Keratitis Bakteri

Keratitis bakteri adalah peradangan kornea akibat infeksi bakteri yang bisa menyebabkan nyeri hebat, penurunan visus, bahkan kebutaan jika tidak ditangani segera. Kondisi ini seringkali menjadi momok bagi pengguna lensa kontak dan penderita trauma mata. Loh, jangan sampai salah diagnosis dan tatalaksana ya! Yuk, pelajari selengkapnya untuk persiapan UKMPPD dan praktik klinis Anda!

Definisi

Keratitis bakteri adalah kondisi peradangan pada kornea mata yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan oftalmologi karena dapat menyebabkan kerusakan kornea permanen dan kehilangan penglihatan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Etiologi

Berbagai jenis bakteri dapat menyebabkan keratitis, tergantung pada faktor risiko dan kondisi pasien. Berikut adalah bakteri yang paling sering ditemukan:

  • Bakteri Gram Positif:
    • Staphylococcus aureus (paling sering, terutama pada trauma atau penyakit permukaan okular)
    • Staphylococcus epidermidis
    • Streptococcus pneumoniae
  • Bakteri Gram Negatif:
    • Pseudomonas aeruginosa (sangat agresif, sering pada pengguna lensa kontak dan dapat menyebabkan perforasi cepat)
    • Klebsiella spp.
    • Enterobacter spp.
    • Serratia marcescens

Faktor Risiko

Beberapa kondisi dan kebiasaan dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami keratitis bakteri:

  • Penggunaan Lensa Kontak: Merupakan faktor risiko paling umum, terutama pada penggunaan extended wear, kebersihan yang buruk, atau tidur dengan lensa kontak.
  • Trauma Kornea: Abrasi, benda asing, atau luka pada kornea.
  • Penyakit Permukaan Okular: Mata kering (dry eye syndrome), blefaritis, trikiasis, lagoftalmos, bulosa keratopati, distrofia kornea.
  • Imunosupresi: Baik sistemik (misalnya diabetes mellitus, malnutrisi, HIV/AIDS) maupun topikal (penggunaan kortikosteroid topikal jangka panjang).
  • Pembedahan Mata Sebelumnya: Terutama setelah prosedur bedah refraktif atau katarak.
  • Defisiensi Vitamin A.

Patofisiologi

Normalnya, epitel kornea berfungsi sebagai barier protektif terhadap infeksi. Keratitis bakteri terjadi ketika terdapat kerusakan pada epitel kornea, memungkinkan bakteri untuk menempel dan menginvasi stroma kornea.

Invasi bakteri memicu respons inflamasi yang melibatkan sel-sel imun dan enzim proteolitik. Proses ini menyebabkan nekrosis jaringan kornea, pembentukan infiltrat, dan ulkus kornea. Jika tidak ditangani, ulkus dapat meluas dan mendalam hingga menyebabkan perforasi kornea, endoftalmitis, atau pembentukan jaringan parut permanen yang mengganggu penglihatan.

Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda keratitis bakteri dapat bervariasi, namun umumnya meliputi:

  • Gejala:
    • Nyeri mata hebat dan mendadak.
    • Mata merah (injeksi siliar/perikornea).
    • Fotofobia (sensitivitas terhadap cahaya).
    • Penurunan visus yang cepat.
    • Sekret purulen (kotoran mata bernanah).
    • Sensasi benda asing.
  • Tanda (Pemeriksaan Slit Lamp):
    • Ulkus Kornea: Defek epitel kornea yang dapat terlihat dengan pewarnaan fluorescein. Ulkus biasanya berwarna putih keabu-abuan, berbatas tegas, dengan infiltrat stroma di sekitarnya.
    • Infiltrat Stroma: Area opak berwarna putih kekuningan di stroma kornea.
    • Edema Kornea: Pembengkakan kornea.
    • Hipopion: Akumulasi sel-sel inflamasi (nanah) di bilik mata depan (pada kasus berat).
    • Reaksi bilik mata depan (sel dan flare).
    • Injeksi konjungtiva siliar.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis keratitis bakteri ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang:

  • Anamnesis: Menanyakan riwayat penggunaan lensa kontak, trauma mata, riwayat penyakit sistemik (DM), atau penggunaan obat-obatan.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Pemeriksaan visus: Seringkali menurun.
    • Pemeriksaan slit lamp: Untuk melihat ulkus kornea, infiltrat, edema, hipopion, dan reaksi bilik mata depan.
    • Pewarnaan Fluorescein: Untuk mengidentifikasi defek epitel dan ulkus kornea.
  • Pemeriksaan Penunjang (Gold Standard):
    • Kerokan Kornea untuk Kultur dan Sensitivitas: Sampel kerokan dari dasar dan tepi ulkus kornea diwarnai Gram dan ditanam pada media kultur (agar darah, agar cokelat, agar Sabouraud). Ini esensial untuk mengidentifikasi bakteri penyebab dan menentukan antibiotik yang sensitif. Idealnya dilakukan sebelum pemberian antibiotik.

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan keratitis bakteri dari jenis keratitis lainnya karena tatalaksananya berbeda. Berikut adalah diagnosis banding utama:

KondisiCiri KhasPemeriksaan Penunjang
Keratitis JamurOnset lebih lambat, nyeri tidak proporsional, lesi 'feathery' atau berbatas tidak tegas, lesi satelit. Riwayat trauma dengan materi organik.Kerokan kornea (KOH, kultur Sabouraud).
Keratitis Virus (Herpes Simplex)Lesi dendritik atau geografik dengan pewarnaan fluorescein, hipoestesia kornea. Riwayat lesi herpes sebelumnya.Pewarnaan fluorescein, PCR.
Keratitis AcanthamoebaNyeri hebat yang tidak proporsional dengan temuan klinis, infiltrat perineural, infiltrat cincin. Riwayat penggunaan lensa kontak dengan air keran.Kerokan kornea (pewarnaan Giemsa/Calcofluor white), kultur non-nutrien agar.
Ulkus Kornea SterilTidak ada invasi mikroorganisme, sering terkait penyakit autoimun atau toksisitas obat. Infiltrat tanpa defek epitel aktif.Kultur negatif.

Tatalaksana

Tatalaksana keratitis bakteri bersifat emergensi dan harus dimulai sesegera mungkin setelah diagnosis ditegakkan, idealnya setelah pengambilan sampel kultur.

Farmakologis:

  • Antibiotik Topikal Spektrum Luas:
    • Monoterapi: Fluoroquinolone generasi ke-4 (misalnya Moxifloxacin 0.5%, Gatifloxacin 0.3%) setiap jam selama 24-48 jam pertama, lalu diturunkan frekuensinya.
    • Terapi Kombinasi (untuk kasus berat/berisiko): Fortified Cefazolin 5% (untuk Gram positif) dan Fortified Gentamicin 1.3% atau Tobramycin 1.3% (untuk Gram negatif) secara bergantian setiap 30 menit.
    • Dosis dan frekuensi disesuaikan berdasarkan respons klinis dan hasil kultur/sensitivitas.
  • Siklopegik: (misalnya Atropin 1% atau Siklopentolat 1%) 2-3 kali sehari untuk mengurangi nyeri akibat spasme siliar dan mencegah sinekia posterior.
  • Kortikosteroid Topikal: Kontroversial dan hanya dipertimbangkan setelah infeksi terkontrol dan di bawah pengawasan ketat dokter spesialis mata, untuk mengurangi inflamasi dan jaringan parut. Tidak boleh diberikan pada fase akut infeksi.
  • Antibiotik Sistemik: Jarang diperlukan kecuali ada ancaman perforasi, skleritis, atau endoftalmitis.

Non-Farmakologis & Tindakan:

  • Hentikan Penggunaan Lensa Kontak: Segera dan secara permanen sampai kondisi sembuh total.
  • Debridement Ulkus: Kadang dilakukan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan membantu penetrasi antibiotik.
  • Keratoplasti (Transplantasi Kornea): Diperlukan jika terjadi perforasi kornea, jaringan parut luas yang mengganggu penglihatan, atau keratitis refrakter terhadap pengobatan.

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik atau terlambat, keratitis bakteri dapat menyebabkan komplikasi serius:

  • Jaringan Parut Kornea (Leucoma): Dapat menyebabkan penurunan visus permanen.
  • Penurunan Visus Permanen.
  • Perforasi Kornea: Robeknya kornea, merupakan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan segera.
  • Endoftalmitis: Infeksi intraokular yang serius dan dapat menyebabkan kehilangan mata.
  • Glaucoma Sekunder.
  • Abses Kornea.
  • Sinekhia Posterior.

Prognosis

Prognosis keratitis bakteri sangat bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk virulensi organisme penyebab, ukuran dan kedalaman ulkus, respons terhadap pengobatan, dan ada tidaknya komplikasi. Penanganan dini dan agresif umumnya memberikan prognosis yang baik, namun kasus yang parah atau terlambat ditangani dapat menyebabkan kebutaan parsial atau total.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk pencegahan dan manajemen keratitis bakteri:

  • Higiene Lensa Kontak: Edukasi pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh lensa, membersihkan lensa dengan cairan khusus, dan mengganti tempat lensa secara teratur.
  • Hindari Tidur dengan Lensa Kontak.
  • Segera Cari Pertolongan Medis: Edukasi pasien untuk segera ke dokter jika mengalami gejala mata merah, nyeri, fotofobia, atau penurunan visus, terutama bagi pengguna lensa kontak atau riwayat trauma mata.
  • Gunakan Pelindung Mata: Saat melakukan aktivitas yang berisiko menyebabkan trauma mata.
  • Manajemen Penyakit Dasar: Kontrol penyakit sistemik seperti diabetes mellitus.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds