Kelainan serta Penyakit Liang Telinga

Materi pembelajaran Kelainan serta Penyakit Liang Telinga untuk mahasiswa kedokteran gigi.

Pendahuluan

Liang telinga luar merupakan saluran yang rentan terhadap berbagai kondisi patologis mulai dari penumpukan serumen, benda asing, hingga infeksi serius. Pemahaman tentang kondisi-kondisi ini penting karena dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan nyeri yang signifikan. Penatalaksanaan yang tepat memerlukan identifikasi yang akurat serta pemilihan intervensi yang sesuai dengan kondisi spesifik pasien.

Asal dan Fungsi Serumen

Serumen diproduksi oleh tiga sumber utama: kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa, dan epitel kulit liang telinga, yang semuanya tercampur dengan partikel debu. Serumen normalnya berada di sepertiga luar liang telinga, di mana kelenjar-kelenjar tersebut berlokasi.

Konsistensi serumen bervariasi antar individu—dapat berupa serumen lunak yang berminyak atau serumen kering yang berbutir. Variasi ini dipengaruhi oleh faktor genetik, iklim, usia, dan lingkungan sekitar. Perbedaan genetik ini penting karena menentukan bagaimana serumen akan bereaksi terhadap perubahan kondisi lingkungan, seperti kelembaban.

Serumen memiliki fungsi protektif yang penting:

  • Mengikat kotoran dan partikel halus sehingga mencegahnya masuk lebih dalam
  • Mengusir serangga yang mencoba memasuki liang telinga
  • Menyebarkan aroma yang tidak disukai serangga

Penumpukan Serumen

Serumen dapat menumpuk dan menyebabkan masalah klinis. Penumpukan serumen dapat menghalangi aliran gelombang suara, menyebabkan tuli konduktif dengan derajat keparahan tergantung volume serumen. Hal ini terutama terjadi bila serumen lunak mengembang setelah kontak dengan air, karena pembengkakan dapat memperkuat penyumbatan.

Penatalaksanaan Serumen

Penatalaksanaan disesuaikan dengan konsistensi serumen:

Serumen lunak: Dapat dibersihkan langsung menggunakan kapas atau instrumen lembut. Pendekatan ini paling sederhana dan aman karena serumen lembut mudah diangkat tanpa risiko trauma.

Serumen keras: Memerlukan instrumen khusus seperti pengait serumen atau kuret untuk menangkat dan mengekstraksi. Teknik ini memerlukan kehati-hatian karena kuret dapat melukai kulit liang telinga atau membran timpani.

Serumen sangat keras atau berkerak: Harus dilunakkan terlebih dahulu sebelum pengangkatan. Tetes karbolgliserin 10% diberikan selama 3 hari untuk melembutkan serumen, setelah itu dapat dibersihkan dengan metode konvensional.

Komplikasi Irigasi

Penting untuk diperhatikan: jika serumen terdorong terlalu dalam oleh irigasi atau instrumen, dapat menimbulkan trauma pada membran timpani (gendang telinga). Jika ini terjadi, penatalaksanaannya tetap menggunakan irigasi dengan air hangat (setara suhu tubuh ~37°C) untuk mengurangi iritasi, namun hanya dilakukan setelah memastikan tidak ada perforasi membran timpani. Irigasi pada membran timpani yang perforasi dapat memperburuk kondisi.

Jenis Benda Asing

Benda asing di liang telinga dibedakan menjadi dua kategori:

Benda mati: Termasuk kacang, manik-manik, karet, kapas, korek api, pensil, baterai, dan berbagai benda kecil lainnya.

Benda hidup: Terutama serangga seperti lalat atau semut yang masuk secara kebetulan.

Epidemiologi dan Penyebab

Pola masuknya benda asing berbeda berdasarkan usia:

  • Pada anak: Benda asing sering merupakan hasil dari kebiasaan memasukkan benda ke telinga, baik dari rasa ingin tahu maupun kesenangan eksplorasi
  • Pada dewasa: Benda asing biasanya terbatas pada benda-benda kecil, dan baterai menjadi perhatian khusus karena potensi kerusakan kimiawi

Prinsip Penanganan Umum

Penanganan benda asing di liang telinga memerlukan kehati-hatian ekstrem:

  • Hindari mendorong benda lebih dalam ke dalam liang telinga, karena dapat merusak membran timpani atau menyebabkan perforasi
  • Pengangkatan harus dilakukan dengan hati-hati, preferensi pada ekstraksi langsung daripada irigasi jika memungkinkan

Penatalaksanaan Berdasarkan Jenis

Untuk binatang hidup (serangga):

  • Matikan serangga terlebih dahulu dengan menggunakan tampon basah yang dibasahi cairan antiseptik (misalnya larutan rivanol) selama sekitar 10 menit
  • Setelah serangga mati, angkat dengan pinset secara hati-hati atau gunakan irigasi dengan air hangat
  • Tujuan pertama adalah membunuh agar gerakan serangga tidak memperburuk situasi

Untuk benda besar:

  • Tarik langsung menggunakan pengait serumen atau instrumen serupa
  • Irigasi air hangat dapat membantu, namun harus setelah memastikan tidak ada risiko perforasi

Untuk benda kecil:

  • Ambil dengan kuas halus atau pinset dengan teknik yang sangat hati-hati
  • Penglihatan yang baik (otoskop dengan magnifikasi) sangat penting untuk kesuksesan

Untuk baterai (perhatian khusus):

  • Jangan dibasahi karena baterai dapat mengalami reaksi kimiawi dan korosi yang melepaskan zat kimia berbahaya
  • Pengangkatan harus dilakukan dengan cepat dan hati-hati, preferensi pada ekstraksi mekanis langsung

Definisi dan Patofisiologi

Otitis eksterna sirkumskripta merupakan infeksi yang terbatas pada kulit sepertiga luar liang telinga, khususnya melibatkan aparatus pilosebaseus (folikel rambut dan kelenjar sebasea). Infeksi ini membentuk furunkel (bisul) yang merupakan peradangan akut lokal dari kulit.

Organisme penyebab: Umumnya *Staphylococcus aureus* atau *Staphylococcus albus* . Bakteri ini normal di kulit namun dapat menjadi patogen ketika masuk ke dalam folikel rambut yang mengalami luka kecil.

Gejala Klinis

Salah satu ciri khas furunkel di liang telinga adalah nyeri yang sangat hebat yang tidak sebanding dengan ukuran bisul. Fenomena ini terjadi karena kulit liang telinga tidak memiliki jaringan longgar (loose areolar tissue), sehingga peradangan dan pengumpulan pus terjadi dalam ruang yang sangat terbatas dan tegang. Tekanan intra-lumen yang tinggi ini memicu nyeri yang disproportional.

Nyeri dapat dipicu atau diperburuk saat membuka mulut karena gerakan sendi temporomandibula (temporo-mandibular joint) menyebabkan liang telinga bergerak dan meningkatkan tekanan pada furunkel yang meradang.

Jika furunkel berukuran besar dan edema cukup parah untuk menghambat aliran udara melalui liang telinga, dapat terjadi gangguan pendengaran konduksi yang bersifat sementara.

Penatalaksanaan

Untuk furunkel yang masih berupa infiltrat atau kecil:

  • Aspirasi steril jika terdapat abses
  • Salep topikal seperti polymixin B atau bacitracin
  • Agen antiseptik seperti asam asetat 2–5% dalam alkohol untuk membersihkan area dan menghambat pertumbuhan bakteri

Untuk furunkel yang besar dengan abses jelas:

  • Insisi dan pemasangan drainase diperlukan karena dinding furunkel biasanya tebal dan tidak akan mengalami drainase spontan
  • Drainase memungkinkan tekanan berkurang dan memberikan relief nyeri yang signifikan

Pengobatan sistemik:

  • Antibiotik sistemik biasanya tidak diperlukan karena infeksi terbatas secara lokal dan penatalaksanaan lokal sudah memadai
  • Analgesik dan obat penenang diberikan untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan pasien

Definisi dan Patofisiologi

Otitis eksterna difus merupakan penyebaran inflamasi yang meliputi dua pertiga dalam liang telinga (berbeda dengan sirkumskripta yang hanya sepertiga luar). Ini adalah bentuk infeksi yang lebih luas dan generalisata dibandingkan furunkel.

Secara klinis, kulit tampak hiperemis (merah) dan edema (bengkak) tanpa batas yang jelas antara area yang terkena dan yang tidak, mencerminkan sifat difus dari proses inflamasi.

Organisme Penyebab

Organisme utama: *Pseudomonas aeruginosa* adalah bakteri gram-negatif yang merupakan penyebab paling umum otitis eksterna difus, terutama pada liang telinga yang basah (seperti pada perenang).

Organisme lain yang dapat terlibat: *Staphylococcus* spp., *Escherichia coli* , dan bakteri gram-negatif lainnya. Infeksi polibakter (lebih dari satu organisme) juga mungkin terjadi.

Gejala dan Tanda Klinis

  • Nyeri tekan tragus: Tragus (tonjolan kecil di depan liang telinga) terasa nyeri saat ditekan, merupakan tanda khas peradangan liang telinga
  • Penyempitan liang telinga: Edema kulit menyebabkan lumen liang telinga menyempit, yang dapat mengganggu visualisasi dan pendengaran
  • Pembesaran kelenjar getah bening regional: Kelenjar limfa servikalis anterior dan auricular anterior membesar sebagai respons tubuh terhadap infeksi lokal
  • Sekresi: Terdapat drainage dari liang telinga yang berbau tidak menyenangkan namun tidak mengandung lendir (lendir menunjukkan infeksi virus)

Penatalaksanaan

  • Pembersihan liang telinga: Membersihkan nanah dan debris untuk mengeluarkan bahan purulenta dan memungkinkan obat penetrasi lebih baik
  • Tampon berisi antibiotik: Tampon (kapas) yang dibasahi atau dilapisi dengan antibiotik topik (seperti tetes yang mengandung fluorokinolon, aminoglikosida, atau antibiotik lain) ditempatkan di liang telinga. Tampon harus diganti secara berkala (biasanya setiap 2-3 hari) sampai infeksi terkontrol
  • Antibiotik sistemik: Diberikan bila diperlukan, terutama jika terdapat tanda-tanda sistemik (demam, malaise) atau jika infeksi tidak merespons terapi lokal dalam 2-3 hari

Organisme Penyebab

Otomikosis adalah infeksi liang telinga luar yang disebabkan oleh jamur. Jamur yang paling sering terlibat adalah:

  • Pityrosporum: Jamur ini menyebabkan penampilan klinis yang mirip dengan ketombe, dengan sisik putih atau kuning di kulit liang telinga
  • Aspergillus spp.: Termasuk *A. niger* yang dapat membentuk koloni hitam yang terlihat jelas pada otoskopi. Jamur ini umum di lingkungan dan masuk melalui liang telinga yang basah atau terluka
  • Candida albicans: Jamur oportunistik yang biasanya terjadi pada pasien immunocompromised atau setelah penggunaan antibiotik topik atau sistemik yang lama

Gejala

Gejala otomikosis dapat bervariasi dari asimptomatik hingga simptomatik:

  • Gatal: Pruritus merupakan gejala paling umum, dapat intensitas ringan hingga sangat mengganggu
  • Sensasi penuh di liang telinga: Pasien merasakan telinga penuh atau tersumbat
  • Tanpa keluhan: Beberapa pasien, terutama dengan pertumbuhan jamur yang minimal, mungkin asimptomatik dan hanya ditemukan secara insidental pada otoskopi

Penatalaksanaan

  • Pembersihan liang telinga: Menghilangkan debris jamur dan memperbaiki drainase lokal untuk menciptakan lingkungan yang kurang kondusif bagi pertumbuhan jamur
  • Agen antijamur topik:
  • Larutan asam asetat 2% dalam alkohol: Menciptakan lingkungan asam yang tidak menguntungkan jamur dan memiliki efek antimikotik ringan
  • Larutan povidon-iod 5%: Agen antiseptik yang juga memiliki aktivitas antijamur
  • Tetes telinga kombinasi antibiotik-steroid: Beberapa formula mengandung antijamur selain antibiotik dan steroid untuk mengurangi inflamasi
  • Salep antijamur topik (jika diperlukan):
  • Nistatin: Antijamur polien yang tidak diserap sistemik dan efektif untuk Candida
  • Klotrimazol: Imidazol yang efektif terhadap berbagai jamur dermatofita dan Candida

Terapi biasanya diberikan selama 2-4 minggu, dengan perbaikan yang biasanya terlihat dalam 1-2 minggu setelah dimulai.

Etiologi dan Patofisiologi

Herpes zoster oticus disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster yang telah laten di dalam ganglion saraf. Virus ini biasanya menginfeksi:

  • Saraf trigeminus (saraf kranial V)
  • Ganglion genikulatum (yang merupakan bagian dari saraf fasialis, saraf kranial VII)
  • Akar dorsal servikal atas (radiks servikalis atas)

Reaktivasi terjadi ketika imunitas seluler menurun, memungkinkan virus untuk berproliferasi dan menyebabkan lesi vesikular.

Manifestasi Klinis

Lesi kulit: Vesikel (lepuh) berkumpul pada kulit muka sekitar liang telinga dan aurikula. Vesikel ini berisi cairan jernih yang infektif dan dapat pecah, meninggalkan erosi superfisial.

Nyeri telinga (otalgia): Nyeri dapat mendahului lesi vesikuler atau menyertai munculnya vesikula, seringkali cukup berat dan disertai parestesia.

Paralisis otot wajah: Infeksi virus pada ganglion genikulatum (yang berada pada jalur saraf fasialis) dapat menyebabkan paralisis fasial (facial palsy), di mana otot-otot wajah pada sisi yang terkena tidak dapat bergerak.

Tuli sensorineural: Pada kasus berat dengan keterlibatan saraf vestibulocochlear (saraf kranial VIII) secara bersamaan, dapat terjadi tuli sensorineural (hilang pendengaran akibat kerusakan koklea atau saraf pendengar), yang membedakan kondisi ini dari gangguan pendengaran konduktif.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan mengikuti protokol standar herpes zoster:

  • Antiviral: Acyclovir (800 mg, 5 kali sehari selama 7-10 hari) atau valacyclovir (1000-1500 mg, 3 kali sehari)
  • Analgesik: Untuk mengatasi nyeri yang seringkali berat
  • Perawatan suportif: Menjaga kebersihan area lesi untuk mencegah infeksi sekunder

Prognosis tergantung pada derajat keterlibatan saraf fasialis dan penanganan awal.

Sindrom Ramsay Hunt adalah bentuk herpes zoster yang melibatkan ganglion genikulatum dan sering dikaitkan dengan prognosis paralisis fasial yang lebih buruk dibandingkan Bell's palsy idiopatik, terutama karena ada komponen inflamasi viral yang serius.

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds