Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi yang melibatkan saluran kemih, mulai dari uretra, kandung kemih, ureter, hingga ginjal. ISK merupakan salah satu infeksi bakteri yang paling sering dijumpai dalam praktik klinis, terutama pada perempuan.
Berdasarkan lokasi anatomis, ISK dibagi menjadi ISK bawah (sistitis, uretritis) dan ISK atas (pielonefritis). Berdasarkan komplikasi, ISK dibedakan menjadi ISK tidak berkomplikasi (pada perempuan hamil muda, tanpa kelainan anatomis) dan ISK berkomplikasi (pada kehamilan, kelainan struktural, atau kondisi immunocompromised).
Gejala lokal/saluran kemih: Disuria (nyeri saat berkemih), frekuensi BAK meningkat, urgensi, nokturia, hematuria, nyeri suprapubik.
Gejala sistemik: Selain gejala saluran kemih, penting untuk menanyakan adanya gejala sistemik seperti demam (menunjukkan kemungkinan pielonefritis atau sepsis), menggigil, mual, muntah, malaise, dan nyeri pinggang.
Riwayat penting: Riwayat ISK sebelumnya, kehamilan, kelainan anatomis saluran kemih, penggunaan kateter, diabetes melitus, aktivitas seksual.
Pemeriksaan umum: Kesadaran, tanda vital (suhu, tekanan darah, nadi) untuk mendeteksi kemungkinan sepsis.
Pemeriksaan abdomen: Inspeksi, palpasi untuk mendeteksi adanya nyeri tekan suprapubik (cistitis) atau nyeri ketok pinggang/costovertebral angle tenderness (pielonefritis).
Pemeriksaan genitalia: Pada perempuan, perlu dilakukan inspeksi untuk menyingkirkan penyebab lain seperti vaginitis atau penyakit radang panggul.
Urinalisis: Pemeriksaan analisis urin untuk mendiagnosis ISK memperhatikan komponen berikut:
Kultur urine: Pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifikasi jenis bakteri spesifik. Kultur urine dianggap positif jika ditemukan pertumbuhan bakteri ≥ 10⁵ CFU/mL. Bakteri penyebab tersering adalah Escherichia coli (75-95%), diikuti Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis, dan Staphylococcus saprophyticus.
Pemeriksaan tambahan: Darah lengkap (leukositosis pada pielonefritis), fungsi ginjal, kultur darah (jika dicurigai sepsis).
Antibiotik empiris untuk ISK tidak berkomplikasi diberikan selama 3-5 hari. Pilihan antibiotik lini pertama:
Pilihan antibiotik disesuaikan dengan pola resistensi lokal dan hasil kultur urine jika tersedia.
Pielonefritis akut: Komplikasi serius berupa infeksi parenkim ginjal. Gejala: demam tinggi, menggigil, nyeri pinggang, mual muntah. Tatalaksana: antibiotik intravena (siprofloksasin IV, seftriakson, atau aminoglikosida).
Sepsis: Komplikasi yang mengancam jiwa. Tatalaksana:
Pielonefritis kronis: Dapat menyebabkan gagal ginjal kronis, hipertensi, dan scarring ginjal.
Pencegahan primer:
Pencegahan rekurensi:
Follow-up: Kultur urine kontrol 1-2 minggu setelah terapi pada kasus pielonefritis atau ISK berkomplikasi.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi