Imunisasi dan Jadwal Vaksinasi Anak

Imunisasi adalah salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif, lho! Sebagai calon dokter, pemahaman mendalam tentang jenis vaksin, jadwal, dan prinsip imunisasi sangat krusial, bukan hanya untuk praktik sehari-hari tapi juga untuk sukses di UKMPPD. Yuk, kuasai materi penting ini agar si kecil terlindungi optimal dan Anda siap hadapi ujian!

Definisi Imunisasi

Imunisasi adalah upaya untuk membuat seseorang kebal terhadap suatu penyakit tertentu dengan cara memasukkan antigen (vaksin) ke dalam tubuh.

Tujuannya adalah merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi dan sel memori tanpa harus mengalami penyakitnya.

Ada dua jenis utama:

  • Imunisasi Aktif: Pemberian antigen (vaksin) untuk merangsang pembentukan antibodi dan sel memori oleh tubuh sendiri. Efek protektif bertahan lama.
  • Imunisasi Pasif: Pemberian antibodi (imunoglobulin) yang sudah jadi dari luar. Efek protektif cepat namun sementara.

Tujuan Imunisasi

Tujuan utama imunisasi meliputi:

  • Melindungi individu dari penyakit infeksi yang berbahaya.
  • Menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity), di mana sebagian besar populasi yang sudah kebal melindungi individu yang tidak dapat diimunisasi (misalnya karena kontraindikasi medis).
  • Mencegah wabah penyakit menular.

Jenis Vaksin Berdasarkan Kandungan

Vaksin dapat diklasifikasikan berdasarkan kandungannya:

  • Vaksin Hidup Dilemahkan (Live Attenuated Vaccines): Mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan sehingga tidak menyebabkan penyakit pada individu sehat.
    • Contoh: BCG, Polio oral (OPV), Campak, MMR (Measles, Mumps, Rubella), Varisela, Rotavirus, Demam Kuning.
    • Umumnya memberikan respons imun yang kuat dan tahan lama, seringkali hanya membutuhkan satu atau dua dosis.
  • Vaksin Inaktivasi (Inactivated Vaccines): Mengandung mikroorganisme yang telah dimatikan atau bagian dari mikroorganisme tersebut (toksoid, subunit, konjugat).
    • Contoh: DPT (difteri, pertusis, tetanus), Polio injeksi (IPV), Hepatitis B, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), Pneumokokus (PCV), Influenza, Japanese Encephalitis, HPV, Hepatitis A, Tifoid.
    • Cenderung membutuhkan dosis berulang (booster) untuk mempertahankan kekebalan.

Jadwal Imunisasi Dasar Anak (Rekomendasi IDAI 2020)

Penting untuk memahami jadwal imunisasi dasar yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ini adalah panduan utama untuk praktik di Indonesia dan sering keluar di UKMPPD.

UsiaVaksinKeterangan
Saat LahirHepatitis B (HB0)Diberikan < 24 jam, diikuti Vitamin K1. Jika ibu HBsAg (+), HBIG diberikan bersamaan di lokasi berbeda.
Polio (OPV0/IPV)OPV0 diberikan saat lahir, dilanjutkan OPV/IPV pada usia 2, 3, 4 bulan. IPV minimal 2 dosis, idealnya 3 dosis.
1 BulanBCGIdealnya usia 0-2 bulan. Jika >3 bulan, tes Mantoux dulu.
2 BulanDPT-HB-Hib 1DPT: Pertusis sel utuh (wP) atau aseluler (aP).
Polio 1 (OPV/IPV)
Rotavirus 1Pilihan, dimulai usia 6-12 minggu.
PCV 1Pilihan, dimulai usia 2 bulan.
3 BulanDPT-HB-Hib 2
Polio 2 (OPV/IPV)
Rotavirus 2
4 BulanDPT-HB-Hib 3
Polio 3 (OPV/IPV)
PCV 2
6 BulanRotavirus 3Jika menggunakan vaksin 3 dosis.
Influenza 1Pilihan, dimulai usia 6 bulan, diulang tiap tahun.
9 BulanCampak/MRJika diberikan MR, dosis kedua pada usia 18 bulan.
12 BulanPCV 3 (Booster)
Japanese Encephalitis (JE)Pilihan, daerah endemis.
Varisela 1Pilihan.
18 BulanDPT-HB-Hib (Booster)
Polio (Booster)
Campak/MR 2Jika dosis pertama MR diberikan pada 9 bulan.
2 TahunHepatitis A 1Pilihan.
Tifoid PolisakaridaPilihan, diulang tiap 3 tahun.
5-6 TahunDPT (Booster)
Campak/MR (Booster)
Polio (Booster)
Varisela 2Jika dosis pertama diberikan saat 12 bulan.
10-12 TahunHPV2 dosis dengan interval 6-12 bulan.

Prinsip Umum Imunisasi

Beberapa prinsip penting dalam pelaksanaan imunisasi yang perlu diingat:

  • Tidak ada kontraindikasi mutlak untuk imunisasi kecuali reaksi anafilaksis berat terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin.
  • Penyakit ringan (flu, batuk tanpa demam tinggi) bukan kontraindikasi. Demam tinggi (≥38,5°C) atau infeksi akut berat adalah penundaan.
  • Vaksin dapat diberikan bersamaan pada hari yang sama di lokasi suntikan yang berbeda, kecuali jika ada rekomendasi khusus.
  • Interval minimal antar dosis vaksin yang sama harus dipatuhi. Jika interval lebih panjang, tidak perlu mengulang dari awal, cukup lanjutkan dosis berikutnya.
  • Vaksin hidup (misalnya MMR, Varisela) tidak boleh diberikan bersamaan atau dalam interval < 4 minggu, kecuali jika diberikan pada hari yang sama.
  • Pemberian imunoglobulin dapat mengganggu respons terhadap vaksin hidup (MMR, Varisela), sehingga perlu penundaan.
  • Pada bayi prematur, jadwal imunisasi mengikuti usia kronologis, kecuali jika berat badan sangat rendah saat lahir.

Kontraindikasi Imunisasi

Penting untuk mengetahui kondisi yang menjadi kontraindikasi imunisasi:

  • Kontraindikasi Mutlak:
    • Reaksi anafilaksis terhadap dosis vaksin sebelumnya atau komponen vaksin.
    • Imunosupresi berat (HIV simtomatik, terapi kortikosteroid dosis tinggi jangka panjang, kemoterapi, radioterapi) untuk vaksin hidup.
  • Kontraindikasi Relatif/Penundaan:
    • Demam tinggi (≥38,5°C) atau infeksi akut berat.
    • Riwayat kejang demam (untuk DPT wP, sebaiknya diganti DPT aP).
    • Ensefalopati dalam 7 hari setelah imunisasi DPT sebelumnya.
    • Kehamilan (untuk vaksin hidup, kecuali risiko paparan tinggi seperti tetanus toxoid pada ibu hamil).

Efek Samping (KIPI) Imunisasi

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan yang terjadi setelah imunisasi dan diduga berhubungan dengan imunisasi.

Umumnya bersifat ringan dan sementara:

  • Lokal: Nyeri, kemerahan, bengkak di lokasi suntikan.
  • Sistemik: Demam ringan, rewel, nyeri otot, nyeri sendi, sakit kepala.
  • Jarang tapi serius: Reaksi anafilaksis, kejang, ensefalopati (sangat jarang).

Edukasi orang tua mengenai KIPI dan cara penanganannya sangat penting.

Penyimpanan Vaksin (Cold Chain)

Pentingnya menjaga suhu vaksin tetap stabil dari pabrik hingga pemberian (rantai dingin/cold chain) untuk memastikan potensi vaksin tetap terjaga.

Suhu ideal sebagian besar vaksin adalah +2°C hingga +8°C. Beberapa vaksin (mis. OPV) memerlukan suhu beku.

Referensi

Customer Support umeds