Infeksi cacing atau helmintiasis adalah kondisi medis yang disebabkan oleh keberadaan cacing parasit dalam tubuh manusia. Mayoritas infeksi cacing yang relevan di Indonesia adalah cacing yang menginfeksi saluran pencernaan. Prevalensi infeksi cacing masih tinggi di negara berkembang, terutama di daerah dengan sanitasi buruk dan akses air bersih terbatas, menjadikannya masalah kesehatan masyarakat yang signifikan.
| Nama Penyakit (Cacing) | Etiologi (Spesies Cacing) | Transmisi | Manifestasi Klinis Kunci | Diagnosis Kunci | Tatalaksana Pilihan |
|---|---|---|---|---|---|
| Ascariasis | Ascaris lumbricoides | Fekal-oral, menelan telur infektif. | Asimptomatik, nyeri abdomen, malnutrisi.
| Penemuan telur (bentuk oval, berdinding tebal) dalam feses (pemeriksaan mikroskopis). Penemuan cacing dewasa keluar dari anus/mulut. | Albendazol (400 mg dosis tunggal) Mebendazol (500 mg dosis tunggal atau 100 mg BID x 3 hari) |
| Ankilostomiasis (Hookworm) | Ancylostoma duodenale, Necator americanus | Larva filariform menembus kulit (sering kaki). | Fase penetrasi: Ground itch (dermatitis pruritik di tempat penetrasi). Fase migrasi: Batuk, wheezing. Fase cacing dewasa: Nyeri epigastrium, mual, muntah, diare. Kronis: Anemia defisiensi besi (pucat, lemah, pica) akibat kehilangan darah kronis. | Penemuan telur (bentuk oval, dinding tipis, berisi morula) dalam feses (pemeriksaan mikroskopis). | Albendazol (400 mg dosis tunggal) Mebendazol (500 mg dosis tunggal atau 100 mg BID x 3 hari) Suplementasi besi untuk anemia. |
| Trichuriasis | Trichuris trichiura | Fekal-oral, menelan telur infektif. | Asimptomatik, nyeri abdomen, diare kronis. Pada infeksi berat: Prolaps rektum, anemia, malnutrisi, pertumbuhan terhambat. | Penemuan telur (bentuk tempayan/lemon, dengan dua polar plug) dalam feses (pemeriksaan mikroskopis). | Albendazol (400 mg/hari x 3 hari) Mebendazol (100 mg BID x 3 hari) |
| Enterobiasis (Oxyuriasis) | Enterobius vermicularis | Fekal-oral, autoinfeksi, inhalasi telur. | Pruritus ani nokturna (gatal di sekitar anus terutama malam hari). Iritabilitas, insomnia, infeksi sekunder kulit perianal. Pada wanita: Vulvovaginitis, infeksi saluran kemih. | Scotch tape test (pagi hari sebelum defekasi/mandi, telur perianal). Tidak ditemukan telur dalam feses. | Pirantel pamoat (11 mg/kg BB dosis tunggal, maks 1 gram) Albendazol (400 mg dosis tunggal) Mebendazol (100 mg dosis tunggal) Pengobatan diulang 2 minggu kemudian, obati seluruh anggota keluarga. |
| Strongyloidiasis | Strongyloides stercoralis | Larva filariform menembus kulit, autoinfeksi, hiperinfeksi. | Fase penetrasi: Larva currens (urtikaria linear, migrasi cepat). Fase intestinal: Nyeri epigastrium, diare, malabsorpsi. Sindrom Hiperinfeksi: Pada imunosupresi (kortikosteroid, HIV), larva menyebar luas ke paru, otak, hati, menyebabkan pneumonia, sepsis, meningitis, fatal. | Penemuan larva rhabditiform/filariform dalam feses (teknik Baermann, Harada-Mori, agar plate culture). Eosinofilia. | Ivermectin (200 mcg/kg BB/hari x 1-2 hari) Albendazol (400 mg BID x 7 hari) sebagai alternatif. |
| Taeniasis | Taenia saginata (sapi), Taenia solium (babi) | Menelan daging sapi/babi mentah/kurang matang mengandung sistiserkus (larva). | Asimptomatik, nyeri epigastrium, mual, diare. Pada T. saginata: Sering ditemukan proglotid keluar spontan dari anus. Pada T. solium: Risiko sistiserkosis (jika menelan telur cacing, larva menyebar ke otot, otak, mata). | Penemuan proglotid atau telur (bentuk bulat, berdinding tebal, embrio heksakan) dalam feses (pemeriksaan mikroskopis). | Praziquantel (5-10 mg/kg BB dosis tunggal) Niclosamide (2 gram dosis tunggal) |
Tatalaksana infeksi cacing secara umum melibatkan pemberian obat antihelmintik yang sesuai dengan jenis cacing. Penting untuk diingat bahwa beberapa obat memiliki spektrum luas, sementara yang lain lebih spesifik.
Edukasi pasien meliputi:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi