Kelainan kongenital telinga luar merupakan malformasi yang terjadi pada periode perkembangan embriologi telinga. Kelainan ini dapat berdampak pada fungsi pendengaran, estetika, atau keduanya. Pemahaman tentang patogenesis, diagnosis, dan penanganan kelainan-kelainan ini penting untuk mengelola pasien secara optimal.
Fistula preaurikular terjadi akibat kegagalan penyatuan tuberkel (hillocks) ke-1 dan ke-2 selama minggu ke-6 perkembangan embrio. Tuberkel-tuberkel ini berasal dari arkus mandibula dan arkus maksila dan seharusnya bersatu untuk membentuk struktur telinga luar yang normal.
Kelainan ini memiliki pola pewarisan dominan herediter, artinya jika salah satu orang tua memiliki fistula preaurikular, maka ada risiko 50% untuk setiap anak mereka mewarisi kondisi yang sama.
Secara klinis, fistula preaurikular:
Komplikasi paling sering adalah infeksi fistula, yang dapat menyebabkan pioderma (infeksi kulit superfisial) atau selulitis fasial (infeksi jaringan dalam yang lebih serius). Jika terjadi abses, diperlukan insisi dan drainase untuk mengeluarkan nanah.
Penanganan definititif adalah operasi pengangkatan total fistula. Tindakan ini dilakukan jika:
Penting untuk mengangkat seluruh saluran fistula hingga ke ujungnya untuk mencegah kekambuhan. Pengangkatan hanya sebagian akan menyisakan sel epitelia yang dapat memicu infeksi atau pembentukan fistula kembali.
Mikrotia adalah kelainan kongenital berupa daun telinga yang kecil dan tidak sempurna dalam bentuk. Kondisi ini sering kali disertai dengan atresia liang telinga (tidak adanya liang telinga eksternal), meskipun kedua kondisi ini sebenarnya memiliki asal embriologi yang berbeda.
Epidemiologi mikrotia di seluruh dunia:
Karakteristik penting yang perlu diingat:
Penyebab mikrotia diduga multifaktorial, meliputi:
Diagnosis mikrotia dan atresia liang telinga didasarkan pada:
Penanganan atresia liang telinga bergantung pada ada-tidaknya kondisi bilateral dan usia pasien:
Atresia Bilateral
Atresia Unilateral
Ketika operasi diputuskan untuk dilakukan, prosedur dilakukan secara bertahap:
Timing operasi sangat penting karena operasi pada usia muda memberikan waktu bagi telinga untuk tumbuh dan beradaptasi dengan perubahan struktural.
Komplikasi yang perlu diwaspadai setelah operasi kanaloplasti:
Telinga camplang adalah kondisi dimana daun telinga melebar dan menonjol keluar dari kepala secara abnormal. Fungsi pendengaran biasanya tidak terganggu karena struktur telinga dalam normal.
Masalah utama dengan telinga camplang adalah gangguan psikologis akibat kelainan estetika, terutama pada anak-anak yang mungkin menjadi bahan ejekan. Oleh karena itu, otoplasti (operasi untuk memperbaiki bentuk dan posisi telinga) dapat dipertimbangkan, baik untuk alasan psikologis maupun estetika.
Hematoma daun telinga terjadi setelah trauma pada telinga, menghasilkan pendarahan antara perikondrium (lapisan jaringan ikat yang membungkus tulang rawan) dan tulang rawan daun telinga.
Penanganan hematoma sangat penting:
Jika tidak ditangani dengan baik, hematoma dapat berkembang menjadi perikondritis (inflamasi perikondrium).
Perikondritis adalah radang (inflamasi) pada perikondrium daun telinga, biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri. Kondisi ini dapat terjadi akibat:
Perikondritis merupakan kondisi serius karena tulang rawan daun telinga sangat peka terhadap infeksi, dan infeksi dapat menyebabkan kerusakan permanen.
Jika antibiotik atau drainase tidak berhasil mengatasi perikondritis, dapat terjadi komplikasi serius berupa cauliflower ear (telinga bunga kubis). Pada kondisi ini:
Oleh karena itu, penanganan cepat dan agresif dari perikondritis sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang ini.
Pseudokista daun telinga adalah pengumpulan cairan kuning steril (bukan pus infeksi) antara perikondrium dan tulang rawan daun telinga. Istilah "pseudo" digunakan karena rongga ini tidak memiliki dinding epitel sejati seperti kista yang sebenarnya.
Pseudokista berbeda dari hematoma dalam hal:
Pseudokista diduga terbentuk dari trauma minor berulang atau iritasi kronis pada telinga yang memicu akumulasi cairan.
Penanganan pseudokista meliputi beberapa tahap:
Kekambuhan pseudokista terjadi jika perikondrium tidak melekat dengan baik pada tulang rawan setelah aspirasi. Oleh karena itu:
Beberapa kasus pseudokista yang berulang mungkin memerlukan insisi dan drainase dengan jahitan untuk mencegah penumpukan cairan kembali.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi