Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah infeksi sistemik yang merusak sistem imun dengan menargetkan sel CD4+ T lymphocytes. Tanpa pengobatan, virus ini secara progresif melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit lainnya. Diagnosis yang cepat dan akurat, serta pemberian terapi antiretroviral yang tepat, adalah kunci untuk menghentikan perkembangan penyakit dan mempertahankan kualitas hidup pasien.
Diagnosis HIV memerlukan pendekatan bertahap yang dimulai dengan tes awal, kemudian konfirmasi untuk menghindari hasil positif palsu.
Tes Antibodi HIV (ELISA Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)
ELISA adalah tes awal yang paling sering digunakan karena sensitivitasnya tinggi (>99%) dalam mendeteksi antibodi terhadap HIV. Tes ini dapat dilakukan pada darah, plasma, atau cairan mulut. ELISA positif memerlukan konfirmasi dengan tes lain.
Tes Konfirmasi
Hasil ELISA positif harus dikonfirmasi menggunakan salah satu dari dua metode:
Pentingnya Pemeriksaan CD4 dan Viral Load
Setelah diagnosis dikonfirmasi, pemeriksaan awal harus meliputi:
Prinsip Dasar Terapi Antiretroviral
Terapi antiretroviral (ART) bertujuan untuk menekan replikasi HIV dan memulihkan fungsi imun. Regimen standar menggunakan kombinasi minimal tiga obat dari dua kelas yang berbeda. Strategi ini disebut "kombinasi terapi" dan dirancang untuk:
Regimen Terapi Standar
Menurut pedoman nasional, terapi awal biasanya terdiri dari:
Kombinasi spesifik dipilih berdasarkan tolerabilitas, efektivitas, dan status CD4 pasien.
Konseling dan Pemantauan
Kepatuhan terhadap regimen obat adalah aspek kritis kesuksesan terapi. Konseling harus mencakup:
Jadwal Pemantauan
Setelah memulai terapi:
Anamnesis yang cermat membantu mengidentifikasi penyebab hipertensi dan menilai adanya komplikasi.
Riwayat Tekanan Darah
Tanyakan kapan tekanan darah pasien pertama kali meningkat, berapa tingkat keparahannya, dan apakah pasien sudah pernah menjalani pengobatan sebelumnya. Ini membantu membedakan hipertensi primer (esensial) dari hipertensi sekunder.
Faktor Risiko yang Dapat Diubah
Gejala dan Komplikasi
Tanyakan tentang:
Pengukuran Tekanan Darah yang Akurat
Pengukuran tekanan darah harus dilakukan dengan benar untuk menghindari diagnosis yang salah:
Pemeriksaan Fisik
Periksa dengan teliti untuk tanda-tanda kerusakan organ:
Pemeriksaan Penunjang Laboratorium dan Elektrokardiografi
Pasien hipertensi memerlukan pemeriksaan baseline untuk menilai kerusakan organ:
Hipertensi non-emergensi adalah peningkatan tekanan darah kronis tanpa bukti kerusakan organ yang akut. Tujuan terapi adalah menurunkan tekanan darah secara bertahap untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
Modifikasi Gaya Hidup
Sebelum atau bersamaan dengan pemberian obat, modifikasi gaya hidup adalah langkah pertama:
Terapi Farmakologi
Jika modifikasi gaya hidup tidak mencukupi atau jika pasien memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, obat antihipertensi harus dimulai. Obat-obatan utama termasuk:
Tujuan Terapi
Target tekanan darah untuk kebanyakan pasien adalah
Pengertian Hipertensi Emergensi
Hipertensi emergensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi (biasanya >180/120 mmHg) disertai bukti kerusakan organ akut. Ini termasuk:
Kondisi ini memerlukan penurunan tekanan darah yang cepat dengan obat parenteral.
Obat-Obat Lini Pertama untuk Hipertensi Emergensi
Strategi Penurunan Tekanan Darah
Penting untuk menurunkan tekanan darah secara bertahap (bukan tiba-tiba):
Pemantauan Intensif
Pasien dengan hipertensi emergensi memerlukan:
Istilah hipertensi urgensi kadang digunakan untuk menggambarkan peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi tanpa kerusakan organ akut. Kondisi ini memerlukan penurunan tekanan darah dalam beberapa jam (biasanya 24 jam), tetapi tidak memerlukan pemberian obat parenteral. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat oral seperti nifedipine long-acting atau labetalol oral.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi