Otitis media supuratif kronis (OMSK) adalah infeksi berkelanjutan pada telinga tengah yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi-komplikasi ini memerlukan pemahaman mendalam tentang mekanisme penyebaran infeksi dan penatalaksanaan yang tepat waktu. Pada bagian ini, kita akan mempelajari bagaimana infeksi menyebar, tanda-tanda peringatan dini, dan pendekatan penatalaksanaan berbasis bukti.
Komplikasi OMSK dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomis yang terkena. Pemahaman tentang klasifikasi ini membantu klinisi mengidentifikasi komplikasi dengan cepat dan menentukan strategi penatalaksanaan yang tepat.
Komplikasi Telinga Tengah dan Mastoid merupakan komplikasi lokal yang terjadi dalam struktur telinga tengah itu sendiri. Jenis-jenis komplikasi ini termasuk perforasi membran timpani yang persisten, erosi pada rantai tulang pendengaran (osikula), dan kelumpuhan nervus fasialis akibat erosi di kanalis Falopi.
Komplikasi Telinga Dalam terjadi ketika infeksi menyebar ke struktur labirin. Komplikasi ini meliputi fistula labirin (perforasi di kanalis semisirkularis atau fenestra rotunda), labirinitis supuratif dengan invasi sel radang, dan tuli sensorineural yang seringkali tidak dapat dipulihkan.
Komplikasi Ekstradural menunjukkan penyebaran infeksi melampaui struktur temporal ke ruang epidural otak. Komplikasi-komplikasi ini mencakup abses ekstradural (pengumpulan pus antara dura mater dan tulang), trombosis sinus lateralis dengan sepsis, dan petrositis (infeksi pada rongga udara batu pelipis).
Komplikasi Sistem Saraf Pusat merupakan komplikasi paling berbahaya dan mengancam jiwa, termasuk meningitis (infeksi selaput otak), abses otak di berbagai lokasi (ekstradural, subdural, atau parenkim otak), dan hidrosefalus akibat obstruksi.
Memahami bagaimana infeksi menyebar adalah kunci untuk mengidentifikasi dan mencegah komplikasi. Erosi tulang menjadi mekanisme utama penyebaran pada OMSK kronis.
Ketika infeksi berlangsung lama, bakteri dan enzim inflamasi secara bertahap menghancurkan struktur tulang sekitarnya. Erosi ini dapat mengenai berbagai struktur penting: tulang pendengaran (menyebabkan tuli konduktif), kanalis Falopi (menyebabkan paralisis fasialis), atau kanalis semisirkularis (menyebabkan labirinitis dan fistula labirin). Erosi yang mencapai tegmen timpani atau tegmen mastoid dapat memungkinkan infeksi masuk ke ruang intrakranial.
Selain erosi tulang, infeksi dapat menyebar melalui jalur-jalur alami yang sudah ada: fenestra rotunda (pintu masuk dari telinga tengah ke labirin), duktus perilimfatik, dan pembuluh darah vena yang menghubungkan telinga tengah ke sinus intrakranial. Penyebaran vena ini sangat penting dalam patogenesis trombosis sinus lateralis dan meningitis.
Kemampuan mengenali tanda-tanda awal komplikasi sangat penting karena dapat mencegah perkembangan menjadi kondisi yang lebih parah. Beberapa gejala harus membangkitkan kecurigaan komplikasi intrakranial dengan segera.
Demam tinggi yang persisten atau berfluktuasi dengan tajam, nyeri kepala yang berat terutama di region parietal atau okzipital (bukan hanya nyeri telinga), mual, muntah, dan terutama perubahan kesadaran merupakan tanda peringatan komplikasi intrakranial. Kombinasi demam tinggi dengan nyeri kepala hebat dan gejala neurologis adalah penanda klinis yang paling mengkhawatirkan.
Gejala lain yang mengkhawatirkan adalah bila sekresi purulen dari telinga tengah yang sebelumnya keluar terus-menerus tiba-tiba berhenti, namun pasien masih menunjukkan tanda-tanda sistemik seperti demam. Hal ini menandakan bahwa pus kemungkinan terperangkap dan membentuk abses.
Vertigo yang parah, keseimbangan yang terganggu, atau tuli mendadak menunjukkan keterlibatan labirin dan memerlukan tindakan operatif segera.
Fistula labirin terjadi ketika erosi pada kanalis semisirkularis atau fenestra rotunda memungkinkan infeksi dari telinga tengah memasuki rongga labirin. Ini adalah komplikasi serius karena labirin mengandung organ keseimbangan dan pendengaran yang sangat sensitif.
Deteksi Fistula Labirin
Fistula labirin dapat dideteksi melalui tes fistula (fistula test). Ketika tekanan pada telinga luar meningkat secara tiba-tibaâmisalnya dengan menekan tragusâakan terjadi nistagmus atau vertigo yang jelas jika fistula masih paten (terbuka). Namun, perlu diingat bahwa fistula yang sudah ditutup oleh jaringan granulasi atau fibrin akan memberikan tes fistula negatif, meskipun fistula sebenarnya masih ada. Oleh karena itu, tes fistula negatif tidak dapat menyingkirkan diagnosis fistula labirin.
Labirinitis Serosa versus Supuratif
Penyebaran infeksi ke labirin dapat mengambil dua bentuk berbeda. Labirinitis serosa ditandai dengan penyebaran toksin bakteri ke perilimfe (cairan di labirin) tanpa invasi langsung sel-sel radang ke struktur labirin. Pada kondisi ini, labirin masih dapat berfungsi kembali normal jika infeksi diatasi dengan cepat. Sebaliknya, labirinitis supuratif melibatkan invasi langsung sel-sel inflamasi dan bakteri ke dalam labirin, menyebabkan kerusakan struktural yang irreversibel. Pada labirinitis supuratif, fibrosis dan osifikasi terjadi secara progresif, menghasilkan tuli sensorineural permanent dan kemungkinan kehilangan keseimbangan total.
Penatalaksanaan
Fistula labirin dan labirinitis supuratif memerlukan intervensi operatif segera. Operasi dekompresi labirin atau penutupan fistula harus dilakukan untuk menghilangkan sumber infeksi dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti tuli total atau meningitis. Mastoidektomi radikal atau modifikasi dilakukan untuk menghilangkan seluruh jaringan infeksi.
Petrositis adalah infeksi pada sel-sel udara yang tersebar dalam os petrosum (bagian petrous dari tulang temporal). Kondisi ini terjadi ketika infeksi OMSK menembus ke dalam struktur bertingkat yang kompleks ini.
Karakteristik Klinis Sindrom Gradenigo
Petrositis sering berekspresi sebagai sindrom Gradenigo, yang merupakan triad klinis yang sangat khas. Pasien mengalami diplopia (penglihatan ganda) akibat kelumpuhan nervus abducens (CN VI), nyeri kepala berat di region temporal dan parietal yang tidak responsif terhadap analgesik biasa, dan otore persisten yang tidak hilang meskipun telah diberikan pengobatan antibiotik.
Peningkatan suspisi terhadap petrositis harus muncul bila nanah terus-menerus keluar dari telinga atau keluar kembali setelah mastoidektomi telah dilakukan, menunjukkan bahwa infeksi belum sepenuhnya terkontrol.
Penatalaksanaan
Petrositis memerlukan operasi eksplorasi sel-sel udara os petrosum yang teliti dan pemberian antibiotik dosis tinggi secara intravena. Pendekatan operatif biasanya melibatkan perluasan dari mastoidektomi standar untuk mencapai dan membersihkan sel-sel udara petrous yang terinfeksi.
Tromboflebitis sinus lateralis (sering disebut trombosis sinus lateralis) adalah kondisi di mana infeksi dari telinga tengah dan mastoid menyebabkan pembentukan trombus dalam sinus vena intrakranial besar ini. Ini adalah komplikasi yang mengancam jiwa karena dapat menyebabkan sepsis sistemik dan emboli paru.
Mekanisme Penyebaran
Infeksi menembus tulang mastoid melalui erosi korteks atau penyebaran vena, mencapai dinding sinus sigmoideus (pars sigmoid dari sinus lateralis), dan mengakibatkan tromboflebitis pada dinding vena dengan pembentukan trombus di dalam lumen.
Presentasi Klinis
Gejala awal sangat khas: demam tinggi tanpa sumber yang jelas, suhu tubuh yang naik-turun secara tajam dan cepat (tidak bertahap seperti pada infeksi biasa), menggigil yang hebat, dan tanda-tanda sepsis lainnya. Pasien mungkin tidak menunjukkan gejala otologis yang berat; malah, gejala sistemik mendominasi gambaran klinis. Pada pemeriksaan, sering ditemukan edema pada prosesus mastoideus posterior.
Pemeriksaan Diagnostik
Kultur darah biasanya positif selama fase demam, menunjukkan bakteri yang masuk ke sirkulasi sistemik dari fokus infeksi. Pada era modern, CT atau MRI dengan kontras dapat menunjukkan defek filling pada sinus yang mengindikasikan adanya trombus.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan operatif meliputi: pembukaan mastoid untuk mengakses sinus lateralis, pengangkatan jaringan nekrotik dan granulasi yang mengalami infeksi, pembukaan dinding sinus, penghisapan trombus dan jaringan nekrotik dari dalam sinus, dan penutupan sinus dengan material yang sesuai (misalnya Surgicel atau spongostan). Ligasi vena jugularis interna dilakukan bila diperlukan untuk mencegah emboli sepsis, meskipun dengan antibiotik modern prosedur ini jarang diperlukan.
Abses ekstradural terbentuk antara dura mater dan tulang (epidural space). Pada OMSK, kondisi ini biasanya disebabkan oleh erosi tegmen timpani atau mastoid yang memungkinkan infeksi langsung ke dalam ruang ini.
Gejala utama adalah nyeri telinga yang sangat berat dan nyeri kepala yang parah. Seringkali, diagnosis abses ekstradural baru diketahui saat dilakukan mastoidektomi, di mana pus ditemukan di atas dura mater. Gejala yang tidak spesifik ini membuat diagnosa preoperatif seringkali sulit.
Abses subdural merupakan perluasan dari tromboflebitis sinus atau infeksi langsung melalui pembuluh vena yang menghubungkan telinga tengah ke ruang intrakranial. Infeksi bergerak melalui pembuluh vena ini dan membentuk kumpulan pus antara dura dan permukaan arachnoid otak.
Gejala lebih jelas dibandingkan abses ekstradural: demam tinggi, nyeri kepala hebat, penurunan kesadaran yang progresif, dan tanda Kernig positif (penolakan pasif ekstensi lutut saat pinggul fleksi, menunjukkan iritasi meningeal). Kondisi ini cenderung bermanifestasi seperti meningitis.
Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSF) menunjukkan temuan yang menarik: protein dapat meningkat, tetapi sel-sel leukosit mungkin tidak meningkat secara dramatis, dan paling penting, bakteri biasanya tidak ditemukan dalam CSF (berbeda dengan meningitis septik). Hal ini karena abses subdural terletak di atas arachnoid, memisahkannya dari CSF.
Abses otak dapat terbentuk di berbagai lokasi tergantung on rute penyebaran: lobus temporal (sesuai dengan lokasi telinga), serebelum, atau fosa posterior. Seringkali, abses otak didahului oleh abses ekstradural yang tidak ditangani, dengan infeksi kemudian menembus dura dan memasuki jaringan otak.
Gejala bergantung pada lokasi abses. Abses di lobus temporal dapat menyebabkan afasia (gangguan bahasa) atau hemianopsia, menunjukkan keterlibatan area yang spesifik. Abses serebelum menunjukkan gejala klasik disfungsi serebelar: ataksia (gangguan keseimbangan), disdiadokokinesis (ketidakmampuan melakukan gerakan cepat berulang), dan tremor intention. Gejala lain yang umum meliputi sakit kepala yang parah, demam, dan penurunan kesadaran.
Penatalaksanaan
Semua tipe abses intrakranial memerlukan pendekatan multimodal. Antibiotik parenteral dosis tinggi diberikan segera. Mastoidektomi dilakukan untuk menghilangkan sumber infeksi di telinga tengah. Jika CT atau MRI menunjukkan abses yang jelas, khususnya abses otak dengan efek mass yang signifikan, pasien dirujuk ke bedah saraf untuk drenase operatif segera. Timing operasi harus dipertimbangkan: pada kondisi umum buruk dengan ancaman life-threatening, mastoidektomi dapat ditunda hingga antibiotik memberikan perbaikan klinis selama 1-2 minggu.
Meningitis adalah komplikasi paling sering dari OMSK dan merupakan alasan utama untuk rujukan darurat. Kondisi ini dapat berekspresi dalam dua bentuk berbeda yang memiliki implikasi diagnostik dan penatalaksanaan yang berbeda.
Dua Bentuk Meningitis Otogenik
Meningitis umum (generalized meningitis) ditandai dengan penyebaran infeksi ke seluruh ruang subarachnoid, sehingga bakteri ditemukan dalam cairan serebrospinal. Sebaliknya, meningitis terlokalisasi (localized meningitis) merupakan infeksi yang lebih terbatas pada area sekitar fokus awal, dengan bakteri tidak terdeteksi dalam CSF meskipun inflamasi meningeal terjadi. Meningitis terlokalisasi ini seringkali merupakan fase awal sebelum menjadi meningitis umum jika tidak ditangani.
Presentasi Klinis
Gejala klasik meningitis meliputi:
Tanda Kernig dan Brudzinski dapat positif, menunjukkan iritasi meningeal.
Temuan Laboratorium
Analisis CSF menunjukkan perubahan karakteristik pada meningitis bakterial:
Penatalaksanaan
Pengobatan meliputi pemberian antibiotik yang sesuai secara intravena dengan dosis tinggi (yang akan dibahas lebih detail di bagian berikutnya) dan mastoidektomi operatif untuk menghilangkan sumber infeksi di telinga tengah. Timing mastoidektomi penting: meskipun terdapat kekhawatiran tentang memperberat meningitis, mastoidektomi tetap diperlukan dan biasanya dapat dilakukan dalam 24-48 jam pertama setelah stabilisasi kondisi umum pasien.
Pentingnya Dosis Tinggi dan Rute Pemberian
Antibiotik harus diberikan secara intravena dengan dosis yang tinggi segera setelah diagnosis dicurigai. Alasan penggunaan dosis tinggi adalah bahwa blood-brain barrier (penghalang darah-otak) mengalami permeabilitas terbatas terhadap antibiotik. Hanya fraksi kecil dari obat yang masuk ke cairan serebrospinal. Oleh karena itu, dosis yang biasa digunakan untuk infeksi sistemik tidak cukup untuk mencapai konsentrasi yang efektif dalam SSP.
Regimen Antibiotik Standar
Untuk meningitis otogenik dan komplikasi intrakranial lainnya:
Pemilihan agen bergantung pada flora bakteri yang umum dalam OMSK (sering Staphylococcus aureus, Streptococcus, Pseudomonas, dan anaerob), hasil kultur awal, dan sensitivitas lokal. Pada era sekarang dengan meningkatnya resistensi, konsultasi dengan mikrobiologi sangat penting.
Penyesuaian Berdasarkan Respons Klinis
Antibiotik awal harus disesuaikan berdasarkan respons klinis pasien dan, yang lebih penting, berdasarkan hasil kultur dari sekret telinga atau CSF. Jangan menunggu hasil kultur akhir; segera berikan antibiotik empiris yang luas, kemudian sempitkan berdasarkan hasil kultur.
Timing dan Indikasi Mastoidektomi
Mastoidektomi harus dilakukan ketika kondisi umum pasien memungkinkan. Pada keadaan sepsis yang sangat berat dengan tanda-tanda shock atau penurunan kesadaran yang ekstrem, operasi dapat ditunda selama 1-2 minggu untuk memberikan waktu bagi antibiotik memfasilitasi stabilisasi hemodinamik, namun biasanya operasi dapat dilakukan dalam 24-48 jam pertama.
Anestesia dapat diberikan baik secara umum maupun dengan analgesia lokal tergantung kondisi pasien. Mastoidektomi dapat dilakukan dengan anestesia lokal bahkan pada pasien kritis, meskipun anestesia umum adalah pilihan standar.
Prinsip Operatif
Prinsip utama mastoidektomi pada kasus-kasus ini adalah pengangkatan lengkap dari semua jaringan patologik:
Pendekatan transmeatal atau postauricular dipilih berdasarkan temuan klinis dan preferensi ahli bedah.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi