Keratitis: Mengenal Etiologi dan Pendekatan Tatalaksana

Keratitis, peradangan kornea yang bisa mengancam penglihatan, seringkali menjadi momok di UKMPPD! Memahami perbedaan etiologinya adalah kunci untuk menentukan tatalaksana yang tepat dan mencegah komplikasi serius. Yuk, kita bedah 5 etiologi utama keratitis, karakteristiknya, dan bagaimana pendekatannya agar kamu siap menghadapi soal-soal sulit!

Definisi

Keratitis adalah kondisi peradangan pada kornea mata, lapisan terluar transparan yang melindungi bagian depan mata. Peradangan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik infeksius maupun non-infeksius, dan berpotensi menyebabkan penurunan tajam penglihatan permanen jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Keratitis merupakan kegawatdaruratan oftalmologi yang memerlukan diagnosis cepat dan tatalaksana agresif untuk mencegah komplikasi serius seperti perforasi kornea, endoftalmitis, hingga kebutaan.

Etiologi & Karakteristik Kunci

Membedakan etiologi keratitis adalah langkah krusial dalam penegakan diagnosis dan penentuan tatalaksana. Berikut adalah perbandingan 5 etiologi keratitis yang sering ditemukan:

EtiologiFaktor Risiko KunciManifestasi Klinis KhasPemeriksaan Penunjang (Clue)Tatalaksana Awal (Prinsip)
Bakterial
  • Penggunaan lensa kontak (terutama soft lens)
  • Trauma mata
  • Penyakit permukaan mata (mis. dry eye, blefaritis)
  • Imunosupresi
  • Nyeri akut, fotofobia, mata merah
  • Penurunan visus mendadak
  • Infiltrat kornea abu-abu-putih, berbatas tegas, sering dengan defek epitel
  • Hipopion (sering)
  • Kerokan kornea (Gram stain, kultur bakteri)
  • Infiltrat padat, sering di sentral
  • Antibiotik topikal spektrum luas (fluoroquinolone generasi 4) setiap jam
  • Siklopegik (mis. atropin 1%)
Viral (Herpes Simplex Virus/HSV)
  • Riwayat herpes labialis
  • Trauma/stres
  • Penggunaan steroid topikal (bisa memicu reaktivasi)
  • Nyeri sedang, fotofobia, iritasi
  • Lesi dendritik (cabang pohon) pada epitel kornea (dengan fluorescein)
  • Sensasi kornea menurun
  • Kadang disertai vesikel periorbital
  • Fluorescein stain (melihat lesi dendritik)
  • PCR aqueous humor (jarang)
  • Antiviral topikal (acyclovir, ganciclovir) 5x/hari
  • Antiviral oral (jika berat/rekuren)
  • Hindari steroid topikal pada keratitis epitelial
Fungal
  • Trauma mata dengan bahan organik (tumbuhan, kayu)
  • Penggunaan lensa kontak
  • Penggunaan steroid topikal jangka panjang
  • Imunosupresi
  • Nyeri bervariasi, onset indolent (lambat)
  • Infiltrat keabu-abuan dengan batas tidak jelas (feathery edges)
  • Lesi satelit di sekitarnya
  • Endotel plak (jarang)
  • Kerokan kornea (KOH, Giemsa, kultur jamur)
  • Infiltrat dengan "feathery edges"
  • Antifungal topikal (natamycin 5%, amphotericin B 0.15%) setiap jam
  • Antifungal oral (jika berat)
Acanthamoeba
  • Penggunaan lensa kontak (terutama saat berenang/mandi)
  • Tidak menjaga kebersihan lensa kontak/cairan
  • Nyeri hebat, tidak proporsional dengan temuan klinis
  • Fotofobia, mata merah
  • Infiltrat perineural (radialis) pada tahap awal
  • Kemudian membentuk ring infiltrate (cincin)
  • Sering salah diagnosis awal
  • Kerokan kornea (Giemsa, Calcofluor white, kultur non-nutrient agar)
  • Infiltrat perineural atau ring infiltrate
  • Anti-amoeba topikal (polyhexamethylene biguanide/PHMB 0.02%, chlorhexidine 0.02%) setiap jam
  • Siklopegik
  • Tatalaksana jangka panjang (minggu-bulan)
Non-Infeksius (Exposure/Neurotrophic)
  • Lagoftalmus (paralisis N.VII, exophthalmos)
  • Dry eye berat
  • Riwayat operasi saraf trigeminal/herpes zoster oftalmikus
  • Diabetes, stroke
  • Mata merah, sensasi benda asing
  • Penurunan sensasi kornea (pada neurotrophic)
  • Defek epitel persisten
  • Edema kornea, ulserasi steril
  • Tidak ada infiltrat aktif (pada awal)
  • Tes sensasi kornea (kapas lidi)
  • Pewarnaan fluorescein (melihat defek epitel)
  • Lubrikan topikal (air mata buatan bebas pengawet)
  • Salep mata/gel saat tidur
  • Tarsorafi (pada lagoftalmus berat)
  • Corticosteroid topikal dosis rendah (hati-hati, risiko infeksi sekunder)
  • Cenagermin (untuk neurotrophic keratitis)

Prinsip Tatalaksana Umum

Terlepas dari etiologinya, beberapa prinsip tatalaksana umum pada keratitis meliputi:

  • Identifikasi dan eliminasi penyebab: Penting untuk mengetahui etiologi agar terapi spesifik dapat diberikan.
  • Terapi Antimikroba/Antiviral/Antifungal/Anti-amoeba spesifik: Diberikan sesuai hasil kerokan kornea atau kecurigaan klinis yang kuat.
  • Siklopegik: Untuk mengurangi nyeri akibat spasme siliar dan mencegah sinekia posterior. Contoh: Atropin 1%, Siklopentolat 1%.
  • Manajemen nyeri: Analgesik oral (mis. parasetamol, NSAID) jika diperlukan.
  • Edukasi pasien: Penting mengenai kepatuhan pengobatan, kebersihan, dan tanda bahaya.
  • Follow-up ketat: Terutama pada fase akut, pasien perlu dipantau ketat untuk menilai respons terapi dan mencegah komplikasi.

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan adekuat, keratitis dapat menyebabkan komplikasi serius, antara lain:

  • Ulkus kornea persisten: Luka pada kornea yang sulit sembuh.
  • Sikatrik kornea: Jaringan parut yang dapat mengganggu tajam penglihatan.
  • Perforasi kornea: Robeknya kornea, berpotensi menyebabkan prolaps iris atau endoftalmitis.
  • Endoftalmitis: Infeksi intraokular yang parah.
  • Glaucoma sekunder: Peningkatan tekanan intraokular.
  • Kebutaan: Komplikasi paling berat.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds