Kelainan Sistem Lakrimal: Dakrioadenitis, Dakriosistitis, dan Dakriostenosis

Sistem lakrimal kita bukan cuma kelenjar air mata, lho! Ada saluran drainase yang kompleks dan bisa mengalami berbagai masalah, mulai dari peradangan kelenjar, peradangan kantung, hingga sumbatan saluran. Penting banget untuk membedakan ketiganya karena penanganannya bisa sangat berbeda. Yuk, kuasai konsep inti dari Dakrioadenitis, Dakriosistitis, dan Dakriostenosis yang sering muncul di UKMPPD!

Pendahuluan Sistem Lakrimal

Sistem lakrimal bertanggung jawab untuk produksi dan drainase air mata. Sistem ini terdiri dari kelenjar lakrimal (memproduksi air mata) dan sistem drainase lakrimal (punctum, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis) yang mengalirkan air mata ke rongga hidung.

Gangguan pada salah satu komponen ini dapat menyebabkan berbagai keluhan mata, mulai dari mata kering hingga mata berair berlebihan (epifora) dan infeksi.

Dakrioadenitis

Definisi: Dakrioadenitis adalah peradangan pada kelenjar lakrimal utama.

Etiologi: Dapat disebabkan oleh infeksi (viral atau bakteri) atau kondisi non-infeksius (inflamasi/autoimun).

  • Viral: Paling sering oleh virus Mumps, Epstein-Barr Virus (EBV), Cytomegalovirus (CMV), atau Influenza.
  • Bakteri: Staphylococcus aureus, Streptococcus, Neisseria gonorrhoeae.
  • Non-infeksius: Sarkoidosis, Sindrom Sjögren, penyakit tiroid, tumor.

Manifestasi Klinis:

  • Akut: Nyeri hebat, bengkak pada kuadran superotemporal orbita (area kelenjar lakrimal) yang sering membentuk gambaran 'S' terbalik pada kelopak mata atas. Dapat disertai eritema, proptosis, diplopia, demam, dan malaise.
  • Kronis: Pembengkakan tanpa nyeri yang berlangsung lebih dari 1 bulan, seringkali bilateral, tanpa tanda-tanda inflamasi akut.

Penegakan Diagnosis:

  • Anamnesis dan pemeriksaan fisik (palpasi kelenjar lakrimal, penilaian proptosis).
  • Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, serologi virus).
  • Pencitraan: CT-scan atau MRI orbita untuk menilai ekstensi peradangan dan menyingkirkan massa.

Tatalaksana:

  • Akut: Terapi spesifik sesuai etiologi (mis. antibiotik untuk bakteri, antivirus untuk virus). Kompres dingin dan antiinflamasi non-steroid (NSAID) untuk mengurangi gejala.
  • Kronis: Penanganan penyakit dasar. Kortikosteroid sistemik dapat dipertimbangkan untuk kasus non-infeksius yang parah.

Dakriosistitis

Definisi: Dakriosistitis adalah peradangan pada sakus lakrimalis, seringkali disebabkan oleh obstruksi duktus nasolakrimalis yang menyebabkan statis air mata dan infeksi sekunder.

Etiologi: Umumnya bakteri, akibat obstruksi pada duktus nasolakrimalis.

  • Obstruksi: Kongenital (kegagalan kanalisasi duktus nasolakrimalis), trauma, inflamasi kronis, tumor, batu (dakriolith).
  • Bakteri: Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Haemophilus influenzae.

Manifestasi Klinis:

  • Akut: Nyeri, bengkak, kemerahan, dan hangat pada area sakus lakrimalis (inferomedial kantus). Epifora (mata berair) dan keluarnya sekret mukopurulen saat penekanan pada sakus lakrimalis (tes regurgitasi positif). Dapat disertai demam dan selulitis preseptal.
  • Kronis: Epifora persisten, konjungtivitis kronis berulang, dan terkadang pembengkakan tidak nyeri (mukokel) di area sakus lakrimalis.

Penegakan Diagnosis:

  • Anamnesis dan pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi sakus lakrimalis, tes regurgitasi).
  • Pemeriksaan kultur sekret jika ada.
  • Dacryocystography (jarang dilakukan kecuali untuk kasus kompleks).

Tatalaksana:

  • Akut:
    • Antibiotik sistemik (oral atau intravena) sesuai sensitivitas.
    • Kompres hangat.
    • Jika terbentuk abses, insisi dan drainase.
  • Kronis:
    • Pada bayi: Pijat sakus lakrimalis (Crigler massage) dan antibiotik topikal. Probing duktus nasolakrimalis jika tidak membaik setelah usia 6-12 bulan.
    • Pada dewasa: Dakriosistorinostomi (DCR), prosedur bedah untuk membuat jalur drainase baru dari sakus lakrimalis ke rongga hidung, melewati obstruksi.

Dakriostenosis

Definisi: Dakriostenosis adalah penyempitan atau sumbatan pada sistem drainase lakrimal, paling sering pada duktus nasolakrimalis. Ini adalah penyebab umum dakriosistitis.

Etiologi:

  • Kongenital: Kegagalan kanalisasi duktus nasolakrimalis, terutama pada katup Hasner (membran di ujung duktus nasolakrimalis).
  • Didapat:
    • Primer: Idiopatik, terkait usia.
    • Sekunder: Trauma (fraktur hidung/orbita), inflamasi kronis (misalnya sinusitis, konjungtivitis), tumor, obat-obatan (misalnya kemoterapi, timolol topikal), radiasi.

Manifestasi Klinis:

  • Epifora: Keluhan utama, mata berair terus-menerus karena air mata tidak dapat mengalir dengan baik.
  • Sekret mukopurulen, terutama saat pagi hari.
  • Konjungtivitis berulang atau kronis.
  • Tidak ada tanda-tanda inflamasi akut kecuali jika terjadi infeksi sekunder (dakriosistitis).

Penegakan Diagnosis:

  • Anamnesis dan pemeriksaan fisik.
  • Fluorescein Disappearance Test (FDT): Teteskan fluorescein ke mata, normalnya akan hilang dalam 5 menit. Jika persisten, menandakan obstruksi.
  • Tes Irigasi Duktus Lakrimalis (Syringing): Memasukkan saline ke sistem drainase. Jika ada resistensi dan tidak ada aliran ke tenggorokan, menandakan obstruksi.
  • Dacryocystography atau dacryoscintigraphy untuk visualisasi anatomi.

Tatalaksana:

  • Pada bayi dengan obstruksi kongenital:
    • Pijat sakus lakrimalis (Crigler massage) beberapa kali sehari untuk membantu membuka katup Hasner.
    • Antibiotik topikal jika ada sekret.
    • Probing duktus nasolakrimalis: Jika tidak membaik setelah 6-12 bulan.
  • Pada dewasa dengan obstruksi didapat:
    • Dakriosistorinostomi (DCR): Prosedur bedah untuk membuat jalur drainase baru.
    • Intubasi silikon stent: Pemasangan tabung silikon sementara untuk menjaga patensi duktus.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds