Tiga kondisi ini merupakan bentuk konjungtivitis alergi kronis yang memiliki etiologi, patofisiologi, dan manifestasi klinis yang spesifik, sehingga penting untuk dapat membedakannya dalam praktik klinis.
AKC adalah kondisi bilateral, kronis, dan sering kambuh yang dapat menyebabkan kerusakan mata yang signifikan.
AKC merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I (IgE-mediated) dan tipe IV (cell-mediated) terhadap alergen lingkungan, seperti tungau debu, serbuk sari, atau bulu hewan, pada individu yang memiliki predisposisi atopik.
GPC adalah respons inflamasi alergi yang sering terjadi pada pemakai lensa kontak.
GPC disebabkan oleh kombinasi iritasi mekanis kronis (misalnya lensa kontak, jahitan pasca-operasi, prostesis okuler) dan reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV terhadap protein yang terdeposit pada permukaan benda asing tersebut.
Fliktenularis adalah reaksi alergi seluler yang bermanifestasi sebagai nodul pada mata.
Ini adalah reaksi hipersensitivitas tipe IV (delayed hypersensitivity) terhadap antigen mikroba, paling sering Mycobacterium tuberculosis, Staphylococcus aureus, atau Chlamydia trachomatis. Umumnya terjadi pada anak-anak atau remaja yang terpapar mikroba tersebut.
Diagnosis untuk ketiga kondisi ini umumnya didasarkan pada:
Komplikasi dapat bervariasi tergantung jenisnya:
Edukasi pasien mengenai manajemen jangka panjang dan kepatuhan terapi sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi