Kelainan Testis Pediatrik

Kelainan pada testis anak seringkali menjadi sumber kecemasan orang tua dan memerlukan penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan komplikasi serius di kemudian hari, mulai dari infertilitas hingga keganasan. Jangan sampai salah diagnosis atau terlambat tatalaksana! Yuk, pahami kunci-kunci pentingnya untuk UKMPPD dan praktik klinis Anda!

Kriptorkismus (Undescended Testis)

Definisi: Kegagalan satu atau kedua testis untuk turun sepenuhnya ke dalam skrotum pada usia 6 bulan (usia koreksi pada prematur). Testis yang terpalpasi di luar jalur desensus normal disebut testis ektopik.

Klasifikasi:

  • Palpable: Testis dapat diraba (misalnya di kanal inguinalis, preskrotal, femoral, perineal).
  • Non-palpable: Testis tidak dapat diraba (misalnya intra-abdomen, atrofi, agenesis).
  • Retraktil: Testis yang dapat ditarik ke dalam skrotum dan tetap di sana tanpa ketegangan, bukan kriptorkismus sejati dan tidak memerlukan operasi.

Etiologi: Multifaktorial, meliputi faktor hormonal (defisiensi androgen), genetik, dan mekanik (anomali gubernakulum/prosesus vaginalis).

Diagnosis:

  • Anamnesis: Riwayat testis tidak ada di skrotum sejak lahir.
  • Pemeriksaan Fisik: Palpasi skrotum dan jalur inguinalis. Lakukan di ruangan hangat dengan pasien rileks.
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • USG: Dapat membantu melokalisasi testis di kanal inguinalis, namun kurang sensitif untuk testis intra-abdomen.
    • Laparoskopi Diagnostik: Gold standard untuk testis non-palpable, dapat sekaligus menjadi terapi (orchiopexy).

Tatalaksana:

  • Observasi: Hingga usia 6 bulan, karena masih ada kemungkinan turun spontan.
  • Orchiopexy: Pembedahan untuk menurunkan dan memfiksasi testis ke dalam skrotum. Direkomendasikan antara usia 6-18 bulan. Penundaan >18 bulan meningkatkan risiko komplikasi.

Komplikasi: Infertilitas (terutama bilateral), peningkatan risiko keganasan testis (seminoma), torsio testis, hernia inguinalis, trauma testis.

Torsio Testis (Testicular Torsion)

Definisi: Kondisi gawat darurat urologi akibat terpuntirnya korda spermatika, menyebabkan obstruksi aliran darah ke testis dan iskemia.

Etiologi & Faktor Risiko:

  • Deformitas Bell-Clapper: Fiksasi tunika vaginalis yang abnormal, memungkinkan testis berotasi bebas.
  • Aktivitas fisik berat, trauma skrotum, tidur.
  • Paling sering pada masa neonatus dan pubertas (12-18 tahun).

Patofisiologi: Puntiran korda spermatika mengganggu aliran vena (dini) dan arteri (lanjut), menyebabkan kongesti, edema, dan akhirnya infark testis.

Manifestasi Klinis:

  • Nyeri skrotum akut mendadak, unilateral, sering disertai mual dan muntah.
  • Pembengkakan dan kemerahan skrotum.
  • Testis yang terkena terangkat lebih tinggi (high-riding) dan horizontal (transverse lie).
  • Refleks kremaster absen pada sisi yang terkena (paling sensitif dan spesifik).
  • Prehn sign negatif: Nyeri tidak berkurang dengan elevasi skrotum (berbeda dengan epididimitis).

Penegakan Diagnosis:

  • Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik: Kunci diagnosis.
  • USG Doppler Warna: Gold standard, menunjukkan penurunan atau tidak adanya aliran darah ke testis yang terkena.

Tatalaksana:

  • Kegawatdaruratan Bedah: Detorsi manual dapat dicoba sebagai tindakan sementara, namun eksplorasi skrotum dan orchiopexy bilateral (untuk mencegah torsio kontralateral) harus segera dilakukan dalam waktu 6 jam untuk menyelamatkan testis.

Prognosis: Tergantung pada durasi iskemia. Tingkat penyelamatan testis menurun drastis setelah 6-8 jam.

Hidrokel (Hydrocele)

Definisi: Akumulasi cairan serosa di dalam tunika vaginalis di sekitar testis.

Klasifikasi:

  • Hidrokel Komunikan: Disebabkan oleh prosesus vaginalis yang paten, memungkinkan cairan peritoneum mengalir ke skrotum. Ukuran pembengkakan dapat berubah, membesar saat menangis/mengejan, mengecil saat istirahat/tidur.
  • Hidrokel Non-Komunikan: Prosesus vaginalis telah menutup, cairan terperangkap. Ukuran pembengkakan cenderung konstan. Lebih sering pada bayi baru lahir.

Etiologi: Kegagalan penutupan prosesus vaginalis (komunikan), ketidakseimbangan produksi dan reabsorpsi cairan (non-komunikan, bisa idiopatik atau sekunder akibat trauma/inflamasi).

Manifestasi Klinis:

  • Pembengkakan skrotum yang tidak nyeri, lunak, dan kenyal.
  • Pada hidrokel komunikan, pembengkakan dapat membesar di siang hari atau saat aktivitas, dan mengecil di malam hari.
  • Transiluminasi positif: Skrotum tampak bersinar saat disinari cahaya.

Penegakan Diagnosis:

  • Pemeriksaan Fisik: Palpasi, transiluminasi.
  • USG Skrotum: Untuk mengonfirmasi adanya cairan dan menyingkirkan massa lain.

Tatalaksana:

  • Observasi: Hidrokel non-komunikan pada bayi seringkali sembuh spontan dalam 1-2 tahun pertama kehidupan.
  • Hidrokelektomi: Pembedahan diindikasikan jika hidrokel persisten setelah usia 1-2 tahun, ukuran sangat besar, atau jika ada kecurigaan hernia inguinalis bersamaan (pada hidrokel komunikan).

Hernia Inguinalis (Inguinal Hernia)

Definisi: Protrusi organ intra-abdomen (misalnya usus, omentum) melalui kanalis inguinalis.

Klasifikasi:

  • Hernia Inguinalis Indirek: Paling sering pada anak, melalui cincin inguinalis profunda (internal) karena prosesus vaginalis yang paten.
  • Hernia Inguinalis Direk: Sangat jarang pada anak, melalui dinding posterior kanalis inguinalis (segitiga Hesselbach).

Etiologi: Paten prosesus vaginalis (sama dengan hidrokel komunikan), memungkinkan organ abdomen masuk ke kanal inguinalis.

Manifestasi Klinis:

  • Benjolan di lipat paha atau skrotum yang muncul saat menangis, mengejan, atau berdiri, dan dapat menghilang saat istirahat atau tidur (dapat direduksi).
  • Jika inkarserata (terjepit dan tidak dapat direduksi): nyeri, kemerahan, bengkak, rewel, muntah, distensi abdomen. Ini adalah kegawatdaruratan!

Penegakan Diagnosis:

  • Pemeriksaan Fisik: Palpasi benjolan, minta pasien mengejan atau batuk.
  • USG: Dapat membantu mengonfirmasi diagnosis dan membedakan dari hidrokel.

Tatalaksana:

  • Herniorafi: Pembedahan untuk menutup prosesus vaginalis yang paten.
  • Elektif: Jika hernia dapat direduksi, operasi dapat dijadwalkan secara elektif.
  • Emergensi: Jika hernia inkarserata atau strangulata (gangguan vaskularisasi), operasi harus segera dilakukan.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds