Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah salah satu infeksi bakteri tersering yang akan sering Anda temui di praktik klinis. Mulai dari nyeri saat berkemih hingga demam tinggi, manifestasinya beragam dan bisa mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan tepat. Mahasiswa kedokteran wajib menguasai ISK, apalagi sering keluar di UKMPPD! Yuk, pahami seluk-beluknya, mulai dari etiologi, diagnosis, hingga tatalaksana terkini agar Anda siap menghadapi kasus ISK di ujian dan praktik!

Definisi

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah kondisi ketika mikroorganisme, umumnya bakteri, menginfeksi salah satu bagian dari sistem saluran kemih (ginjal, ureter, kandung kemih, atau uretra).

Etiologi

Sebagian besar ISK disebabkan oleh bakteri yang berasal dari flora normal usus.

  • Bakteri gram negatif: Escherichia coli (penyebab tersering, 80-90% kasus), Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis.
  • Bakteri gram positif: Staphylococcus saprophyticus (sering pada wanita muda), Enterococcus faecalis.
  • Penyebab lain (jarang): Jamur (pada pasien imunokompromais atau kateterisasi jangka panjang), virus.

Klasifikasi

ISK dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan komplikasi:

KriteriaISK BawahISK Atas
LokasiUretra (uretritis), Kandung Kemih (sistitis)Ginjal (pielonefritis)
Gejala KhasDisuria, frekuensi, urgensi, nyeri suprapubik. Umumnya tanpa demam.Demam, menggigil, nyeri pinggang (flank pain), nyeri ketok CVA (+).
KriteriaISK UncomplicatedISK Complicated
DefinisiISK pada individu sehat, tanpa kelainan struktural/fungsional saluran kemih, dan tanpa kondisi komorbid signifikan.ISK pada pasien dengan faktor risiko yang meningkatkan risiko kegagalan terapi atau komplikasi, seperti kelainan struktural/fungsional saluran kemih (batu, obstruksi, kateter), diabetes mellitus, kehamilan, imunosupresi, atau ISK pada pria.

Faktor Risiko

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena ISK:

  • Wanita: Uretra lebih pendek dan dekat dengan anus.
  • Aktivitas Seksual: Terutama pada wanita.
  • Penggunaan alat kontrasepsi: Diafragma dan spermisida.
  • Kehamilan: Perubahan hormonal dan anatomi.
  • Obstruksi saluran kemih: Batu saluran kemih, benign prostatic hyperplasia (BPH), striktur uretra, tumor.
  • Kateterisasi saluran kemih: Meningkatkan risiko masuknya bakteri.
  • Diabetes Mellitus: Neuropati kandung kemih, glukosuria.
  • Imunosupresi: HIV, terapi imunosupresan.
  • Anomali kongenital: Refluks vesikoureter.
  • Riwayat ISK sebelumnya.

Patofisiologi

Mayoritas ISK terjadi melalui jalur asenden (naik).

Bakteri dari perineum (area sekitar anus dan genital) masuk ke uretra, kemudian naik ke kandung kemih (menyebabkan sistitis). Jika tidak diobati, bakteri dapat terus naik melalui ureter ke ginjal (menyebabkan pielonefritis).

Faktor virulensi bakteri (misalnya fimbriae atau pili yang membantu perlekatan pada sel epitel urotelial) dan faktor host (seperti gangguan aliran urine, pH urine, dan respons imun) berperan penting dalam patogenesis ISK.

Manifestasi Klinis

Gejala ISK bervariasi tergantung lokasi infeksi:

  • Sistitis (ISK Bawah):
    • Disuria (nyeri atau rasa terbakar saat berkemih).
    • Poliuria (sering berkemih) dan urgensi (keinginan mendesak untuk berkemih).
    • Nyeri suprapubik atau nyeri perut bagian bawah.
    • Urine keruh atau berbau menyengat.
    • Kadang disertai hematuria (darah dalam urine).
    • Umumnya tidak disertai demam atau nyeri pinggang.
  • Pielonefritis (ISK Atas):
    • Demam (sering tinggi, >38°C) dan menggigil.
    • Nyeri pinggang (flank pain) unilateral atau bilateral.
    • Nyeri ketok CVA (Costovertebral Angle) positif.
    • Mual, muntah, dan malaise umum.
    • Gejala sistitis dapat menyertai.
    • Pasien tampak sakit berat.
  • ISK pada anak/lansia: Gejala bisa atipikal (misalnya demam tanpa lokalisasi, iritabilitas, anoreksia, atau penurunan status mental).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  • Anamnesis: Menanyakan gejala khas ISK, riwayat ISK sebelumnya, dan faktor risiko.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Sistitis: Nyeri tekan suprapubik.
    • Pielonefritis: Demam, nyeri tekan atau nyeri ketok CVA (+).
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Urinalisis:
      • Leukosituria (>5-10 leukosit/lapang pandang besar atau >10 leukosit/mm3).
      • Nitrit positif (menunjukkan adanya bakteri gram negatif yang mereduksi nitrat menjadi nitrit).
      • Esterase leukosit positif (enzim yang diproduksi oleh leukosit).
      • Bakteriuria (adanya bakteri dalam urine).
      • Hematuria (dapat terjadi).
      • Silinder leukosit (khas untuk pielonefritis).
    • Kultur Urine (Gold Standard):
      • Mengidentifikasi jenis bakteri dan uji sensitivitas antibiotik.
      • Kriteria positif bervariasi:
        • ISK tanpa komplikasi pada wanita: >105 CFU/mL urine midstream.
        • Pielonefritis atau ISK pada pria: >104 CFU/mL.
        • ISK dengan kateter: >103 CFU/mL.
    • Pencitraan (USG, CT scan): Dilakukan pada ISK berulang, ISK complicated, pielonefritis berat, atau jika dicurigai adanya obstruksi, batu, atau abses.

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi dapat memiliki gejala serupa dengan ISK:

  • Pada wanita: Vaginitis, servisitis, penyakit radang panggul (PID), uretritis non-gonore/gonore.
  • Pada pria: Prostatitis, epididimitis, uretritis.
  • Pada kedua jenis kelamin: Batu saluran kemih, apendisitis (nyeri perut kanan bawah), divertikulitis, sindrom nyeri kandung kemih/sistitis interstitial.

Tatalaksana

Tatalaksana ISK bertujuan untuk eradikasi bakteri, meredakan gejala, dan mencegah komplikasi. Pemilihan antibiotik dan durasi terapi disesuaikan dengan jenis ISK, faktor risiko pasien, dan pola resistensi lokal.

  • ISK Uncomplicated (Sistitis):
    • Antibiotik Oral Pilihan Pertama:
      • Nitrofurantoin: 100 mg PO bid x 5 hari.
      • Fosfomycin: 3 gram PO dosis tunggal.
      • Cotrimoxazole (Trimetoprim-Sulfametoksazol): 160/800 mg PO bid x 3 hari (jika resistensi lokal <20%).
    • Antibiotik Oral Lini Kedua: Fluorokuinolon (Ciprofloxacin, Levofloxacin) dapat digunakan jika pilihan pertama tidak cocok atau resisten, namun hindari penggunaan rutin karena risiko resistensi dan efek samping.
  • ISK Uncomplicated (Pielonefritis):
    • Antibiotik Oral:
      • Ciprofloxacin: 500 mg PO bid x 7 hari.
      • Levofloxacin: 750 mg PO qd x 5 hari.
    • Antibiotik IV (untuk pasien yang tidak bisa oral atau sakit berat): Ceftriaxone, Ciprofloxacin, Levofloxacin. Setelah perbaikan klinis, dapat dilanjutkan dengan antibiotik oral yang sesuai.
    • Durasi terapi umumnya 7-14 hari.
  • ISK Complicated:
    • Membutuhkan kultur urine dan uji sensitivitas antibiotik.
    • Sering memerlukan antibiotik intravena awal (misalnya sefalosporin generasi ketiga, aminoglikosida, atau karbapenem) sebelum de-eskalasi ke oral.
    • Identifikasi dan atasi faktor predisposisi (misalnya drainase obstruksi).
    • Durasi terapi umumnya 10-14 hari atau lebih lama.
  • ISK pada Kehamilan:
    • Penting untuk skrining dan tatalaksana bakteriuria asimptomatik.
    • Antibiotik aman: Amoxicillin-clavulanate, Cephalexin, Nitrofurantoin (hindari trimester 3), Fosfomycin.
    • Hindari: Cotrimoxazole (trimester 1 & 3), Fluorokuinolon, Tetrasiklin.
    • Durasi terapi umumnya 3-7 hari.

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan tepat, ISK dapat menyebabkan komplikasi serius:

  • Sepsis urosepsis: Infeksi menyebar ke aliran darah, berpotensi mengancam jiwa.
  • Abses ginjal atau perirenal.
  • Pielonefritis kronis: Dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen.
  • Gagal ginjal akut atau kronis (terutama pada ISK berulang atau ISK complicated yang tidak diobati).
  • Persalinan prematur atau berat badan lahir rendah (pada ISK selama kehamilan).

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk mencegah ISK berulang:

  • Minum air yang cukup: Membantu membilas bakteri dari saluran kemih.
  • Jangan menunda buang air kecil: Kosongkan kandung kemih secara teratur.
  • Bersihkan area genital dari depan ke belakang (pada wanita) setelah buang air besar untuk mencegah penyebaran bakteri dari anus ke uretra.
  • Buang air kecil setelah berhubungan seksual.
  • Hindari penggunaan produk kebersihan feminin yang dapat mengiritasi (misalnya sabun wangi, semprotan).
  • Ganti pakaian dalam secara teratur dan pilih bahan katun yang menyerap keringat.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds