Keterampilan Prosedural pada Anak dan Dewasa

Materi pembelajaran Keterampilan Prosedural pada Anak dan Dewasa untuk mahasiswa kedokteran.

Pengantar

Keterampilan prosedural merupakan kompetensi esensial bagi tenaga kesehatan dalam menangani pasien, khususnya anak dan dewasa. Keterampilan ini mencakup pengambilan sampel darah, manajemen jalan napas, pemberian cairan, penanganan gizi, hingga prosedur bedah minor. Pemahaman mendalam tentang teknik, indikasi, dan pencegahan komplikasi akan memastikan perawatan pasien yang aman dan efektif.

Tes Rumple-Leed

Tes Rumple-Leed (juga dikenal sebagai tes kerentanan kapiler) digunakan untuk menilai fungsi koagulasi darah dan integritas vaskuler pasien. Pemeriksaan ini penting sebelum prosedur invasif untuk mengidentifikasi risiko perdarahan.

Prosedur tes:

  • Aplikasikan tekanan standar pada lengan atas menggunakan manset tensimeter dengan tekanan 40 mmHg
  • Pertahankan tekanan selama 5 menit
  • Lepaskan manset dan amati area lengan bawah
  • Hitung jumlah petechiae (bintik merah kecil) dalam lingkaran berdiameter 2,5 cm
  • Tes dianggap positif jika terdapat >10 petechiae, menunjukkan gangguan koagulasi

Hasil tes ini membantu mengidentifikasi trombositopenia atau disfungsi trombosit sebelum tindakan invasif dilakukan.

Manajemen Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

BBLR didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram. Kelompok bayi ini memerlukan pemantauan ketat karena rentan mengalami berbagai komplikasi metabolik dan termoregulasi.

Pemantauan Rutin

Lakukan pemantauan terhadap tiga parameter vital:

Suhu tubuh: Pertahankan suhu inti antara 36,5-37,5°C. BBLR memiliki permukaan luas relatif terhadap berat badan yang besar, sehingga mudah kehilangan panas. Gunakan peralatan pemanas seperti inkubator atau radiant warmer.

Pernapasan: Monitor frekuensi napas normal 40-60 kali per menit. Catat tanda-tanda distres pernapasan seperti takipnea, retraksi, atau grunting.

Kadar glukosa: Periksa glukosa darah dalam 30 menit pertama kehidupan, kemudian setiap 3-4 jam pada hari pertama. Kadar glukosa normalnya 40-150 mg/dL. Hipoglikemia (

Nutrisi

Kalkulasikan kebutuhan nutrisi berdasarkan berat badan:

  • Fase awal: 80 ml/kg/hari
  • Peningkatan bertahap: tambah 20 ml/kg/hari setiap kali makan
  • Target: 150-180 ml/kg/hari pada usia 10-14 hari

Berikan melalui oral, nasogastrik, atau intravena sesuai kondisi klinis dan kemampuan bayi menghisap.

Rekomendasi Pemberian Makanan

Bulan 0-6 (ASI Eksklusif): Berikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif tanpa tambahan makanan, minuman, atau suplementasi lain (kecuali vitamin, mineral, dan obat-obatan jika diperlukan). ASI mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang optimal.

Mulai Usia 6 Bulan (MPASI): Perkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI) dengan pendekatan bertahap:

  • Minggu 1-2: Berikan bubur beras atau tepung beras (tekstur halus) 1-2 sendok makan, 1-2 kali sehari
  • Minggu 3-4: Naikkan porsi menjadi 3-4 sendok makan, tambahkan sumber protein (hati, daging)
  • Bulan 2 MPASI: Tekstur menjadi lebih kasar, tingkatkan frekuensi menjadi 2 kali sehari
  • Bulan 3 MPASI ke depan: Berikan makanan lunak dengan potongan kecil, kombinasi karbohidrat-protein-lemak seimbang

Jenis makanan yang diperkenalkan pertama kali sebaiknya makanan dengan alergen rendah seperti beras, wortel, atau daging ayam, kemudian secara bertahap variasikan.

Penilaian dan Manajemen Gizi Buruk

Gizi buruk adalah kondisi kurang gizi kronis yang membahayakan kesehatan dan tumbuh kembang anak. Penanganan yang tepat memerlukan identifikasi penyebab dan intervensi nutrisi yang komprehensif.

Identifikasi Penyebab

Gizi buruk dapat disebabkan oleh faktor intake (asupan) rendah, malabsorpsi, atau infeksi kronis:

  • Asupan rendah: Kemiskinan, kurang pengetahuan nutrisi, keterbatasan akses makanan bergizi
  • Malabsorpsi: Diare kronis, penyakit celiac, tuberkulosis
  • Infeksi: Tuberkulosis, parasit usus, pneumonia rekuren, HIV

Manajemen Nutrisi

Fase stabilisasi (minggu 1-2):

  • Berikan energi moderat: 130-150 kcal/kg/hari
  • Protein: 1,5-2,5 g/kg/hari
  • Gunakan formula F-75 (untuk kasus berat) atau makanan lokal yang diperkaya

Fase transisi (minggu 2-4):

  • Naikkan energi bertahap menjadi 150-180 kcal/kg/hari
  • Gunakan formula F-100 atau makanan tinggi kalori-protein

Fase rehabilitasi:

  • Tingkatkan energi sesuai kebutuhan pertumbuhan
  • Tambahkan suplemen mikronutrien (vitamin A, D, zat besi, zinc)

Pantau pertumbuhan melalui kurva pertumbuhan dan catat asupan makanan harian untuk memastikan kepatuhan dan respons terapi.

Pengambilan Sampel Darah Vena dan Kapiler

Pengambilan sampel darah merupakan prosedur invasif yang sering dilakukan untuk diagnosis. Teknik yang tepat meminimalkan komplikasi dan memastikan kualitas sampel.

Pungsi Vena Perifer pada Anak

Pemilihan lokasi:

  • Pilih vena perifer pada ekstremitas distal untuk meminimalkan trauma dan memudahkan tekanan setelahnya
  • Lokasi prioritas: vena sefalika dan basilika (lengan), vena saphena magna (tungkai)
  • Hindari vena di dekat luka bakar, edema, atau bekas pungsi

Teknik aseptik:

  • Cuci tangan dan gunakan sarung tangan steril
  • Desinfeksi area kulit dengan alkohol 70% dalam gerakan melingkar dari tengah keluar, diamkan 30 detik
  • Pasang tourniquet 10-15 cm di atas lokasi pungsi untuk menonjolkan vena

Prosedur pungsi:

  • Gunakan jarum berukuran 23-25 G (gauge lebih besar meningkatkan hemolisis)
  • Tusukkan jarum dengan sudut 15-30° dengan bevel mengarah ke atas
  • Tarik plunger perlahan setelah darah mulai mengalir
  • Kumpulkan darah sesuai kebutuhan dalam tabung dengan aditif yang sesuai

Setelah pungsi:

  • Lepaskan tourniquet
  • Tekan area dengan kapas steril selama 2-3 menit
  • Pasang plester kompres, ajarkan pasien untuk tidak menekuk lengan

Finger Prick Kegawatdaruratan

Pengambilan sampel darah kapiler melalui tusukan jari (finger prick) digunakan untuk pemeriksaan cepat kadar glukosa atau nilai hemoglobin di gawat darurat.

Prosedur:

  • Bersihkan ujung jari (jari ke-4 atau ke-5) dengan alkohol 70%, diamkan sampai kering
  • Tusukkan lancet steril sekali pakai dengan kedalaman 1,5-2 mm pada bagian lateral (sisi) jari untuk menghindari luka dalam
  • Tekan jari lembut untuk mengeluarkan tetes darah pertama, buang (karena mengandung cairan interstitial)
  • Kumpulkan tetes darah berikutnya ke dalam strip atau tabung sampel

Lokasi lateral jari dipilih karena area ini lebih kaya vaskularisasi dan lebih sedikit ujung saraf dibanding ujung jari.

Manajemen Jalan Napas dan Resusitasi Jantung-Paru pada Anak

Penanganan tepat pada pasien dengan henti jantung atau henti napas dapat menyelamatkan nyawa. Anak memiliki karakteristik anatomi dan fisiologi berbeda dari dewasa yang harus dipertimbangkan.

Bantuan Hidup Dasar (BHD)

BHD mencakup tiga komponen utama: membuka jalan napas, memberikan napas bantuan, dan melakukan kompresi dada.

Langkah 1: Pastikan jalan napas terbuka

  • Letakkan anak dalam posisi terlentang di permukaan keras
  • Lakukan *head tilt-chin lift* : miringkan kepala ke belakang perlahan dan angkat dagu dengan dua jari
  • Keluarkan benda asing dari mulut jika ada (jangan telusuran buta)
  • Buka mulut dengan lembut

Langkah 2: Berikan napas bantuan

  • Berikan napas bantuan dengan volume 5-10 ml/kg per napas
  • Gunakan metode mouth-to-mouth atau mouth-to-nose atau ventilasi tas-masker
  • Amati pengembangan dada untuk memastikan napas mencapai paru
  • Frekuensi: berikan 1 napas setiap 3 detik (20 napas per menit) jika hanya napas bantuan

Langkah 3: Kompresi dada

  • Lakukan kompresi dada dengan frekuensi 100-120 kali per menit
  • Kedalaman kompresi: tekan dada hingga 1/3 kedalaman dari anterior ke posterior
  • Tangan: letakkan 1-2 tangan tergantung ukuran anak (gunakan 1-2 jari untuk bayi)
  • Posisi: tekan pada garis mid-axilaris di setengah bawah sternum

Resusitasi Jantung-Paru (RJP)

RJP menggabungkan kompresi dada dan napas bantuan dalam rasio tertentu.

Protokol RJP pada anak:

\text{Rasio kompresi : napas = 30:2}

  • Lakukan 30 kompresi dada dengan kecepatan 100-120 per menit
  • Setelah 30 kompresi, berikan 2 napas bantuan (masing-masing napas 1 detik)
  • Durasi kompresi: 2 detik per kompresi (tidak termasuk waktu relaksasi)
  • Jangan hentikan kompresi untuk memeriksa nadi (maksimal 10 detik untuk pemeriksaan)
  • Lanjutkan RJP sampai tanda-tanda kehidupan kembali atau berhenti karena keputusan klinis

Evaluasi respons:

  • Periksa responsivitas: sentuh dan panggil anak
  • Jika tidak responsif, periksa pernapasan normal dalam 10 detik
  • Jika tidak ada napas atau pernapasan abnormal (gasping), mulai RJP segera

Kecepatan dan irama yang tepat sangat penting—gunakan metronom atau nyanyikan lagu dengan kecepatan 100-120 bpm sambil melakukan kompresi.

Penilaian dan Manajemen Dehidrasi pada Anak

Dehidrasi adalah kehilangan cairan tubuh yang mengakibatkan penurunan volume intravaskular. Penggolongan derajat dehidrasi menentukan pendekatan manajemen.

Penilaian Status Dehidrasi

Klasifikasikan dehidrasi berdasarkan tanda-tanda klinis menjadi tiga kategori:

Dehidrasi Ringan (3-5% kehilangan cairan):

  • Turgor kulit normal atau sedikit menurun
  • Mata normal (tidak cekung)
  • Selaput lendir lembab
  • Nadi normal, tekanan darah normal
  • Pernapasan normal

Dehidrasi Sedang (6-9% kehilangan cairan):

  • Turgor kulit menurun terasa (kulit kembali lambat)
  • Mata agak cekung
  • Selaput lendir kering
  • Nadi cepat (takikardi)
  • Frekuensi napas meningkat
  • Fontanel anterior cekung pada bayi
  • Produksi urin menurun

Dehidrasi Berat (≥10% kehilangan cairan):

  • Turgor kulit sangat menurun (kulit kembali >2 detik)
  • Mata cekung dalam
  • Selaput lendir sangat kering
  • Nadi sangat cepat dan lemah
  • Frekuensi napas cepat (pernapasan Kusmaul jika asidosis)
  • Fontanel anterior sangat cekung
  • Output urin minimal atau tidak ada
  • Letargi atau tidak sadar
  • Tekanan darah menurun (shock)

Penilaian dapat dibantu dengan skala derajat dehidrasi terstandar yang menggabungkan beberapa tanda klinis untuk meningkatkan akurasi.

Resusitasi dan Manajemen Cairan pada Anak

Manajemen cairan pada anak yang dehidrasi mencakup perhitungan kebutuhan, pemberian bolus, dan pemeliharaan cairan.

Perhitungan Kebutuhan Cairan

Kebutuhan pemeliharaan (maintenance) harian:

Gunakan rumus Holliday-Segar:

\text{Kebutuhan harian} = 100 \text{ ml/kg untuk 10 kg pertama} + 50 \text{ ml/kg untuk 10-20 kg} + 20 \text{ ml/kg untuk >20 kg}

Contoh: Anak 15 kg membutuhkan = (100 × 10) + (50 × 5) = 1.500 ml/24 jam

Penggantian cairan yang hilang: Tambahkan volume cairan yang hilang akibat dehidrasi berdasarkan derajat dehidrasi:

  • Dehidrasi ringan: 3-5% × berat badan (gram) = kebutuhan penggantian (ml)
  • Dehidrasi sedang: 6-9% × berat badan
  • Dehidrasi berat: ≥10% × berat badan

Pemberian Cairan

Untuk dehidrasi ringan-sedang (rehydration oral):

  • Berikan cairan oral berupa oralit atau minuman elektrolit
  • Volume: 50-100 ml/kg selama 4 jam untuk dehidrasi sedang
  • Jika muntah, lanjutkan dengan volume lebih kecil (5-10 ml) setiap 10-15 menit

Untuk dehidrasi berat (resusitasi intravena):

  • Berikan bolus kristaloid 20 ml/kg melalui IV line yang besar
  • Gunakan normal saline (NaCl 0,9%) atau Ringer laktat
  • Berikan cepat dalam 15-30 menit, dapat diulang sampai 40-60 ml/kg jika masih ada tanda shock
  • Monitor respons: nadi, tekanan darah, perfusi perifer, produksi urin
  • Setelah stabil, ganti dengan cairan pemeliharaan ditambah penggantian defisit yang diperhitungkan

Pemilihan jenis cairan:

  • Kristaloid: normal saline atau Ringer laktat (pilihan pertama)
  • Koloid: albumin atau plasma (jika tersedia dan diperlukan pada kasus khusus)
  • Hindari hipotonis (dextrose 5% saja) pada resusitasi awal

Monitoring yang ketat terhadap intake-output serta status hidrasi pasien sangat penting untuk menyesuaikan pemberian cairan.

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds