Keratitis Acanthamoeba adalah infeksi kornea yang disebabkan oleh protozoa Acanthamoeba. Kondisi ini jarang namun sangat serius, seringkali salah didiagnosis, dan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen.
- Etiologi & Faktor Risiko:
- Penggunaan lensa kontak (faktor risiko paling dominan), terutama saat berenang, mandi, atau membersihkan lensa dengan air keran/non-steril.
- Sanitasi lensa kontak yang buruk.
- Trauma mata ringan.
- Protozoa ini ditemukan luas di air, tanah, dan udara.
- Patofisiologi: Acanthamoeba (dalam bentuk trofozoit atau kista) menempel pada epitel kornea yang rusak, menginvasi stroma, dan memicu respons inflamasi. Kemampuan membentuk kista membuatnya resisten terhadap banyak agen antimikroba dan kondisi lingkungan.
- Manifestasi Klinis:
- Nyeri hebat yang tidak proporsional dengan temuan klinis.
- Mata merah, fotofobia, penurunan visus, sensasi benda asing.
- Tahap awal: Ulkus epitelial, pseudodendritik (mirip herpes simpleks keratitis).
- Tahap lanjut: Infiltrat berbentuk cincin (ring infiltrate) di stroma kornea, merupakan tanda patognomonik.
- Perineuritis radial (infiltrat di sekitar saraf kornea).
- Peradangan sklera (skleritis) dapat terjadi.
- Penegakan Diagnosis & Pemeriksaan Penunjang:
- Anamnesis: Riwayat penggunaan lensa kontak dan nyeri hebat.
- Pemeriksaan Fisik: Slit-lamp untuk melihat karakteristik infiltrat.
- Kerokan Kornea: Sampel dikerok untuk mikroskopi langsung (Giemsa, Calcofluor white, akridin oranye) atau kultur pada non-nutrient agar dengan bakteri E. coli sebagai makanan.
- Biopsi Kornea: Jika diagnosis sulit.
- PCR: Untuk deteksi DNA Acanthamoeba.
- In Vivo Confocal Microscopy: Dapat melihat kista Acanthamoeba secara langsung.
- Tatalaksana:
- Anti-amoeba Topikal Intensif: Terapi harus dimulai sedini mungkin dan sangat intensif.
- Biguanida: Polyhexamethylene biguanide (PHMB) 0.02% atau Chlorhexidine 0.02%.
- Diamidin: Propamidine isethionate 0.1% (Brolene) atau Hexamidine 0.1%.
- Seringkali kombinasi dua agen ini diberikan setiap jam pada fase akut.
- Siklopegik: Untuk mengurangi nyeri dan mencegah sinekia.
- Terapi Sistemik: Jarang digunakan, kecuali ada keterlibatan sklera.
- Debridemen: Untuk mengurangi beban parasit.
- Keratoplasti: Dilakukan setelah infeksi terkontrol, karena risiko kekambuhan tinggi jika dilakukan saat infeksi aktif.