Dehidrasi adalah kondisi hilangnya cairan dan elektrolit tubuh secara berlebihan. Pada anak-anak, terutama balita, dehidrasi dapat berkembang dengan cepat dan berpotensi mengancam nyawa, terutama akibat diare.
Klasifikasi Dehidrasi WHO adalah sistem penilaian yang sederhana, praktis, dan telah terbukti efektif untuk mengidentifikasi derajat dehidrasi pada anak, sehingga memungkinkan penentuan tatalaksana yang cepat dan tepat. Sistem ini menjadi panduan standar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Penilaian dehidrasi menurut WHO didasarkan pada empat tanda kunci yang mudah diamati (kesadaran, mata, air mata, mulut/lidah, turgor kulit, dan rasa haus) untuk mengelompokkan anak ke dalam salah satu dari tiga kategori:
| Tanda Klinis | Dehidrasi Berat (Jika ditemukan ≥2 tanda berikut) | Dehidrasi Ringan/Sedang (Jika ditemukan ≥2 tanda berikut) | Tanpa Dehidrasi (Tidak ada tanda dehidrasi berat atau ringan/sedang) |
| Kesadaran | Lesu atau tidak sadar | Gelisah atau mudah marah (iritabel) | Sadar, aktif |
| Mata | Sangat cekung | Cekung | Tidak cekung |
| Air Mata | Tidak ada | Tidak ada | Ada |
| Mulut/Lidah | Sangat kering | Kering | Basah |
| Turgor Kulit | Sangat lambat (kembali >2 detik) | Lambat (kembali | |
| Rasa Haus | Malas minum atau tidak bisa minum | Haus, minum dengan lahap | Minum biasa, tidak haus |
Catatan: Jika ditemukan satu pun tanda dehidrasi berat (misalnya lesu/tidak sadar, mata sangat cekung, turgor sangat lambat, atau malas/tidak bisa minum), maka pasien sudah diklasifikasikan sebagai Dehidrasi Berat.
Setelah klasifikasi dehidrasi ditentukan, tatalaksana diberikan sesuai dengan rencana terapi WHO:
Tujuannya adalah mencegah dehidrasi. Berikan cairan rumah tangga (oralit, air tajin, kuah sayur, ASI) lebih banyak dari biasanya, lanjutkan pemberian makan, dan ajarkan orang tua untuk mengenali tanda-tanda dehidrasi serta kapan harus kembali ke fasilitas kesehatan.
Tujuannya adalah rehidrasi cepat menggunakan Oral Rehydration Solution (ORS) atau cairan rehidrasi oral. Berikan ORS sesuai dosis yang direkomendasikan (misalnya 75 ml/kgBB dalam 3-4 jam), pantau respons, dan setelah rehidrasi berhasil, lanjutkan dengan Rencana Terapi A.
Tujuannya adalah rehidrasi intravena (IV) secepat mungkin karena pasien tidak bisa minum atau dalam kondisi syok. Berikan cairan IV (misalnya Ringer Laktat) dengan kecepatan tinggi sesuai protokol (misalnya 30 ml/kgBB dalam 30 menit, lalu 70 ml/kgBB dalam 2.5 jam untuk bayi; atau 30 ml/kgBB dalam 30 menit, lalu 70 ml/kgBB dalam 5.5 jam untuk anak >1 tahun). Setelah rehidrasi IV berhasil dan pasien bisa minum, lanjutkan dengan Rencana Terapi B atau A.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi