Klasifikasi dan Pendekatan Diagnostik Tuli

Tuli itu bukan cuma soal 'tidak mendengar', tapi spektrum kondisi kompleks dengan berbagai penyebab dan manifestasi. Memahami klasifikasi dan bagaimana melakukan pendekatan diagnostik yang tepat adalah kunci untuk UKMPPD dan praktik klinis. Yuk, kita bedah tuntas agar kamu jago mendiagnosis dan menatalaksana!

Definisi Tuli

Tuli (Gangguan Pendengaran) adalah kondisi penurunan kemampuan seseorang untuk mendeteksi atau memahami suara. Kondisi ini dapat bersifat sementara atau permanen, unilateral atau bilateral, serta bervariasi derajat keparahannya.

Klasifikasi Tuli Berdasarkan Lokasi Lesi

Tuli dapat diklasifikasikan berdasarkan bagian sistem pendengaran yang mengalami gangguan:

  • Tuli Konduktif: Terjadi akibat gangguan transmisi suara dari telinga luar (misalnya serumen prop, atresia liang telinga) atau telinga tengah (misalnya otitis media, perforasi membran timpani, otosklerosis) menuju telinga dalam.
  • Tuli Sensorineural: Terjadi akibat kerusakan pada koklea (telinga dalam), saraf auditori (N. VIII), atau keduanya (misalnya presbikusis, tuli akibat bising, Meniere's disease, neuroma akustik).
  • Tuli Campuran: Merupakan kombinasi antara tuli konduktif dan tuli sensorineural.
  • Tuli Sentral: Jarang, terjadi akibat gangguan pada jalur pendengaran di batang otak atau korteks serebri, meskipun telinga luar, tengah, dan dalam berfungsi normal.

Klasifikasi Tuli Berdasarkan Derajat (WHO)

Klasifikasi derajat tuli didasarkan pada ambang dengar rata-rata (pure tone average/PTA) pada frekuensi 500, 1000, 2000, dan 4000 Hz, yang diukur dengan audiometri nada murni.

Derajat TuliAmbang Dengar Rata-rata (dB)Dampak
Normal< 25Tidak ada kesulitan mendengar percakapan pelan.
Ringan26 - 40Kesulitan mendengar percakapan pelan atau jauh.
Sedang41 - 55Kesulitan mendengar percakapan normal.
Sedang-Berat56 - 70Kesulitan mendengar percakapan keras.
Berat71 - 90Hanya mendengar suara sangat keras atau teriakan.
Sangat Berat/Profund> 90Tidak mendengar suara apapun, atau hanya suara yang sangat kuat.

Pendekatan Diagnostik Awal

Anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan langkah awal yang krusial dalam mendiagnosis tuli.

  • Anamnesis:
    • Onset dan Progresivitas: Kapan mulai tuli? Mendadak atau bertahap? Progresif atau statis?
    • Unilateral/Bilateral: Satu atau kedua telinga?
    • Keluhan Penyerta: Tinnitus (telinga berdenging), vertigo (pusing berputar), otalgia (nyeri telinga), otorea (keluar cairan dari telinga), rasa penuh di telinga.
    • Riwayat Medis: Riwayat trauma kepala, infeksi telinga/sistemik (misalnya campak, gondongan), paparan bising, penggunaan obat ototoksik (aminoglikosida, diuretik loop), penyakit sistemik (diabetes, hipertensi).
    • Riwayat Keluarga: Adanya riwayat tuli pada anggota keluarga.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Inspeksi: Bentuk telinga luar, adanya deformitas, tanda inflamasi.
    • Palpasi: Nyeri tekan pada tragus atau mastoid.
    • Otoskopi: Evaluasi liang telinga (serumen prop, benda asing, inflamasi) dan membran timpani (perforasi, retraksi, bulging, cairan di telinga tengah, otitis media, timpanosklerosis).
    • Pemeriksaan Neurologis: Khususnya nervus kranialis, jika dicurigai tuli sentral atau neuroma akustik.

Pemeriksaan Penunjang

Untuk membedakan jenis dan derajat tuli, pemeriksaan penunjang sangat diperlukan.

  • Tes Garpu Tala: Merupakan pemeriksaan skrining cepat untuk membedakan tuli konduktif dan sensorineural.
    TesTuli KonduktifTuli SensorineuralNormal
    RinneNegatif (BC > AC)Positif (AC > BC)Positif (AC > BC)
    WeberLateralisasi ke telinga sakitLateralisasi ke telinga sehatTidak ada lateralisasi
    SchwabachMemanjang (lebih lama dari pemeriksa)Memendek (lebih singkat dari pemeriksa)Sama dengan pemeriksa
  • Audiometri Nada Murni (Pure Tone Audiometry/PTA):
    • Merupakan standar emas untuk mengukur ambang dengar pada berbagai frekuensi.
    • Membedakan tuli konduktif (gap antara ambang hantaran tulang dan udara), sensorineural (ambang hantaran tulang dan udara turun bersamaan), dan campuran.
  • Audiometri Tutur (Speech Audiometry):
    • Mengukur kemampuan pasien mendengar dan memahami kata-kata pada berbagai intensitas suara.
    • Memberikan informasi tentang kemampuan komunikasi fungsional.
  • Timpanometri dan Refleks Akustik:
    • Timpanometri: Mengevaluasi fungsi telinga tengah, mobilitas membran timpani, dan volume liang telinga. Pola timpanogram (tipe A, B, C) dapat mengindikasikan kondisi telinga tengah (misalnya efusi, perforasi, otosklerosis).
    • Refleks Akustik: Mengukur respons otot stapedius terhadap suara keras, memberikan informasi tentang integritas rantai osikula dan fungsi saraf auditori.
  • Otoacoustic Emissions (OAE) dan Auditory Brainstem Response (ABR):
    • Digunakan untuk skrining tuli pada bayi atau pasien yang tidak kooperatif.
    • OAE menilai fungsi sel rambut luar koklea.
    • ABR menilai respons listrik dari saraf pendengaran hingga batang otak.

Tatalaksana Umum

Tatalaksana tuli sangat bergantung pada etiologi, jenis, dan derajatnya.

  • Tuli Konduktif:
    • Seringkali dapat diobati secara medis atau bedah. Contoh: evakuasi serumen prop, antibiotik untuk otitis media, miringotomi dengan pemasangan timpanostomi tube, timpanoplasti untuk perforasi membran timpani, stapedektomi untuk otosklerosis.
  • Tuli Sensorineural:
    • Umumnya bersifat permanen. Penanganan berfokus pada rehabilitasi dan edukasi.
    • Alat Bantu Dengar (ABD): Memperkuat suara untuk pasien dengan tuli ringan hingga berat.
    • Implan Koklea: Untuk pasien dengan tuli sangat berat/profund yang tidak responsif terhadap ABD, dengan mengstimulasi langsung saraf auditori.
    • Terapi Wicara dan Auditori: Membantu pasien mengembangkan kemampuan komunikasi dan adaptasi terhadap gangguan pendengaran.
  • Tuli Campuran:
    • Kombinasi tatalaksana untuk komponen konduktif dan sensorineural.
  • Pencegahan:
    • Menghindari paparan bising berlebihan.
    • Penggunaan pelindung telinga di lingkungan bising.
    • Vaksinasi (misalnya campak, gondongan) untuk mencegah infeksi yang dapat menyebabkan tuli.
    • Manajemen penyakit kronis (diabetes, hipertensi).

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds