Keratitis Spesifik: Jamur, Acanthamoeba, dan Exposure

Keratitis bukan cuma bakteri atau virus, lho! Ada juga keratitis jamur, Acanthamoeba, dan exposure yang punya ciri khas dan penanganan berbeda. Jangan sampai salah diagnosis dan tatalaksana yang tepat untuk menyelamatkan penglihatan pasien. Yuk kuasai perbedaan pentingnya untuk UKMPPD!

1. Keratitis Jamur (Fungal Keratitis)

Keratitis Jamur adalah peradangan kornea yang disebabkan oleh infeksi jamur. Kondisi ini seringkali serius dan memerlukan penanganan cepat serta tepat.

  • Etiologi & Faktor Risiko:
    • Trauma mata, terutama dengan bahan organik (ranting pohon, daun, tanah).
    • Penggunaan lensa kontak (terutama jika sanitasi buruk atau penggunaan jangka panjang).
    • Penggunaan kortikosteroid topikal jangka panjang.
    • Imunosupresi.
    • Agen penyebab umum: Fusarium, Aspergillus (filamen), dan Candida (ragi).
  • Patofisiologi: Jamur menginvasi stroma kornea setelah adanya kerusakan epitel, memicu respons inflamasi. Enzim proteolitik yang dihasilkan jamur dapat merusak jaringan kornea lebih lanjut.
  • Manifestasi Klinis:
    • Nyeri mata, mata merah (red eye), fotofobia, penurunan visus.
    • Ulkus kornea berwarna abu-abu keputihan dengan batas yang khas berbulu (feathery margins).
    • Lesi satelit di sekitar ulkus utama.
    • Infiltrat endotelial atau plak endotel.
    • Hipopion (kumpulan sel inflamasi di bilik mata depan).
    • Cincin endotel (endothelial ring) dapat ditemukan pada kasus berat.
  • Penegakan Diagnosis & Pemeriksaan Penunjang:
    • Anamnesis: Riwayat trauma mata dengan bahan organik atau penggunaan lensa kontak.
    • Pemeriksaan Fisik: Slit-lamp untuk melihat karakteristik ulkus.
    • Kerokan Kornea: Sampel dikerok dari dasar dan tepi ulkus untuk pemeriksaan mikroskopis langsung (KOH, Giemsa, Gram) dan kultur (Sabouraud Dextrose Agar).
    • Biopsi Kornea: Jika diagnosis sulit ditegakkan.
  • Tatalaksana:
    • Antifungal Topikal:
      • Natamycin 5% (untuk jamur filamen) setiap 1-2 jam.
      • Voriconazole 1% atau Amphotericin B 0.15% (terutama untuk Candida atau jamur filamen yang resisten).
    • Antifungal Sistemik: Jika ada keterlibatan sklera, invasi ke bilik mata depan, atau ulkus sangat besar (misal: Voriconazole, Fluconazole).
    • Siklopegik: Untuk mengurangi nyeri dan mencegah sinekia posterior.
    • Debridemen: Untuk mengangkat jaringan nekrotik.
    • Keratoplasti (Transplantasi Kornea): Pada kasus yang tidak responsif atau perforasi.

2. Keratitis Acanthamoeba

Keratitis Acanthamoeba adalah infeksi kornea yang disebabkan oleh protozoa Acanthamoeba. Kondisi ini jarang namun sangat serius, seringkali salah didiagnosis, dan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen.

  • Etiologi & Faktor Risiko:
    • Penggunaan lensa kontak (faktor risiko paling dominan), terutama saat berenang, mandi, atau membersihkan lensa dengan air keran/non-steril.
    • Sanitasi lensa kontak yang buruk.
    • Trauma mata ringan.
    • Protozoa ini ditemukan luas di air, tanah, dan udara.
  • Patofisiologi: Acanthamoeba (dalam bentuk trofozoit atau kista) menempel pada epitel kornea yang rusak, menginvasi stroma, dan memicu respons inflamasi. Kemampuan membentuk kista membuatnya resisten terhadap banyak agen antimikroba dan kondisi lingkungan.
  • Manifestasi Klinis:
    • Nyeri hebat yang tidak proporsional dengan temuan klinis.
    • Mata merah, fotofobia, penurunan visus, sensasi benda asing.
    • Tahap awal: Ulkus epitelial, pseudodendritik (mirip herpes simpleks keratitis).
    • Tahap lanjut: Infiltrat berbentuk cincin (ring infiltrate) di stroma kornea, merupakan tanda patognomonik.
    • Perineuritis radial (infiltrat di sekitar saraf kornea).
    • Peradangan sklera (skleritis) dapat terjadi.
  • Penegakan Diagnosis & Pemeriksaan Penunjang:
    • Anamnesis: Riwayat penggunaan lensa kontak dan nyeri hebat.
    • Pemeriksaan Fisik: Slit-lamp untuk melihat karakteristik infiltrat.
    • Kerokan Kornea: Sampel dikerok untuk mikroskopi langsung (Giemsa, Calcofluor white, akridin oranye) atau kultur pada non-nutrient agar dengan bakteri E. coli sebagai makanan.
    • Biopsi Kornea: Jika diagnosis sulit.
    • PCR: Untuk deteksi DNA Acanthamoeba.
    • In Vivo Confocal Microscopy: Dapat melihat kista Acanthamoeba secara langsung.
  • Tatalaksana:
    • Anti-amoeba Topikal Intensif: Terapi harus dimulai sedini mungkin dan sangat intensif.
      • Biguanida: Polyhexamethylene biguanide (PHMB) 0.02% atau Chlorhexidine 0.02%.
      • Diamidin: Propamidine isethionate 0.1% (Brolene) atau Hexamidine 0.1%.
      • Seringkali kombinasi dua agen ini diberikan setiap jam pada fase akut.
    • Siklopegik: Untuk mengurangi nyeri dan mencegah sinekia.
    • Terapi Sistemik: Jarang digunakan, kecuali ada keterlibatan sklera.
    • Debridemen: Untuk mengurangi beban parasit.
    • Keratoplasti: Dilakukan setelah infeksi terkontrol, karena risiko kekambuhan tinggi jika dilakukan saat infeksi aktif.

3. Keratitis Exposure

Keratitis Exposure adalah peradangan kornea non-infeksi yang disebabkan oleh paparan kornea yang tidak adekuat terhadap lingkungan, mengakibatkan kekeringan dan kerusakan epitel.

  • Etiologi & Faktor Risiko:
    • Lagoftalmos: Ketidakmampuan kelopak mata untuk menutup sempurna. Ini bisa disebabkan oleh:
      • Paralisis saraf fasialis (N. VII) seperti pada Bell's palsy, stroke, tumor.
      • Proptosis berat (misal: Graves' ophthalmopathy).
      • Ektropion (kelopak mata bawah melipat keluar).
      • Bekas luka pasca trauma atau operasi kelopak mata.
    • Penurunan refleks berkedip: Pada pasien koma, anestesi umum, atau cedera otak.
    • Defisiensi mukus atau air mata: Menyebabkan ketidakstabilan lapisan air mata.
  • Patofisiologi: Kegagalan penutupan kelopak mata menyebabkan area kornea terpapar terus-menerus ke udara, meningkatkan evaporasi air mata secara berlebihan. Hal ini mengganggu lapisan air mata (tear film), menyebabkan kekeringan, kerusakan sel epitel kornea, dan rentan terhadap trauma mikro serta infeksi sekunder.
  • Manifestasi Klinis:
    • Sensasi benda asing, mata kering, mata merah (red eye), fotofobia, nyeri, penurunan visus.
    • Punctate Epithelial Erosions (PEE) pada area kornea yang terpapar, terutama bagian inferior.
    • Ulkus kornea, infiltrat stromal, atau bahkan perforasi jika parah dan tidak ditangani.
    • Biasanya unilateral jika disebabkan oleh paralisis N. VII, bilateral pada proptosis atau koma.
  • Penegakan Diagnosis & Pemeriksaan Penunjang:
    • Anamnesis: Riwayat penyakit dasar yang menyebabkan lagoftalmos atau penurunan refleks berkedip.
    • Pemeriksaan Fisik:
      • Evaluasi penutupan kelopak mata (lengkap atau tidak).
      • Pemeriksaan Bell's phenomenon (pergerakan bola mata ke atas saat mencoba menutup mata).
      • Slit-lamp untuk melihat kerusakan epitel kornea.
    • Fluorescein Staining: Untuk melihat PEE atau ulkus kornea.
    • Schirmer Test: Untuk menilai produksi air mata (meskipun penyebab utama adalah evaporasi, bukan selalu defisiensi produksi).
  • Tatalaksana:
    • Lubrikasi Intensif:
      • Air mata buatan bebas pengawet setiap 1-2 jam.
      • Salep mata pada malam hari.
    • Penutupan Kelopak Mata:
      • Taping kelopak mata (sementara).
      • Moisture chamber (kacamata pelindung kelembaban).
      • Tarsorafi: Penutupan sebagian kelopak mata dengan jahitan (prosedur bedah sementara/permanen).
    • Atasi Penyebab Dasar:
      • Penanganan Bell's palsy (kortikosteroid, fisioterapi).
      • Dekompensasi orbital pada Graves' ophthalmopathy.
      • Koreksi ektropion atau kelainan kelopak mata lainnya.
    • Lensa Kontak Terapeutik (Bandage Contact Lens): Untuk melindungi permukaan kornea.
    • Antiobiotik Topikal: Jika ada infeksi sekunder.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds