelajaran Konjungtivitis berkaitan dengan Alergi dan Penyakit Terkait untuk mahasiswa kedokteran gigi.

Pengantar Konjungtivitis Alergi

Konjungtivitis alergi adalah peradangan konjungtiva yang dipicu oleh reaksi hipersensitivitas terhadap alergen. Ada beberapa bentuk konjungtivitis alergi yang berbeda dalam hal waktu onset, keparahan, dan mekanisme penyebabnya. Membedakan antara jenis-jenis ini sangat penting untuk menentukan terapi yang tepat dan memprediksi komplikasi potensial.

Keratokonjungtivitis Atopi

Keratokonjungtivitis atopi adalah bentuk konjungtivitis alergi yang paling serius dan persisten, terutama menyerang orang dewasa. Kondisi ini berkaitan erat dengan riwayat penyakit atopi sistemik seperti asma dan eksim.

Karakteristik Klinis

Pasien mengalami gejala sepanjang tahun yang meliputi:

  • Gatal intens
  • Lakrimasi berlebihan
  • Sensasi benda asing
  • Sekresi mukus yang konsisten

Pemeriksaan fisik menunjukkan perubahan yang jelas pada palpebra (kelopak mata) berupa penebalan, kekeringan, dan eritema (kemerahan). Di konjungtiva terlihat papil—proyeksi kecil yang meradang. Papil pada keratokonjungtivitis atopi berukuran relatif kecil dan ditemukan pada kedua palpebra superior dan inferior.

Komplikasi Jangka Panjang

Karena durasi penyakit yang panjang, neovaskularisasi kornea (pembentukan pembuluh darah baru di kornea) dapat muncul di daerah limbus (perbatasan kornea dan sklera). Pada kasus berat dan tidak terkontrol, sikatriks konjungtiva (jaringan parut) dapat terbentuk, yang dapat mengakibatkan kerusakan penglihatan permanen jika melibatkan kornea.

Konjungtivitis Vernal (Seasonal/Hay Fever)

Konjungtivitis vernal atau konjungtivitis seasonal adalah bentuk alergi yang sering kambuh terutama pada musim gugur, meskipun dapat hadir sepanjang tahun. Alergen utama berasal dari serbuk sari, rumput, dan bulu hewan.

Gejala dan Presentasi Akut

Kondisi ini ditandai dengan gejala akut yang lebih dramatis dibandingkan dengan keratokonjungtivitis atopi:

  • Gatal hebat
  • Kemerahan konjungtiva
  • Berair mata
  • Edema palpebra (pembengkakan kelopak mata)
  • Kemosmos (mucous discharge) yang berat secara akut

Menariknya, ketika konjungtivitis vernal menjadi kronis, papil juga dapat terbentuk pada konjungtiva, mirip dengan keratokonjungtivitis atopi. Namun, papil pada konjungtivitis vernal biasanya berukuran lebih besar dan ditemukan terutama pada palpebra superior, berbeda dengan distribusi yang lebih luas pada keratokonjungtivitis atopi.

Giant Papillary Conjunctivitis

Giant papillary conjunctivitis adalah bentuk alergi yang terjadi sebagai reaksi terhadap benda asing kronik yang kontak dengan konjungtiva. Kondisi ini paling sering ditemukan pada pemakai lensa kontak jangka panjang atau pemakai mata buatan (mata plastik/prostetik). Gejala klinis mirip dengan konjungtivitis vernal, termasuk gatal dan lakrimasi, namun penyebabnya adalah reaksi terhadap material kontak daripada alergen musiman atau atopik.

Pendekatan Terapi Konjungtivitis Alergi

Manajemen konjungtivitis alergi bergantung pada jenis, keparahan, dan apakah kondisi berada dalam fase akut atau kronik.

Konjungtivitis Vernal Akut

Untuk episode akut konjungtivitis vernal, pendekatan terapi meliputi:

  • Vasokonstriktor topikal: mengurangi kemerahan dan pembengkakan dengan menyempitkan pembuluh darah di konjungtiva
  • Antihistamin topikal: memblokir efek histamin yang menyebabkan gatal
  • Steroid topikal: dapat digunakan pada fase akut untuk mengendalikan peradangan akut dengan cepat

Konjungtivitis Atopi (Terapi Jangka Panjang)

Karena keratokonjungtivitis atopi adalah kondisi kronis, manajemen berfokus pada kontrol jangka panjang:

  • Antihistamin topikal: untuk mengatasi gatal kronis
  • Penstabil sel mast: mencegah degranulasi sel mast dan pelepasan mediator inflamasi, memberikan efek pencegahan
  • Vasokonstriktor: mengurangi kemerahan berkelanjutan
  • Kompres dingin: memberikan kenyamanan topikal dan mengurangi pembengkakan

Perhatian Penting: Monitoring Steroid

Penggunaan steroid topikal memerlukan monitoring yang ketat karena penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan:

  • Glaukoma: peningkatan tekanan intraokular yang dapat merusak saraf optik
  • Katarak: kekeruhan lensa mata yang muncul atau berkembang

Oleh karena itu, steroid sebaiknya digunakan untuk durasi pendek pada fase akut, bukan untuk manajemen kronik jangka panjang tanpa pengawasan.

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds