Kelainan Kelopak Mata – Blefaritis, Entropion, dan Hordeolum/Kalazion

Materi pembelajaran Kelainan Kelopak Mata – Blefaritis, Entropion, dan Hordeolum/Kalazion untuk mahasiswa kedokteran gigi.

Pendahuluan

Penyakit kelopak mata merupakan kondisi yang sering ditemui dalam praktik oftalmologi. Kelopak mata yang sehat sangat penting untuk melindungi mata dan menjaga kualitas penglihatan. Dalam bab ini, kita akan membahas empat kondisi kelopak yang paling umum: blefaritis (peradangan tepi kelopak), entropion (pelipatan kelopak ke dalam), hordeolum (infeksi kelenjar kelopak), dan kalazion (pembengkakan non-infektif kelenjar). Masing-masing kondisi memiliki presentasi klinis, penyebab, dan manajemen yang berbeda.

Definisi dan Pengertian Dasar

Blefaritis adalah peradangan pada margo palpebra (tepi kelopak mata) yang dapat melibatkan folikel rambut bulu mata. Kondisi ini sering disertai dengan pembentukan skuma (keropeng) atau krusta, dan dalam kasus yang lebih parah, dapat terjadi ulkus superfisial pada tepi kelopak.

Gejala yang Dilaporkan Pasien

Pasien dengan blefaritis biasanya datang dengan keluhan spesifik pada tepi kelopak mata. Gejala utama meliputi:

  • Gatal pada tepi kelopak mata
  • Sensasi benda asing (foreign body sensation)
  • Rasa panas atau terasa terbakar
  • Rontok bulu mata (madarosis) pada kasus yang lebih lanjut

Gejala-gejala ini terjadi karena peradangan pada area yang sangat sensitif dan penuh dengan ujung saraf.

Penyebab dan Faktor Risiko

Blefaritis memiliki hubungan erat dengan beberapa kondisi dan faktor:

Penyebab utama:

  • Seborrhea kulit kepala yang terjadi bersamaan
  • Disfungsi kelenjar Zeis, yang memproduksi lipid abnormal, menciptakan lingkungan yang memfasilitasi pertumbuhan bakteri
  • Iritasi kronis oleh *Corynebacterium acnes*

Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan blefaritis:

  • Dermatitis seboroik (peradangan kulit berminyak)
  • Kebersihan pribadi yang buruk, terutama kebersihan kelopak dan rambut
  • Lingkungan yang tidak bersih
  • Daya tahan tubuh yang menurun

Temuan pada Pemeriksaan Fisik

Saat melakukan pemeriksaan mata, dokter akan menemukan tanda-tanda karakteristik pada kelopak:

  • Skuma atau krusta berwarna putih/kuning pada margo palpebra
  • Bulu mata yang mudah rontok
  • Tukak dangkal pada tepi kelopak
  • Pembengkakan (edema) pada kelopak
  • Kemerahan (eritema) pada margo palpebra
  • Keropeng yang dapat berdarah jika dilepaskan

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan blefaritis berfokus pada kontrol infeksi, peradangan, dan kebersihan kelopak:

Pembersihan dan kompres:

  • Bersihkan tepi kelopak secara teratur dengan sampo bayi yang diencerkan
  • Lakukan kompres hangat selama 5-10 menit untuk membantu drainase dan mengurangi peradangan

Terapi antibiotik topikal: Gunakan salep antibiotik topikal yang cocok, seperti:

  • Eritromisin
  • Basitrasin
  • Gentamisin

Aplikasikan 2 tetes atau 1 kali usapan salep setiap 2 jam hingga gejala hilang.

Edukasi pasien: Sangat penting untuk mendidik pasien tentang pencegahan jangka panjang, terutama mereka yang memiliki dermatitis seboroik:

  • Menjaga kebersihan kelopak mata secara rutin
  • Mencuci alis dan rambut kepala dengan baik
  • Menghindari menggosok-gosok kelopak yang dapat menyebabkan iritasi

Definisi

Entropion adalah kondisi di mana margo palpebra (tepi kelopak mata) berlipat atau berputar ke arah dalam (mengarah ke permukaan mata). Akibatnya, bulu mata menyentuh kornea secara langsung, menyebabkan gejala yang tidak nyaman dan berpotensi merusak permukaan mata.

Klasifikasi Entropion

Penting untuk mengenali jenis entropion karena setiap jenis memiliki mekanisme, presentasi, dan manajemen yang berbeda:

Entropion kongenital terjadi sejak lahir dan biasanya terkait dengan kelainan struktur kelopak. Jenis ini jarang terjadi pada bayi normal.

Entropion sikatrikal disebabkan oleh kontraksi jaringan parut setelah trauma mata atau inflamasi konjungtiva yang parah (seperti Stevens-Johnson syndrome atau trachoma). Jaringan parut menarik kelopak ke arah dalam.

Entropion spastik terjadi karena spasme otot orbikularis okuli yang dipicu oleh iritasi kornea yang berkelanjutan. Jenis ini sering terlihat pada pasien lansia dan biasanya reversibel jika iritasinya dapat dihilangkan.

Entropion senilis merupakan jenis entropion yang paling umum pada manula, disebabkan oleh degenerasi struktur penopang kelopak, termasuk:

  • Kelemahan fasia
  • Degenerasi jaringan ikat
  • Ligamentum horizontal yang melemah

Entropion mekanik muncul ketika mata tidak dapat menopang kelopak dengan baik, misalnya pada ptosis bulbi (mata tertarik ke dalam) atau setelah enukleasi (pengangkatan bola mata).

Gejala Klinis

Pasien dengan entropion melaporkan gejala yang terjadi karena kontak langsung bulu mata dengan kornea:

  • Sensasi benda asing yang mengganggu
  • Iritasi pada permukaan mata
  • Lakrimasi (air mata yang berlebihan)
  • Fotofobia (sensitivitas terhadap cahaya)

Temuan Pemeriksaan Fisik

Diagnosis entropion ditegakkan dengan observasi langsung:

  • Margo palpebra yang berputar ke dalam
  • Bulu mata yang menyentuh permukaan kornea dan konjungtiva

Penatalaksanaan

Kebanyakan kasus entropion memerlukan intervensi pembedahan untuk koreksi struktural. Pembedahan diperlukan untuk memperbaiki dan memperkuat struktur penopang kelopak agar dapat kembali pada posisi normal.

Meskipun penatalaksanaan konservatif (seperti obat tetes mata dan kompres) dapat memberikan bantuan simtomatik sementara, solusi permanen adalah pembedahan.

Hordeolum dan Kalazion

Hordeolum dan kalazion adalah dua kondisi kelopak yang berbeda yang berhubungan dengan kelenjar kelopak, tetapi memiliki sifat, penyebab, dan prognosis yang sangat berbeda.

Definisi dan Perbedaan Dasar

Hordeolum adalah peradangan supuratif (bernanah) pada salah satu kelenjar di kelopak mata. Dapat terbagi atas:

  • Hordeolum eksternum: melibatkan kelenjar Zeis atau kelenjar Moll (terletak pada folikel bulu mata)
  • Hordeolum internum: melibatkan kelenjar Meibom (terletak di dalam ketebalan kelopak)

Kalazion adalah pembengkakan non-infektif pada kelenjar Meibom yang berkembang secara perlahan dan tidak disertai rasa nyeri akut. Merupakan bentuk peradangan granulomatosa kronik.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hordeolum umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri *Staphylococcus* pada kelenjar sebasea kelopak.

Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan hordeolum:

  • Usia anak-anak dan dewasa muda
  • Ketegangan mata yang berkepanjangan
  • Kebiasaan menggosok-gosok kelopak mata
  • Blefaritis kronik (peradangan kronis kelopak yang menciptakan lingkungan infeksi)
  • Diabetes melitus (mengurangi daya tahan tubuh lokal dan sistemik)

Patofisiologi: Mekanisme Penyakit

Untuk memahami hordeolum: Infeksi *Staphylococcus* menyebabkan retensi sebum dalam kelenjar, yang kemudian mengalami pembesaran. Hal ini memicu respons peradangan dan akhirnya peradangan granulomatosa.

Untuk kalazion: Obstruksi dari sekresi kelenjar Meibom terjadi terlebih dahulu (mungkin dari pembakuan atau inspissasi lipid). Obstruksi ini memicu respons inflamasi granulomatosa kronik, bukan karena infeksi bakteri.

Perbedaan ini penting: hordeolum adalah infektif dan akut, sementara kalazion adalah non-infektif dan kronik.

Gejala yang Dilaporkan Pasien

Hordeolum menyebabkan gejala akut dan nyeri:

  • Pembengkakan kelopak yang cepat berkembang
  • Kemerahan pada kelopak
  • Nyeri lokal yang signifikan
  • Rasa terbakar

Kalazion menyebabkan gejala yang jauh lebih ringan:

  • Pembengkakan yang berkembang perlahan (selama minggu ke minggu)
  • Tidak ada nyeri atau hanya rasa tidak nyaman ringan
  • Sensasi berat pada kelopak
  • Gangguan penglihatan ringan (jika kalazion cukup besar atau terletak di area tertentu)

Temuan Pemeriksaan Fisik

Pada hordeolum eksternum:

  • Nanah terlihat pada pangkal bulu mata
  • Area yang terlihat seperti jerawat kecil pada tepi kelopak

Pada hordeolum internum:

  • Dapat terlihat abses atau pustula pada permukaan konjungtiva kelopak bagian dalam

Pada kalazion:

  • Benjolan keras, tidak nyeri pada kelopak
  • Biasanya terletak pada kelopak atas atau bawah
  • Dapat diraba dengan jelas saat memeriksa kelopak

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Hordeolum:

  • Kompres hangat untuk membantu drainase nanah dan meredakan peradangan
  • Salep antibiotik topikal (seperti eritromisin atau gentamisin) digunakan selama 7-10 hari
  • Antibiotik oral hanya diberikan jika ada tanda-tanda selulitis (penyebaran infeksi ke jaringan sekitar), yang merupakan komplikasi serius

Dalam banyak kasus, hordeolum akan mengalami drainase spontan dan penyembuhan dalam 1-2 minggu dengan perawatan konservatif.

Penatalaksanaan Kalazion:

Karena kalazion adalah kondisi non-infektif, pendekatannya berbeda:

  • Terapi konservatif awal:
  • Tetes antibiotik topikal (untuk mencegah infeksi sekunder)
  • Antiinflamasi oral
  • Injeksi steroid:
  • Injeksi steroid intralesional dapat diberikan untuk mengurangi peradangan granulomatosa
  • Insisi dan kuretase:
  • Jika kalazion tidak responsif terhadap terapi konservatif setelah 4-6 minggu, maka dilakukan prosedur pembedahan
  • Prosedur ini melibatkan insisi pada kelopak dan penghilangan (kuretase) isi kalazion

Penting untuk membedakan antara kedua kondisi ini karena kalazion tidak memerlukan antibiotik agresif seperti hordeolum, melainkan fokus pada pengurangan peradangan.

Catatan Klinis Tambahan:

Hordeolum dapat berulang pada pasien dengan risiko tinggi. Dalam kasus hordeolum yang sering berulang, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor risiko yang mendasar, seperti diabetes melitus yang tidak terkontrol atau defisiensi imun.

Kalazion dalam beberapa kasus dapat hilang spontan, terutama jika ukurannya kecil. Namun, jika cukup besar, pasien mungkin memilih untuk menjalani pembedahan demi kenyamanan dan estetika.

Ringkasan Perbandingan

Berikut adalah perbandingan singkat untuk membantu membedakan tiga kondisi utama:

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Customer Support umeds