Klasifikasi Fraktur

Memahami klasifikasi fraktur adalah kunci utama dalam mendiagnosis dan menentukan tatalaksana yang tepat. Jangan sampai salah langkah karena keliru mengidentifikasi jenis fraktur! Yuk, kuasai berbagai sistem klasifikasi yang sering keluar di UKMPPD agar penanganan pasien optimal dan nilai ujianmu maksimal!

Pendahuluan: Mengapa Klasifikasi itu Penting?

Klasifikasi fraktur bukan sekadar hafalan, melainkan alat esensial bagi dokter. Dengan klasifikasi yang tepat, kita dapat:

  • Menentukan penatalaksanaan yang paling sesuai (konservatif atau operatif).
  • Memprediksi prognosis dan potensi komplikasi.
  • Memudahkan komunikasi antar profesional medis.
  • Mengevaluasi hasil terapi dan penelitian.

Berdasarkan Integritas Kulit

Ini adalah salah satu klasifikasi fundamental yang membagi fraktur menjadi dua kategori besar berdasarkan ada tidaknya hubungan antara lokasi fraktur dengan lingkungan luar.

  • Fraktur Tertutup (Simple/Closed Fracture): Fraktur yang tidak disertai kerusakan kulit atau jaringan lunak di atasnya, sehingga tidak ada hubungan antara tulang yang patah dengan dunia luar. Risiko infeksi minimal.
  • Fraktur Terbuka (Compound/Open Fracture): Fraktur yang disertai kerusakan kulit atau jaringan lunak di atasnya, sehingga terdapat hubungan antara tulang yang patah dengan dunia luar. Risiko infeksi sangat tinggi dan merupakan kegawatdaruratan ortopedi.

Untuk fraktur terbuka, klasifikasi Gustilo-Anderson sering digunakan untuk menilai tingkat keparahan dan risiko infeksi:

TipeDeskripsi
Tipe ILuka < 1 cm, bersih, kerusakan jaringan lunak minimal, fraktur sederhana.
Tipe IILuka > 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedang, fraktur sederhana hingga sedang, kontaminasi sedang.
Tipe IIIKerusakan jaringan lunak ekstensif, kontaminasi berat, fraktur kominutif/segmental.
Tipe IIIAJaringan lunak adekuat untuk penutupan luka primer, kerusakan periosteum minimal.
Tipe IIIBKerusakan jaringan lunak ekstensif dengan kehilangan jaringan, paparan periosteum, membutuhkan flap untuk penutupan.
Tipe IIICFraktur terbuka dengan cedera vaskular yang memerlukan perbaikan.

Berdasarkan Morfologi/Konfigurasi Fraktur

Klasifikasi ini menggambarkan bentuk atau pola garis patahan pada tulang.

  • Fraktur Transversal: Garis fraktur tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang.
  • Fraktur Oblik: Garis fraktur miring terhadap sumbu panjang tulang.
  • Fraktur Spiral: Garis fraktur melingkar seperti spiral, sering akibat gaya torsi.
  • Fraktur Kominutif: Tulang patah menjadi tiga fragmen atau lebih.
  • Fraktur Segmental: Terdapat dua garis fraktur transversal yang memisahkan segmen tulang dari bagian proksimal dan distal.
  • Fraktur Avulsi: Fragmen tulang kecil terlepas dari tulang utama akibat tarikan ligamen atau tendon yang kuat.
  • Fraktur Greenstick: Fraktur inkomplit pada anak-anak, satu sisi korteks patah dan sisi lainnya membengkok (seperti ranting hijau yang dipatahkan).
  • Fraktur Torus (Buckle Fracture): Fraktur kompresi pada metafisis tulang panjang anak-anak, korteks tulang mengalami penonjolan tanpa kehilangan kontinuitas.
  • Fraktur Impaksi: Satu fragmen tulang terdorong ke fragmen lainnya.

Berdasarkan Lokasi Fraktur pada Tulang Panjang

Klasifikasi ini penting untuk memahami potensi cedera sendi dan pembuluh darah/saraf.

  • Fraktur Diafisis: Terjadi pada bagian tengah tulang panjang (batang tulang).
  • Fraktur Metafisis: Terjadi pada area antara diafisis dan epifisis.
  • Fraktur Epifisis: Terjadi pada ujung tulang yang membentuk sendi.
  • Fraktur Intra-artikular: Garis fraktur meluas hingga ke permukaan sendi, berisiko tinggi menyebabkan osteoartritis post-trauma.
  • Fraktur Ekstra-artikular: Garis fraktur tidak melibatkan permukaan sendi.

Berdasarkan Garis Fraktur

Melihat apakah tulang terpisah sepenuhnya atau tidak.

  • Fraktur Komplit: Seluruh kontinuitas tulang terputus.
  • Fraktur Inkomplit: Hanya sebagian dari kontinuitas tulang yang terputus (contoh: greenstick, torus).

Berdasarkan Dislokasi Fragmen

Menggambarkan posisi relatif antar fragmen tulang yang patah.

  • Undisplaced (Tidak Bergeser): Fragmen tulang tetap dalam posisi anatomisnya.
  • Displaced (Bergeser): Fragmen tulang bergeser dari posisi anatomisnya. Pergeseran dapat berupa:
    • Angulasi: Pergeseran membentuk sudut.
    • Rotasi: Pergeseran memutar.
    • Translasi (Side-to-side): Pergeseran ke samping.
    • Distraksi: Fragmen tulang saling menjauh.
    • Impaksi: Fragmen tulang saling menancap.

Berdasarkan Mekanisme Trauma

Bagaimana gaya yang menyebabkan fraktur bekerja pada tulang.

  • Trauma Langsung (Direct Trauma): Gaya langsung mengenai lokasi fraktur.
  • Trauma Tidak Langsung (Indirect Trauma): Gaya bekerja pada satu titik, namun fraktur terjadi di titik lain yang jauh dari lokasi gaya.
  • Fraktur Patologis: Fraktur yang terjadi pada tulang yang sudah lemah akibat penyakit (misalnya osteoporosis, tumor, infeksi), seringkali akibat trauma minimal.
  • Fraktur Stres: Fraktur akibat beban berulang atau aktivitas berlebihan pada tulang yang sehat (misalnya pada atlet atau tentara).

Klasifikasi Khusus (Sering Ditemukan)

Beberapa fraktur memiliki sistem klasifikasi tersendiri karena karakteristik atau lokasi spesifiknya.

1. Klasifikasi Salter-Harris (Fraktur Epifisis pada Anak)

Klasifikasi ini digunakan untuk fraktur yang melibatkan lempeng pertumbuhan (epifisis) pada anak-anak, sangat penting karena dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang.

TipeDeskripsiIlustrasi
Tipe IFraktur melintasi lempeng pertumbuhan (epifisis terpisah dari metafisis).S = Straight across
Tipe IIFraktur melintasi lempeng pertumbuhan dan meluas ke metafisis.A = Above
Tipe IIIFraktur melintasi lempeng pertumbuhan dan meluas ke epifisis.L = Lower
Tipe IVFraktur melintasi epifisis, lempeng pertumbuhan, dan metafisis.T = Through
Tipe VFraktur kompresi pada lempeng pertumbuhan (lempeng pertumbuhan hancur).R = Rammed/Crushed

2. Klasifikasi AO/OTA

Sistem klasifikasi yang sangat detail dan komprehensif, digunakan secara luas dalam penelitian, pendidikan, dan perencanaan bedah. Menggunakan kode alfanumerik untuk mengidentifikasi lokasi tulang, segmen, dan pola fraktur. Meskipun kompleks, penting untuk mengetahui keberadaannya.

3. Klasifikasi Garden (Fraktur Kolum Femoris)

Digunakan khusus untuk fraktur pada leher femur, membantu dalam menentukan tatalaksana (misalnya, fiksasi internal versus artroplasti).

  • Tipe I: Fraktur impaksi inkomplit.
  • Tipe II: Fraktur komplit, tidak bergeser.
  • Tipe III: Fraktur komplit, bergeser parsial.
  • Tipe IV: Fraktur komplit, bergeser total.

Referensi

Customer Support umeds