Kandidiasis

Kandidiasis, si 'jamur oportunistik' yang sering banget bikin masalah di kulit, mukosa, bahkan sampai sistemik! Dari ruam popok yang gemes sampai sariawan membandel, *Candida* spp. bisa jadi biang keladinya. Penting banget nih buat mahasiswa kedokteran untuk paham seluk-beluknya, apalagi sering keluar di UKMPPD. Yuk, kita kupas tuntas agar diagnosis dan tatalaksananya makin mantap!

Definisi

Kandidiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur dari genus Candida, terutama Candida albicans. Jamur ini merupakan flora normal pada kulit, saluran cerna, dan saluran genitourinaria, namun dapat menjadi patogen oportunistik pada kondisi tertentu.

Etiologi dan Faktor Risiko

  • Etiologi Utama: Candida albicans adalah spesies yang paling sering menyebabkan infeksi. Spesies lain seperti C. glabrata, C. tropicalis, dan C. krusei juga dapat menyebabkan kandidiasis.
  • Faktor Risiko (Predisposisi):
    • Imunosupresi: HIV/AIDS, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, kemoterapi, transplantasi organ.
    • Penyakit Kronis: Diabetes Mellitus (DM), hipotiroidisme, keganasan.
    • Perubahan Fisiologis: Kehamilan, usia ekstrem (bayi, lansia).
    • Obat-obatan: Penggunaan antibiotik spektrum luas (mengganggu flora normal), kontrasepsi oral.
    • Faktor Lokal: Kelembaban berlebih, maserasi, oklusi, obesitas, higiene buruk, trauma kulit, pemakaian gigi palsu.
    • Malnutrisi.

Klasifikasi dan Manifestasi Klinis

Kandidiasis dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasinya:

Tipe KandidiasisLokasi KhasManifestasi Klinis
Kandidiasis KutaneusLipatan kulit (inguinal, aksila, inframamma, intergluteal), sela jari tangan/kaki, area popok, kuku.
  • Intertriginosa: Eritema, maserasi, erosi, papul/pustul satelit di pinggir lesi utama.
  • Diaper Rash (Ruam Popok): Eritema terang, papul/vesikel, pustul satelit di area popok.
  • Erosio Interdigitalis Blastomycetica: Maserasi dan fisura di sela jari tangan/kaki.
  • Paronikia & Onikomikosis: Peradangan lipat kuku (merah, bengkak), kuku menebal, rapuh, diskolorasi.
Kandidiasis MukokutaneusRongga mulut, faring, esofagus, vulvovagina, penis, sudut bibir.
  • Oral (Thrush): Bercak putih pseudomembran (seperti susu kental) yang dapat dikerok, meninggalkan dasar eritematosa. Terutama di mukosa bukal, lidah, palatum.
  • Angular Cheilitis (Perleche): Eritema, fisura, maserasi di sudut bibir.
  • Vulvovaginitis: Pruritus vulva hebat, keputihan kental seperti keju cottage (curdy/cottage cheese), eritema, edema vulva.
  • Balanitis: Eritema, papul, pustul pada glans penis dan preputium.
Kandidiasis Sistemik/InvasifDarah (kandidemia), organ dalam (ginjal, jantung, otak, paru).Demam, menggigil, syok, disfungsi organ. Umumnya pada pasien imunokompromais berat atau pasca-operasi besar.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang:

  • Anamnesis: Keluhan gatal, rasa terbakar, nyeri, riwayat faktor risiko.
  • Pemeriksaan Fisik: Menemukan lesi khas sesuai lokasi.
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Pemeriksaan KOH 10-20%: Dari kerokan kulit atau usapan mukosa. Akan terlihat hifa semu (pseudohifa) dan blastospora (sel ragi). Ini adalah pemeriksaan diagnostik cepat yang paling sering dilakukan.
    • Kultur Jamur: Dengan media Saboraud Dextrose Agar (SDA) untuk mengidentifikasi spesies Candida.
    • Biopsi Kulit: Jarang dilakukan, hanya jika diagnosis tidak jelas.

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan kandidiasis dengan kondisi lain yang memiliki gambaran klinis serupa:

  • Dermatofitosis (Tinea): Terutama tinea kruris atau tinea pedis. Pada KOH, dermatofit akan menunjukkan hifa sejati.
  • Dermatitis Kontak Iritan/Alergi.
  • Psoriasis Inversa: Psoriasis yang mengenai lipatan kulit.
  • Eritrasma: Infeksi bakteri Corynebacterium minutissimum, memberikan fluoresensi merah koral pada lampu Wood.
  • Intertrigo Bakterial.

Tatalaksana

Tatalaksana meliputi penanganan faktor risiko dan pemberian antijamur:

  • Non-Farmakologis:
    • Kontrol faktor risiko: Kendalikan kadar gula darah pada DM, hindari kelembaban berlebih (keringkan lipatan kulit), gunakan pakaian longgar dan menyerap keringat.
    • Higiene yang baik.
    • Hindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu.
  • Farmakologis:
    • Topikal: Untuk kandidiasis kutaneus, oral ringan, dan vulvovaginitis ringan.
      • Antijamur Azol: Klotrimazol, Mikonazol, Ketokonazol krim/salep. Digunakan 2-3 kali sehari selama 1-4 minggu.
      • Nistatin: Krim, salep, suspensi oral (untuk kandidiasis oral).
    • Sistemik: Untuk kasus luas, kronis, rekuren, atau kandidiasis mukokutaneus berat dan sistemik.
      • Flukonazol: Pilihan utama untuk kandidiasis mukokutaneus dan vulvovaginitis rekuren. Dosis bervariasi tergantung indikasi.
      • Itrakonazol: Alternatif flukonazol.
      • Ketokonazol: Jarang digunakan sistemik karena efek samping hepatotoksik.
      • Amfoterisin B: Untuk kandidiasis sistemik berat dan resisten.

Edukasi dan Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk mencegah kekambuhan:

  • Menjaga kebersihan diri dan area lipatan kulit agar tetap kering.
  • Mengontrol penyakit penyerta seperti Diabetes Mellitus.
  • Menghindari penggunaan pakaian ketat atau bahan sintetis yang tidak menyerap keringat.
  • Mengganti popok bayi secara teratur.
  • Menghindari penggunaan antibiotik atau kortikosteroid topikal/sistemik yang tidak perlu.
  • Untuk vulvovaginitis, hindari douching vagina berlebihan, gunakan pakaian dalam katun.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds