Infeksi HIV/AIDS

Infeksi HIV/AIDS masih menjadi tantangan kesehatan global yang serius. Sebagai calon dokter, pemahaman mendalam tentang patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, hingga tatalaksana penyakit ini WAJIB kamu kuasai. Materi ini krusial untuk UKMPPD dan praktik klinis sehari-hari, apalagi angka kasusnya masih tinggi di Indonesia. Yuk, kita bedah tuntas materi penting ini agar kamu siap menghadapi berbagai skenario!

Definisi

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menyerang sistem imun tubuh, khususnya sel T CD4+. Infeksi ini menyebabkan kerusakan progresif pada sistem kekebalan.

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah stadium akhir infeksi HIV, yang ditandai dengan penurunan imunitas berat hingga munculnya infeksi oportunistik atau keganasan tertentu yang mendefinisikan AIDS.

Etiologi

Penyebab infeksi adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV). Ada dua tipe utama:

  • HIV-1: Tipe paling umum di seluruh dunia dan lebih virulen.
  • HIV-2: Kurang virulen, predominan di Afrika Barat.

Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung virus dalam jumlah yang cukup tinggi, yaitu:

  • Cairan seksual: Cairan vagina, semen.
  • Darah dan produk darah: Transfusi darah yang terkontaminasi, penggunaan jarum suntik bersama pada pengguna narkoba suntik.
  • Cairan ibu ke anak (transmisi vertikal): Selama kehamilan (intrauterin), persalinan (intrapartum), atau melalui ASI.

Patofisiologi

HIV menargetkan sel yang mengekspresikan reseptor CD4, terutama limfosit T helper, makrofag, dan sel dendritik. Proses infeksi dan replikasi virus meliputi:

  1. Virus berikatan dengan reseptor CD4 dan koreseptor (CCR5 atau CXCR4) pada permukaan sel inang, kemudian masuk ke dalam sel.
  2. Enzim reverse transcriptase mengubah RNA virus menjadi DNA pro-virus.
  3. DNA pro-virus kemudian berintegrasi ke dalam genom sel inang dengan bantuan enzim integrase.
  4. Sel inang yang terinfeksi akan memproduksi komponen virus baru, yang kemudian dirakit menjadi virion baru dan dilepaskan untuk menginfeksi sel lain.
  5. Penurunan jumlah sel CD4+ T secara progresif menyebabkan imunodefisiensi berat, membuat tubuh rentan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan.

Manifestasi Klinis

Perjalanan infeksi HIV dibagi menjadi beberapa fase:

  • Fase Akut (Sindrom Retroviral Akut):

    Terjadi 2-4 minggu setelah infeksi. Gejala mirip flu: demam, ruam makulopapular, limfadenopati, nyeri tenggorokan, mialgia, ulkus oral/genital. Sering tidak terdiagnosis karena non-spesifik.

  • Fase Asimtomatik (Laten Klinis):

    Virus tetap aktif bereplikasi, tapi gejala klinis minimal atau tidak ada. Dapat berlangsung bertahun-tahun (rata-rata 8-10 tahun). Limfadenopati persisten generalisata (PGL) dapat ditemukan.

  • Fase Simtomatik (AIDS):

    Ditandai dengan jumlah CD4+ T < 200 sel/mm³ atau munculnya kondisi definisi AIDS. Manifestasi meliputi:

    • Infeksi oportunistik: Pneumocystis jirovecii pneumonia (PCP), Toksoplasmosis serebral, Kandidiasis esofagus, Tuberkulosis (terutama ekstrapulmoner), Cryptococcosis.
    • Keganasan: Sarkoma Kaposi, Limfoma non-Hodgkin, Kanker serviks invasif.
    • Gejala konstitusional: Demam berkepanjangan, diare kronis (>1 bulan), penurunan berat badan >10% (wasting syndrome), kelelahan kronis.
    • Manifestasi neurologis: Ensefalopati HIV, neuropati perifer.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis HIV ditegakkan melalui kombinasi pemeriksaan laboratorium:

  • Skrining:
    • Tes cepat (rapid test): Deteksi antibodi HIV. Hasil reaktif memerlukan konfirmasi.
    • ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay): Deteksi antibodi HIV atau antigen p24.
    • Prinsip di Indonesia: menggunakan 3 reagen berbeda (sensitivitas dan spesifisitas) secara paralel atau sekuensial.
  • Konfirmasi:
    • PCR (Polymerase Chain Reaction): Deteksi materi genetik virus (RNA atau DNA provirus). Digunakan untuk diagnosis pada bayi berusia <18 bulan (karena antibodi ibu masih ada) atau kasus indeterminate.
    • Western Blot: Deteksi antibodi terhadap protein HIV spesifik (jarang digunakan lagi di Indonesia).

Pemeriksaan Penunjang Lain:

  • Jumlah CD4+ T limfosit: Indikator status imun dan progresivitas penyakit, serta panduan untuk profilaksis infeksi oportunistik.
  • Viral Load (jumlah RNA HIV): Mengukur jumlah virus dalam darah, indikator replikasi virus dan respons terhadap terapi antiretroviral (ART).
  • Pemeriksaan untuk infeksi oportunistik (misal: BTA sputum, kultur darah, CT scan kepala).

Klasifikasi (WHO Clinical Staging)

Klasifikasi WHO digunakan untuk menilai stadium klinis infeksi HIV dan memandu keputusan tatalaksana. Jumlah CD4+ T limfosit sering digunakan bersamaan dengan kondisi klinis.

Stadium Klinis WHOKondisi KlinisJumlah CD4+ T
Stadium IAsimtomatik, limfadenopati persisten generalisata>500 sel/mm³
Stadium IIPenurunan BB <10%, infeksi saluran napas atas berulang, herpes zoster, dermatitis seboroik, ulkus oral berulang, onikomikosis200-500 sel/mm³
Stadium IIIPenurunan BB >10%, diare kronis >1 bulan, demam >1 bulan, kandidiasis oral persisten, TB paru, limfadenopati generalisata, anemia, neutropenia, trombositopenia kronis<200 sel/mm³ atau kondisi definisi AIDS
Stadium IV (AIDS)Pneumocystis pneumonia (PCP), toksoplasmosis serebral, kandidiasis esofagus, sarkoma Kaposi, limfoma, wasting syndrome, ensefalopati HIV, TB ekstrapulmoner, retinitis CMV<200 sel/mm³ atau kondisi definisi AIDS

Tatalaksana

Tatalaksana utama infeksi HIV adalah Terapi Antiretroviral (ART).

Tujuan ART:

  • Menekan replikasi virus hingga viral load tidak terdeteksi.
  • Meningkatkan jumlah sel CD4+ T.
  • Mencegah infeksi oportunistik dan keganasan terkait HIV.
  • Meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang harapan hidup pasien.
  • Mencegah penularan HIV (Treatment as Prevention - TasP).

Prinsip ART:

  • Kombinasi 3 obat dari 2 atau lebih golongan berbeda untuk mencegah resistensi.
  • Pengobatan seumur hidup.
  • Kepatuhan minum obat sangat penting untuk keberhasilan terapi dan mencegah resistensi.
  • Indikasi inisiasi ART: Semua individu dengan HIV tanpa memandang jumlah CD4 (strategi "Treat All").

Golongan Obat ART:

  • Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTIs): Tenofovir (TDF/TAF), Lamivudin (3TC), Emtricitabine (FTC), Abacavir (ABC), Zidovudine (AZT).
  • Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTIs): Efavirenz (EFV), Nevirapine (NVP), Rilpivirine (RPV), Doravirine (DOR).
  • Protease Inhibitors (PIs): Lopinavir/Ritonavir (LPV/r), Atazanavir/Ritonavir (ATV/r), Darunavir/Ritonavir (DRV/r).
  • Integrase Strand Transfer Inhibitors (INSTIs): Dolutegravir (DTG), Raltegravir (RAL), Bictegravir (BIC), Elvitegravir (EVG).

Regimen Lini Pertama Umum di Indonesia (Dewasa): Kombinasi TDF/3TC/DTG (Tenofovir/Lamivudin/Dolutegravir) atau TDF/3TC/EFV (Tenofovir/Lamivudin/Efavirenz).

Tatalaksana Infeksi Oportunistik:

  • Pemberian profilaksis (misal: Kotrimoksazol untuk PCP jika CD4 <200 sel/mm³).
  • Terapi spesifik untuk setiap infeksi oportunistik yang muncul.

Pencegahan & Edukasi

Pencegahan infeksi HIV sangat penting dan melibatkan berbagai strategi:

  • Prinsip ABCDE:
    • Abstinence (tidak berhubungan seks).
    • Be faithful (setia pada satu pasangan).
    • Condom (gunakan kondom secara konsisten dan benar).
    • Drug no (hindari penggunaan narkoba suntik dan berbagi jarum).
    • Education & Equipment (edukasi tentang HIV dan penggunaan alat steril).
  • PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis): Pemberian ART pada individu HIV negatif yang berisiko tinggi terpapar HIV (misal: pasangan ODHA).
  • PEP (Post-Exposure Prophylaxis): Pemberian ART pada individu HIV negatif setelah terpapar HIV (misal: pajanan okupasional, kekerasan seksual). Harus diberikan dalam 72 jam setelah pajanan.
  • PMTCT (Prevention of Mother-to-Child Transmission): Skrining HIV pada semua ibu hamil, pemberian ART pada ibu hamil positif HIV, persalinan yang aman, dan pemberian nutrisi bayi yang tepat (misal: susu formula jika memungkinkan).
  • Edukasi: Pentingnya mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, serta mendorong kepatuhan terapi dan perilaku sehat.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds