Kelainan Mata Lainnya – Daftar Singkat Penyakit Tambahan

Materi pembelajaran Kelainan Mata Lainnya – Daftar Singkat Penyakit Tambahan untuk mahasiswa kedokteran gigi.

Penyakit Sistem Lacrimal

Sistem lacrimal terdiri atas kelenjar lacrimal (yang memproduksi air mata), saluran lacrimal (yang mengalirkan air mata), dan kantong lacrimal (yang menyimpan sementara air mata). Kelainan pada sistem ini dapat mengganggu produksi atau drainase air mata.

Dakrioadenitis

Dakrioadenitis adalah peradangan pada kelenjar lacrimal. Kondisi ini dapat bersifat akut atau kronis.

Penyebab:

  • Infeksi bakteri (yang paling sering) seperti Staphylococcus atau Streptococcus
  • Penyakit sistemik seperti sarkoidosis atau tuberkulosis
  • Trauma
  • Obstruksi saluran kelenjar

Gejala dan tanda utama:

  • Pembengkakan pada kelopak mata bagian atas di area lateral (tempat kelenjar lacrimal berada)
  • Nyeri, kemerahan, dan panas
  • Nanah yang mungkin keluar dari saluran lacrimal
  • Mata berair

Penatalaksanaan:

  • Antibiotik jika disebabkan infeksi bakteri
  • Kompres hangat untuk mengurangi pembengkakan
  • Analgesik untuk nyeri
  • Drainase jika terbentuk abses

Dakriostenosis dan Dakriosistitis

Dakriostenosis adalah penyempitan atau penyumbatan pada saluran lacrimal, sehingga air mata tidak dapat mengalir dengan normal. Dakriosistitis adalah peradangan pada kantong lacrimal, sering terjadi sebagai komplikasi dari dakriostenosis.

Penyebab dakriostenosis:

  • Kongenital (bawaan sejak lahir) paling sering pada bayi
  • Trauma atau luka pada saluran lacrimal
  • Infeksi kronis yang menyebabkan fibrosis
  • Tumor

Penyebab dakriosistitis:

  • Penyumbatan saluran lacrimal menyebabkan penumpukan air mata dan infeksi sekunder

Gejala dan tanda:

  • Mata berair berlebihan (epiphora)
  • Mata bernanah
  • Pembengkakan di bawah kantung mata (di area kantong lacrimal)
  • Kemerahan dan nyeri tekan di area kantong lacrimal
  • Pada bayi, air mata berbusa atau nanah dari mata sejak lahir

Diagnosis:

  • Tes Shirmer (tes produksi air mata)
  • Pemeriksaan fluorescein jika ada penyumbatan, fluorescein tidak akan hilang dalam waktu normal
  • Probing saluran lacrimal
  • Dacryocystography (imaging khusus saluran lacrimal)

Penatalaksanaan:

  • Untuk bayi dengan dakriostenosis kongenital: Pijat kantong lacrimal, antibiotik tetes jika ada infeksi, dan sering membaik sendiri dalam 6-12 bulan. Jika tidak membaik, probing lacrimal dilakukan
  • Untuk dakriosistitis: Antibiotik, kompres hangat, dan drainase jika ada abses. Pada kasus kronis, dacryocystorhinostomy (DCR) dapat dilakukan prosedur bedah untuk membuat saluran baru antara kantong lacrimal dan rongga hidung

Mata Kering (Dry Eye Syndrome)

Mata kering atau keratoconjunctivitis sicca adalah kondisi di mana mata tidak memiliki cukup air mata atau air mata berkualitas buruk untuk menjaga permukaan mata tetap basah dan nyaman.

Penyebab:

  • Penurunan produksi air mata: Sjögren syndrome, lupus, rheumatoid arthritis, diabetes, hipoviaminosis A, graft-versus-host disease
  • Peningkatan penguapan air mata: kelainan kelopak mata, alergi, debu, angin, AC, penggunaan layar lama
  • Penurunan komponen lipid: disfungsi kelenjar meibom
  • Usia lanjut produksi air mata menurun dengan bertambahnya usia

Gejala:

  • Mata terasa gatal, panas, berpasir, atau tidak nyaman
  • Mata berair paradoks sistem lacrimal mencoba mengkompensasi dengan memproduksi lebih banyak air mata refleks
  • Penglihatan kabur, terutama saat membaca
  • Sensitivitas terhadap cahaya

Tanda klinis:

  • Kemerahan pada konjunctiva
  • Kurangnya kilau pada permukaan kornea
  • Hasil tes Shirmer rendah (kurang dari 5 mm dalam 5 menit menunjukkan produksi air mata berkurang)
  • Tes Rose Bengal atau lissamine green menunjukkan pewarnaan pada daerah interpalpebral

Penatalaksanaan:

  • Lubrikasi: Tetes mata lubrikasi atau gel artifisial
  • Mengurangi penguapan: Penggunaan kacamata pelindung, menghindari AC dan angin panas
  • Meningkatkan produksi: Omega-3, tetapi bukti masih terbatas
  • Obat-obatan: Cyclosporine (Restasis) untuk merangsang produksi air mata
  • Plugging: Menutup saluran lacrimal untuk mengurangi drainase air mata
  • Identifikasi dan mengatasi penyebab sistemik

Dislokasi Lensa (Ektopia Lentis)

Dislokasi lensa adalah pergeseran lensa dari posisi normalnya di belakang pupil. Lensa normalnya ditahan di tempatnya oleh ligamen zonula yang menghubungkan lensa ke badan siliar.

Penyebab:

Kongenital:

  • Marfan syndrome (kelainan jaringan ikat) penyebab yang paling sering
  • Homocystinuria
  • Ehlers-Danlos syndrome
  • Ectopia lentis et pupillae (kelainan langsung pada ligamen zonula)

Acquired (didapat):

  • Trauma mata
  • Inflamasi kronis uvea
  • Miopia tinggi
  • Glaucoma sudut tertutup akut

Manifestasi klinis:

Tergantung pada derajat dislokasi:

  • Dislokasi parsial: Iris bergoyang (iridodonesis), lensa bergoyang (phacodonesis), penglihatan sedikit terganggu
  • Dislokasi total ke vitreous: Penglihatan tiba-tiba menjadi kabur, afakia (tidak ada lensa), kemungkinan glaucoma akut, keradangan uvea

Komplikasi:

  • Glaucoma dari tekanan mekanis atau inflamasi
  • Katarak kerusakan lensa dari trauma
  • Endophthalmitis inflamasi intraokular
  • Amblyopia pada anak-anak jika tidak dikoreksi

Diagnosis:

  • Pemeriksaan slit lamp menunjukkan zonula yang putus atau tegang tidak merata
  • Iridodonesis dan phacodonesis
  • Ultrasound jika dislokasi ke belakang

Penatalaksanaan:

  • Konservatif: Midriatik topikal (untuk memperbesar pupil dan menjaga lensa tetap di belakang iris), koreksi kacamata
  • Bedah: Ekstraksi lensa jika terjadi dislokasi total atau lensa menghalangi penglihatan, lensektomi vitrektomi jika lensa di vitreous

Buta Senja (Night Blindness/Nyctalopia)

Buta senja adalah kesulitan melihat dalam kondisi cahaya rendah atau gelap. Ini adalah gejala, bukan diagnosis, yang menunjukkan adanya kelainan pada adaptasi cahaya mata.

Fisiologi normal: Untuk melihat dalam cahaya redup, mata membutuhkan rhodopsin yang cukup di sel rod retina. Rhodopsin terbuat dari opsin dan retinol (vitamin A). Ketika cahaya rendah, mata memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan memproduksi lebih banyak rhodopsin.

Penyebab:

Kekurangan vitamin A (penyebab paling sering secara global):

  • Malnutrisi
  • Malabsorpsi lemak
  • Penyakit hati kronis
  • Penyakit celiac

Vitamin A penting untuk produksi rhodopsin. Kekurangan vitamin A menyebabkan kerusakan progresif pada sel rod, dimulai dengan buta senja sebagai tanda awal.

Kelainan retina:

  • Retinitis pigmentosa degenerasi sel rod progresif
  • Penyakit Koro kehilangan sel rod
  • High myopia

Kelainan sistemik:

  • Diabetes dengan retinopati
  • Penyakit Koro

Obat-obatan:

  • Vitamin A dalam dosis sangat tinggi (toksisitas vitamin A)
  • Ethambutol (antituberkulosis)

Manifestasi klinis:

  • Kesulitan melihat objek dalam cahaya redup atau pada malam hari
  • Pada defisiensi vitamin A: Buta senja adalah gejala awal, diikuti dengan xerosis kornea (mata kering), Bitot spots (bintik putih pada konjunctiva), dan akhirnya kebutaan jika tidak diobati
  • Gangguan adaptasi cahaya

Diagnosis:

  • Riwayat kesulitan melihat di malam hari
  • Tes adaptasi gelap menunjukkan waktu adaptasi abnormal yang panjang
  • Pemeriksaan fundus untuk kelainan retina
  • Tingkat vitamin A serum jika dicurigai defisiensi

Penatalaksanaan:

  • Defisiensi vitamin A: Suplementasi vitamin A oral dengan dosis tinggi, dapat diberikan dosis booster tunggal yang besar (200,000 IU) diikuti dosis berulang
  • Kelainan retina degeneratif: Tidak ada obat kuratif, tetapi vitamin A tetap diberikan, perlindungan cahaya, dan bantuan low vision
  • Mengatasi penyebab sistemik: Kontrol diabetes, pengobatan malabsorpsi, dll.

Catatan penting: Dalam konteks kesehatan global, buta senja yang disebabkan defisiensi vitamin A adalah indikator kesehatan gizi masyarakat dan merupakan tanda awal dari xerophthalmia, yang merupakan penyebab kebutaan yang dapat dicegah di negara berkembang. Program suplementasi vitamin A pada anak-anak adalah intervensi kesehatan masyarakat penting.

Retinopati Prematuritas (ROP Retinopathy of Prematurity)

Retinopati Prematuritas adalah penyakit vaskular retina yang terjadi pada bayi prematur, ditandai dengan pertumbuhan abnormal pembuluh darah retina yang dapat menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani.

Patofisiologi

Retina yang sedang berkembang memerlukan oksigen yang sesuai untuk pertumbuhan pembuluh darah normal. Pada bayi prematur:

  • Oksigen tinggi dari terapi oksigen ⇒ pembuluh darah retina menyempit (vasokonstriki) dan berhenti tumbuh
  • Penarikan oksigen (saat oksigen dikurangi) ⇒ retina menjadi relatif hipoksia
  • Respons kompensasi: Retina memproduksi vascular endothelial growth factor (VEGF) yang berlebihan
  • Pertumbuhan pembuluh darah abnormal (neovaskularisasi) terjadi, tumbuh ke vitreous daripada membangun vaskularisasi retina normal
  • Jaringan parut: Neovaskularisasi ini dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut, detasemen retina traksional, dan kebutaan

Faktor Risiko

Faktor utama:

  • Usia kehamilan < 32 minggu
  • Berat lahir < 1500 gram (terutama < 1000 gram risiko lebih tinggi)
  • Paparan oksigen tinggi dan tidak terkontrol terutama hypoxia-reoxygenation cycling
  • Durasi ventilasi mekanik yang lama

Faktor risiko lainnya:

  • Infeksi neonatal (sepsis)
  • Instabilitas suhu
  • Transfusi darah berulang
  • Penyakit paru kronis
  • Patent foramen ovale (PFO)

Stadium ROP

ROP dikategorikan berdasarkan severity (zona, stage, plus disease):

Zona (lokasi pembuluh darah abnormal):

  • Zona I: Paling dalam (terdekat dengan saraf optik), paling berat
  • Zona II: Menengah
  • Zona III: Paling luar, paling ringan

Stage (tingkat keparahan):

  • Stage 1: Garis terpisah antara vaskularisasi normal dan abnormal
  • Stage 2: Ridge (tonjolan)
  • Stage 3: Ridge dengan neovaskularisasi ekstraretinal
  • Stage 4: Detasemen retina parsial
  • Stage 5: Detasemen retina total, kebutaan

Plus disease: Tanda progresif mencakup tortuositas vena posterior dan rigiditas arteri, menunjukkan progresivitas penyakit

ROP "aggressive" = zona I-II dengan plus disease, memerlukan intervensi cepat

Manifestasi Klinis

  • Asimtomatis: Sering terdeteksi hanya dengan screening oftalmologi
  • Dalam kasus severe: Refleks pupil abnormal, pembengkakan optic disc, katarak

Screening dan Diagnosis

Rekomendasi screening:

  • Semua bayi dengan berat lahir ≤ 1500 gram ATAU usia kehamilan ≤ 30 minggu
  • Beberapa rekomendasi memperluas ke berat lahir ≤ 2000 gram atau usia ≥ 32 minggu dengan faktor risiko
  • Dimulai pada usia 4 minggu kehidupan atau 31 minggu usia gestasi (mana yang lebih besar)
  • Diulang setiap 1-2 minggu tergantung zona dan stadiumnya

Diagnosis: Oftalmoskopi dilatasi atau RetCam (kamera retina digital)

Pencegahan

Ini adalah aspek yang sangat penting:

  • Manajemen oksigen yang ketat: Pertahankan saturasi oksigen dalam range yang aman (target berbeda berdasarkan protokol, umumnya 91-95% untuk bayi < 28 minggu)
  • Hindari hypoxia-reoxygenation cycling: Fluktuasi oksigen yang cepat berbahaya
  • Manajemen nutrisi optimal: Pertumbuhan yang adekuat mengurangi risiko
  • Pencegahan infeksi neonatal
  • Manajemen suhu yang stabil

Penatalaksanaan

Tidak progressive atau mild (Stadium 1-2, Zona III tanpa plus disease):

  • Observasi serial dengan screening rutin
  • Pertumbuhan pembuluh darah dapat normal tanpa intervensi

Threshold ROP (memerlukan intervensi urgent):

  • Zona I dengan stage 3 dan plus disease
  • Zona I-II dengan stage 2-3 dan plus disease
  • Zona II dengan stage 3 dan plus disease

Intervensi:

  • Anti-VEGF (bevacizumab, aflibercept, ranibizumab): Injeksi intravitreal
  • Menekan neovaskularisasi abnormal
  • Memungkinkan vaskularisasi retina normal melanjutkan
  • Efektif tetapi memerlukan monitoring jangka panjang untuk reactivation
  • Laser photocoagulation:
  • Ablasi retina avaskuler untuk mengurangi produksi VEGF
  • Tradisional dan terbukti efektif
  • Dapat menyebabkan myopia
  • Vitrectomy:
  • Untuk advanced ROP dengan detasemen retina atau membran vitreous

Prognosis

  • Dengan screening dan intervensi dini, banyak kasus dapat mencegah kebutaan
  • Tanpa intervensi, progressive ROP menyebabkan kebutaan
  • Bahkan dengan treatment berhasil, dapat terjadi komplikasi jangka panjang seperti myopia, astigmatisme, strabismus, atau amblyopia

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds