Berbagai jenis bakteri dapat menyebabkan keratitis, tergantung pada faktor risiko dan kondisi pasien. Berikut adalah bakteri yang paling sering ditemukan:
Beberapa kondisi dan kebiasaan dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami keratitis bakteri:
Normalnya, epitel kornea berfungsi sebagai barier protektif terhadap infeksi. Keratitis bakteri terjadi ketika terdapat kerusakan pada epitel kornea, memungkinkan bakteri untuk menempel dan menginvasi stroma kornea.
Invasi bakteri memicu respons inflamasi yang melibatkan sel-sel imun dan enzim proteolitik. Proses ini menyebabkan nekrosis jaringan kornea, pembentukan infiltrat, dan ulkus kornea. Jika tidak ditangani, ulkus dapat meluas dan mendalam hingga menyebabkan perforasi kornea, endoftalmitis, atau pembentukan jaringan parut permanen yang mengganggu penglihatan.
Gejala dan tanda keratitis bakteri dapat bervariasi, namun umumnya meliputi:
Diagnosis keratitis bakteri ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang:
Penting untuk membedakan keratitis bakteri dari jenis keratitis lainnya karena tatalaksananya berbeda. Berikut adalah diagnosis banding utama:
| Kondisi | Ciri Khas | Pemeriksaan Penunjang |
|---|---|---|
| Keratitis Jamur | Onset lebih lambat, nyeri tidak proporsional, lesi 'feathery' atau berbatas tidak tegas, lesi satelit. Riwayat trauma dengan materi organik. | Kerokan kornea (KOH, kultur Sabouraud). |
| Keratitis Virus (Herpes Simplex) | Lesi dendritik atau geografik dengan pewarnaan fluorescein, hipoestesia kornea. Riwayat lesi herpes sebelumnya. | Pewarnaan fluorescein, PCR. |
| Keratitis Acanthamoeba | Nyeri hebat yang tidak proporsional dengan temuan klinis, infiltrat perineural, infiltrat cincin. Riwayat penggunaan lensa kontak dengan air keran. | Kerokan kornea (pewarnaan Giemsa/Calcofluor white), kultur non-nutrien agar. |
| Ulkus Kornea Steril | Tidak ada invasi mikroorganisme, sering terkait penyakit autoimun atau toksisitas obat. Infiltrat tanpa defek epitel aktif. | Kultur negatif. |
Tatalaksana keratitis bakteri bersifat emergensi dan harus dimulai sesegera mungkin setelah diagnosis ditegakkan, idealnya setelah pengambilan sampel kultur.
Jika tidak ditangani dengan baik atau terlambat, keratitis bakteri dapat menyebabkan komplikasi serius:
Prognosis keratitis bakteri sangat bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk virulensi organisme penyebab, ukuran dan kedalaman ulkus, respons terhadap pengobatan, dan ada tidaknya komplikasi. Penanganan dini dan agresif umumnya memberikan prognosis yang baik, namun kasus yang parah atau terlambat ditangani dapat menyebabkan kebutaan parsial atau total.
Edukasi pasien sangat penting untuk pencegahan dan manajemen keratitis bakteri:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi