Konjungtivitis Alergi Kronis: Atopik, GPC, dan Fliktenularis

Hai, calon dokter! Pernah ketemu pasien dengan mata merah dan gatal yang nggak sembuh-sembuh? Bisa jadi itu bukan konjungtivitis alergi biasa, melainkan salah satu dari trio konjungtivitis alergi kronis: Atopik, Giant Papillary (GPC), atau Fliktenularis! Ketiganya punya karakteristik unik dan penanganan yang berbeda lho. Yuk, pahami seluk-beluknya agar kamu jago mendiagnosis dan memberikan tatalaksana yang tepat!

Definisi Umum & Perbedaan Kunci

Tiga kondisi ini merupakan bentuk konjungtivitis alergi kronis yang memiliki etiologi, patofisiologi, dan manifestasi klinis yang spesifik, sehingga penting untuk dapat membedakannya dalam praktik klinis.

  • Konjungtivitis Atopik (AKC): Bentuk parah dari konjungtivitis alergi kronis yang sering dikaitkan dengan atopi sistemik (misalnya dermatitis atopik, asma).
  • Konjungtivitis Papiler Raksasa (GPC): Reaksi inflamasi alergi yang dipicu oleh iritasi mekanis kronis dari benda asing, paling sering lensa kontak.
  • Konjungtivitis Fliktenularis: Reaksi hipersensitivitas tipe IV terhadap antigen mikroba, bermanifestasi sebagai nodul kecil (flikten) pada limbus atau kornea.

Konjungtivitis Atopik (AKC)

AKC adalah kondisi bilateral, kronis, dan sering kambuh yang dapat menyebabkan kerusakan mata yang signifikan.

Etiologi & Patofisiologi AKC

AKC merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I (IgE-mediated) dan tipe IV (cell-mediated) terhadap alergen lingkungan, seperti tungau debu, serbuk sari, atau bulu hewan, pada individu yang memiliki predisposisi atopik.

Manifestasi Klinis AKC

  • Gejala: Gatal hebat, mata merah, berair, sensasi benda asing, fotofobia, dan keluarnya mukus kental. Sering memburuk di musim tertentu.
  • Tanda:
    • Konjungtiva: Hiperemia, edema, papil besar di konjungtiva tarsal bawah, papil lebih kecil di tarsal atas. Dapat ditemukan ulkus marginal steril.
    • Kornea: Keratitis pungtata, ulkus kornea perifer, plak kornea (shield ulcer), neovaskularisasi, dan terkadang keratokonus.
    • Lainnya: Sering disertai tanda dermatitis atopik pada kelopak mata (eksim, likenifikasi, fisura), katarak subkapsular anterior, dan glaukoma sekunder.

Tatalaksana AKC

  • Non-Farmakologis: Hindari alergen, kompres dingin, kebersihan kelopak mata.
  • Farmakologis:
    • Antihistamin topikal & Mast cell stabilizer: Untuk gejala ringan-sedang.
    • Kortikosteroid topikal: Untuk eksaserbasi akut yang parah (gunakan hati-hati dan dalam pengawasan dokter mata karena risiko glaukoma dan katarak).
    • Imunomodulator topikal: Siklosporin topikal atau tacrolimus topikal untuk kasus kronis yang refrakter terhadap kortikosteroid.
    • Antihistamin oral: Untuk gatal sistemik.
    • Penanganan penyakit atopik sistemik: Kolaborasi dengan dokter spesialis lain jika diperlukan.

Konjungtivitis Papiler Raksasa (GPC)

GPC adalah respons inflamasi alergi yang sering terjadi pada pemakai lensa kontak.

Etiologi & Patofisiologi GPC

GPC disebabkan oleh kombinasi iritasi mekanis kronis (misalnya lensa kontak, jahitan pasca-operasi, prostesis okuler) dan reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV terhadap protein yang terdeposit pada permukaan benda asing tersebut.

Manifestasi Klinis GPC

  • Gejala: Gatal, sensasi benda asing, peningkatan produksi mukus, penglihatan kabur (terutama pada pemakai lensa kontak), dan lensa kontak terasa tidak nyaman.
  • Tanda:
    • Konjungtiva: Papil raksasa (>0.3 mm) pada konjungtiva tarsal superior, hiperemia, edema, dan mukus.
    • Lainnya: Deposit protein pada lensa kontak.

Tatalaksana GPC

  • Non-Farmakologis:
    • Hentikan penggunaan lensa kontak: Atau ganti ke jenis lensa sekali pakai harian.
    • Perbaiki kebersihan lensa kontak: Gunakan cairan pembersih yang tepat.
    • Lepas jahitan: Jika GPC disebabkan oleh jahitan pasca-operasi.
  • Farmakologis:
    • Antihistamin topikal & Mast cell stabilizer: Untuk mengurangi gejala.
    • Kortikosteroid topikal: Jangka pendek untuk meredakan inflamasi akut.

Konjungtivitis Fliktenularis

Fliktenularis adalah reaksi alergi seluler yang bermanifestasi sebagai nodul pada mata.

Etiologi & Patofisiologi Fliktenularis

Ini adalah reaksi hipersensitivitas tipe IV (delayed hypersensitivity) terhadap antigen mikroba, paling sering Mycobacterium tuberculosis, Staphylococcus aureus, atau Chlamydia trachomatis. Umumnya terjadi pada anak-anak atau remaja yang terpapar mikroba tersebut.

Manifestasi Klinis Fliktenularis

  • Gejala: Iritasi, fotofobia berat, lakrimasi, blefarospasme, dan sensasi benda asing.
  • Tanda:
    • Flikten: Nodul kecil, putih kekuningan, berbatas tegas, biasanya terletak pada limbus, konjungtiva bulbi, atau kornea.
    • Vaskularisasi: Jika flikten pada kornea, dapat menyebabkan ulserasi dan neovaskularisasi (pannus).
    • Lainnya: Sering unilateral atau asimetris. Dapat rekuren. Penting untuk mencari sumber infeksi yang mendasari (misalnya skrining TB).

Tatalaksana Fliktenularis

  • Farmakologis:
    • Kortikosteroid topikal: Untuk meredakan inflamasi dan gejala.
    • Antibiotik topikal: Jika dicurigai infeksi sekunder bakteri atau sebagai terapi empiris untuk stafilokokus.
    • Terapi penyakit sistemik yang mendasari: Penting untuk mengobati etiologi utama, seperti terapi antituberkulosis (OAT) jika ditemukan TB.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis untuk ketiga kondisi ini umumnya didasarkan pada:

  • Anamnesis: Riwayat alergi personal/keluarga, riwayat penggunaan lensa kontak, riwayat paparan TB atau infeksi lain, gejala spesifik seperti gatal, fotofobia, atau sensasi benda asing.
  • Pemeriksaan Fisik Oftalmologi: Pemeriksaan slit-lamp untuk melihat karakteristik papil, flikten, kondisi kornea, dan tanda-tanda lain yang spesifik untuk masing-masing kondisi.
  • Pemeriksaan Penunjang (jika diperlukan):
    • Tes alergi: Untuk mengidentifikasi alergen pada AKC.
    • Pewarnaan Gram/kultur: Jika ada kecurigaan infeksi bakteri sekunder.
    • Tes Mantoux (PPD) atau IGRA: Untuk skrining TB pada fliktenularis.
    • Pemeriksaan radiologi (rontgen toraks): Jika dicurigai TB sistemik.

Komplikasi & Prognosis

Komplikasi dapat bervariasi tergantung jenisnya:

  • AKC: Keratokonus, katarak subkapsular anterior, glaukoma, ulkus kornea, ambliopia (pada anak). Prognosis bervariasi, sering kronis dan rekuren.
  • GPC: Intoleransi lensa kontak permanen, ulkus kornea. Prognosis baik jika penyebab dihilangkan.
  • Fliktenularis: Ulkus kornea, pannus, jaringan parut kornea, penurunan visus. Prognosis baik jika etiologi diobati dan inflamasi dikontrol.

Edukasi pasien mengenai manajemen jangka panjang dan kepatuhan terapi sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds