Karsinoma Mammae

Karsinoma mammae adalah keganasan yang paling umum pada wanita di seluruh dunia, dan insidensinya terus meningkat di Indonesia. Memahami etiologi, manifestasi klinis, hingga tatalaksananya sangat krusial untuk setiap calon dokter. Jangan sampai bingung saat bertemu kasusnya di UKMPPD nanti, yuk kita bedah tuntas konsep pentingnya di sini!

Definisi

Karsinoma mammae (kanker payudara) adalah keganasan yang berasal dari sel-sel epitel kelenjar mammae, baik dari duktus (saluran susu) maupun lobulus (kelenjar penghasil susu). Ini merupakan jenis kanker paling umum pada wanita dan penyebab kematian kedua akibat kanker pada wanita.

Epidemiologi & Faktor Risiko

Karsinoma mammae paling sering terjadi pada wanita, meskipun dapat juga terjadi pada pria (sekitar 1% dari semua kasus). Insiden meningkat seiring usia, dengan puncak pada usia 50-60 tahun.

  • Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi:
    • Jenis Kelamin: Wanita (risiko 100x lebih tinggi).
    • Usia: Risiko meningkat dengan bertambahnya usia.
    • Riwayat Keluarga: Kanker payudara pada kerabat tingkat pertama (ibu, saudara perempuan, anak).
    • Mutasi Genetik: BRCA1, BRCA2, TP53 (Li-Fraumeni syndrome), PTEN (Cowden syndrome).
    • Ras: Lebih tinggi pada wanita kulit putih di negara Barat.
    • Penyakit Payudara Jinak: Hiperplasia atipikal, karsinoma lobular in situ (LCIS).
    • Menarche Dini ( Paparan estrogen lebih lama.
    • Densitas Payudara Tinggi.
  • Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi:
    • Obesitas: Terutama pascamenopause.
    • Konsumsi Alkohol: Dosis tinggi.
    • Terapi Sulih Hormon (HRT): Estrogen-progestin kombinasi jangka panjang.
    • Nullipara atau Kehamilan Pertama di Usia Tua (>30 tahun).
    • Radiasi Dada: Terutama pada usia muda.
    • Gaya Hidup Sedentari.
    • Merokok.

Klasifikasi Histopatologi Utama

Klasifikasi ini penting untuk menentukan prognosis dan tatalaksana.

  • Karsinoma Duktal Invasif (Invasive Ductal Carcinoma/IDC) - No Special Type (NST):
    • Jenis paling umum (70-80% kasus).
    • Berasal dari sel epitel duktus.
    • Memiliki karakteristik histopatologi yang bervariasi.
  • Karsinoma Lobular Invasif (Invasive Lobular Carcinoma/ILC):
    • Sekitar 5-15% kasus.
    • Berasal dari lobulus, sering multifokal dan bilateral.
    • Sel-sel tumbuh dalam pola 'single file' (barisan tunggal).
  • Jenis Lain yang Lebih Jarang:
    • Karsinoma Medular, Tubular, Musinosa (Koloid), Kribriform.
    • Penyakit Paget pada payudara: Karsinoma duktal yang menyebar ke epidermis puting dan areola.

Manifestasi Klinis

Gejala awal seringkali asimtomatik, ditemukan saat skrining atau pemeriksaan fisik rutin. Gejala yang paling umum adalah massa pada payudara.

  • Massa/Benjolan Payudara:
    • Umumnya tidak nyeri, keras, berbatas tidak tegas, dan tidak mudah digerakkan.
    • Sering ditemukan oleh pasien sendiri (SADARI).
  • Perubahan Kulit Payudara:
    • Retraksi kulit/dimpling: Penarikan kulit ke dalam, seperti lesung pipi, akibat invasi tumor ke ligamen Cooper.
    • Peau d'orange: Kulit tampak seperti kulit jeruk, akibat edema limfatik karena obstruksi saluran limfe oleh sel kanker.
    • Ulserasi/Erosi kulit: Pada stadium lanjut.
  • Perubahan Puting:
    • Retraksi puting: Puting tertarik ke dalam.
    • Sekret puting: Terutama yang berdarah (sanguineous), unilateral, spontan.
    • Erosi/Lesi pada puting: Terutama pada Penyakit Paget.
  • Pembengkakan Lengan: Akibat metastasis ke kelenjar getah bening aksila yang masif atau limfedema pasca-bedah/radiasi.
  • Nyeri Payudara: Kurang umum pada kanker awal, lebih sering pada penyakit lanjut atau mastitis karsinomatosa.
  • Pembesaran Kelenjar Getah Bening: Terutama di aksila, supraklavikula, atau infraklavikula, keras dan tidak nyeri.
  • Gejala Metastasis Jauh: Nyeri tulang (metastasis tulang), sesak napas/batuk (paru), sakit kepala/kejang (otak), ikterus (hati).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis karsinoma mammae didasarkan pada Trias Diagnosis:

  1. Anamnesis: Riwayat penyakit sekarang (benjolan, nyeri, sekret puting, perubahan kulit), riwayat penyakit dahulu, riwayat keluarga, faktor risiko.
  2. Pemeriksaan Fisik: Inspeksi (ukuran, bentuk, simetri, perubahan kulit/puting), Palpasi (lokasi, ukuran, konsistensi, batas, mobilitas benjolan; pemeriksaan kelenjar getah bening regional).
  3. Pemeriksaan Penunjang (Imaging & Biopsi):

Pemeriksaan Penunjang Imaging

  • Mammografi: Skrining utama untuk wanita >40 tahun. Dapat mendeteksi mikrokalsifikasi dan massa.
  • USG Payudara: Membedakan massa kistik dari solid, panduan untuk biopsi. Lebih sensitif pada payudara padat wanita muda.
  • MRI Payudara: Untuk staging lokal pada pasien terpilih (misal BRCA1/2 positif, payudara padat, evaluasi respons neoadjuvan).

Biopsi (Konfirmasi Histopatologi)

Biopsi adalah standar emas untuk diagnosis definitif.

  • Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB): Mengambil sampel sel, cepat, minimal invasif. Hanya untuk diagnosis sitologi, tidak membedakan karsinoma in situ dan invasif.
  • Core Needle Biopsy (CNB): Mengambil sampel jaringan inti. Lebih akurat, dapat membedakan in situ dan invasif, serta memungkinkan pemeriksaan reseptor hormon (ER, PR, HER2). Ini adalah metode biopsi pilihan saat ini.
  • Biopsi Eksisi/Insisi: Pengangkatan seluruh/sebagian massa untuk pemeriksaan histopatologi. Dilakukan jika CNB tidak konklusif.

Pemeriksaan Tambahan pada Jaringan Biopsi

  • Pemeriksaan Imunohistokimia (IHC): Untuk menentukan status reseptor hormon dan HER2.
    • Estrogen Receptor (ER) dan Progesterone Receptor (PR): Positif jika >1% sel tumor menunjukkan pewarnaan. Pasien dengan ER/PR positif responsif terhadap terapi hormonal.
    • Human Epidermal growth factor Receptor 2 (HER2): Positif jika ada overekspresi protein HER2. Pasien HER2 positif responsif terhadap terapi target (misal trastuzumab).
    • Ki-67: Indikator proliferasi sel tumor.

Stadium (TNM Staging)

Sistem TNM (Tumor, Node, Metastasis) adalah sistem staging yang paling umum digunakan untuk menentukan tingkat penyebaran kanker dan memandu tatalaksana.

KomponenDeskripsi
T (Tumor)Ukuran tumor primer:
  • Tis: Karsinoma in situ (DCIS, LCIS, Paget tanpa massa).
  • T1: Tumor ≤ 2 cm.
  • T2: Tumor > 2 cm tapi ≤ 5 cm.
  • T3: Tumor > 5 cm.
  • T4: Tumor dengan ekstensi ke dinding dada atau kulit (ulserasi, edema, nodul satelit), atau karsinoma inflamasi.
N (Node)Keterlibatan kelenjar getah bening regional:
  • N0: Tidak ada metastasis KGB regional.
  • N1: Metastasis KGB aksila ipsilateral yang mobil.
  • N2: Metastasis KGB aksila ipsilateral yang terfiksasi/berkonglomerasi, atau KGB mammaria interna yang terdeteksi secara klinis.
  • N3: Metastasis KGB infraklavikula/supraklavikula ipsilateral, atau KGB mammaria interna dan aksila.
M (Metastasis)Ada atau tidaknya metastasis jauh:
  • M0: Tidak ada metastasis jauh.
  • M1: Ada metastasis jauh (misal ke tulang, paru, hati, otak).

Kombinasi T, N, dan M akan menentukan stadium klinis (Stage 0, I, II, III, IV).

Tatalaksana

Tatalaksana karsinoma mammae bersifat multimodal, tergantung stadium, status reseptor hormon, HER2, dan kondisi pasien.

1. Terapi Lokal

  • Bedah:
    • Breast-Conserving Surgery (BCS) / Lumpektomi: Pengangkatan tumor dan sedikit jaringan sehat di sekitarnya, diikuti oleh radioterapi adjuvan. Pilihan untuk tumor kecil.
    • Mastektomi: Pengangkatan seluruh payudara.
      • Mastektomi Radikal Modifikasi (MRM): Pengangkatan seluruh payudara, areola, puting, dan kelenjar getah bening aksila level I dan II.
      • Mastektomi Sederhana: Pengangkatan seluruh payudara saja, tanpa diseksi aksila.
    • Biopsi Kelenjar Getah Bening Sentinel (SLNB): Mengidentifikasi dan mengangkat kelenjar getah bening pertama yang menerima drainase dari tumor. Jika negatif, tidak perlu diseksi aksila lebih lanjut. Jika positif, mungkin dilanjutkan dengan diseksi aksila.
    • Diseksi Kelenjar Getah Bening Aksila (ALND): Pengangkatan sebagian besar kelenjar getah bening aksila.
  • Radioterapi:
    • Digunakan setelah BCS untuk mengurangi risiko kekambuhan lokal.
    • Dapat juga diberikan setelah mastektomi pada tumor besar atau keterlibatan KGB yang luas.
    • Paliatif untuk metastasis tulang atau otak.

2. Terapi Sistemik

  • Kemoterapi:
    • Diberikan secara adjuvan (setelah bedah) untuk membunuh sel kanker yang mungkin tersisa dan mengurangi risiko kekambuhan.
    • Diberikan secara neoadjuvan (sebelum bedah) untuk mengecilkan tumor, memungkinkan BCS, atau menilai respons tumor.
  • Terapi Hormonal:
    • Untuk pasien dengan tumor ER/PR positif.
    • Tamoxifen: Selective Estrogen Receptor Modulator (SERM). Digunakan pada wanita pre- dan postmenopause.
    • Aromatase Inhibitor (AI): Anastrozole, Letrozole, Exemestane. Digunakan pada wanita postmenopause.
  • Terapi Target:
    • Untuk pasien dengan tumor HER2 positif.
    • Trastuzumab (Herceptin): Antibodi monoklonal yang menargetkan reseptor HER2.
    • Pilihan lain: Pertuzumab, Lapatinib.

Komplikasi

  • Metastasis: Penyebaran kanker ke organ lain (paling sering tulang, paru, hati, otak).
  • Limfedema: Pembengkakan lengan akibat gangguan drainase limfe setelah diseksi aksila atau radioterapi.
  • Nyeri Kronis: Pasca-bedah atau akibat metastasis.
  • Efek Samping Terapi: Mual, muntah, rambut rontok, kelelahan (kemoterapi); hot flashes, osteoporosis (terapi hormonal); kardiomiopati (trastuzumab); pneumonitis, fibrosis (radioterapi).
  • Kekambuhan Lokal/Regional.

Prognosis

Prognosis karsinoma mammae sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor:

  • Stadium Saat Diagnosis: Semakin awal stadium, semakin baik prognosisnya.
  • Status Kelenjar Getah Bening: Keterlibatan KGB aksila merupakan prediktor prognosis terpenting.
  • Ukuran Tumor.
  • Status Reseptor Hormon (ER/PR): Positif umumnya memiliki prognosis lebih baik karena responsif terhadap terapi hormonal.
  • Status HER2: HER2 positif tanpa terapi target memiliki prognosis lebih buruk, tetapi dengan terapi target modern, prognosisnya membaik.
  • Grade Histopatologi: Tingkat diferensiasi sel kanker.
  • Usia Pasien.

Edukasi & Pencegahan

  • Skrining:
    • SADARI (Periksa Payudara Sendiri): Dilakukan setiap bulan, 7-10 hari setelah menstruasi dimulai.
    • SADANIS (Periksa Payudara Klinis): Oleh tenaga medis, setahun sekali untuk wanita >20 tahun.
    • Mammografi Skrining: Setiap 1-2 tahun untuk wanita >40 tahun atau sesuai rekomendasi dokter.
  • Modifikasi Gaya Hidup: Menjaga berat badan ideal, diet sehat, olahraga teratur, membatasi konsumsi alkohol.
  • Konseling Genetik: Untuk individu dengan riwayat keluarga kuat atau mutasi genetik yang diketahui.
  • Kemoprevensi: Penggunaan obat (misal Tamoxifen) pada individu risiko tinggi, namun jarang direkomendasikan secara rutin.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds