Impetigo adalah infeksi kulit bakteri superfisial yang sangat menular, terutama menyerang anak-anak. Penyakit ini disebabkan oleh dua organisme utama: *Staphylococcus aureus* dan *Streptococcus* grup A. Pemahaman tentang perbedaan antara impetigo bulosa dan nonbulosa sangat penting, karena kedua tipe ini memiliki presentasi klinis yang berbeda namun tetap menjadi penyakit yang sama secara etiologis.
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena impetigo. Faktor-faktor ini termasuk luka kulit minor seperti gigitan serangga, abrasi, atau laserasi, serta kondisi kulit yang sudah ada sebelumnya seperti dermatofitosis, herpes simpleks, atau varisela. Luka bakar termal juga merupakan pintu masuk yang ideal untuk bakteri penyebab impetigo.
Impetigo bulosa ditandai dengan pembentukan bulaâgelembung berisi cairan yang lebih besar dari vesikel. Karakteristik penting yang membedakan impetigo bulosa adalah tidak adanya tanda Nikolsky (tanda yang menunjukkan pemisahan lapisan kulit dengan gesekan ringan, biasa dilihat pada penyakit pemfigus).
Perjalanan klinis impetigo bulosa mengikuti pola yang konsisten:
Pemahaman tentang pola ini penting karena membantu membedakan impetigo dari penyakit vesikubulosus lainnya.
Impetigo nonbulosa adalah tipe impetigo yang lebih sering ditemukan (sekitar 80% dari semua kasus impetigo). Perkembangan lesi mengikuti urutan yang khas:
Evolusi lesi impetigo nonbulosa:
Lesi dimulai sebagai makula eritematosa kecil (berukuran sekitar 2 mm), yaitu area kulit yang merah tanpa pembengkakan. Area ini dengan cepat berkembang menjadi vesikel atau pustula (gelembung berisi nanah). Dalam waktu singkat, lesi evolusi menjadi plak dengan krusta berwarna kuning keemasan yang sangat khasâsering disebut sebagai "honey-colored crust" atau krusta seperti madu. Krusta ini merupakan nanah yang telah mengering dan merupakan karakteristik patognomonik (ciri khas) impetigo nonbulosa.
Penting untuk diperhatikan bahwa lesi ini tidak terisolasi. Seringkali, makula eritematosa mengelilingi area krusta pusat. Jika tidak diobati, bakteri dapat menyebar melalui autoinokulasi (penularan dari penderita ke diri sendiri), menciptakan lesi satelit di sekitar lesi awal. Pola penyebaran ini menghasilkan penampilan yang lebih ekstensif dan dapat memicu respons inflamasi yang lebih luas.
Diagnosis impetigo pada dasarnya adalah klinis, berdasarkan pemeriksaan fisik yang teliti dengan pengenalan manifestasi klinis yang telah dijelaskan di atas. Namun, pemeriksaan penunjang dapat membantu mengonfirmasi diagnosis dan mengidentifikasi organisme penyebab.
Pemeriksaan Gram merupakan pemeriksaan laboratorium sederhana yang berguna. Apusan dari cairan lesi atau krusta akan menunjukkan kokus gram-positif yang tersusun berkelompok (kluster), yang sesuai dengan morfologi *Staphylococcus aureus* atau *Streptococcus* grup A.
Jika respons klinis terhadap pengobatan empiris tidak memuaskan, atau pada kasus yang lebih berat, kultur dari lesi atau aspirat sangat direkomendasikan. Kultur dapat mengidentifikasi organisme spesifik dan, yang sangat penting, mendeteksi *Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus* (MRSA), yang memerlukan pendekatan terapi berbeda.
Pemeriksaan histopatologi jarang dilakukan untuk diagnosis impetigo, namun jika dilakukan akan menunjukkan:
Langkah-langkah dasar ini selalu menjadi fondasi penanganan:
Terapi topikal adalah pilihan utama untuk kasus ringan hingga sedang. Dua agen topikal pilihan adalah:
Kedua obat ini diberikan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari. Langkah penting yang sering terlupakan adalah pengangkatan krusta sebelum aplikasi obat, karena krusta mencegah penetrasi obat ke fokus infeksi.
Terapi sistemik diperlukan pada kasus berat atau ketika lesi tersebar luas.
Lini pertama untuk terapi sistemik:
Lini kedua (untuk resistensi atau intoleransi):
Untuk MRSA ( *Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus* ):
Pemilihan obat harus didasarkan pada hasil kultur dan sensitifitas jika tersedia, serta pola resistensi lokal di komunitas.
Impetigo memiliki prognosis yang baik. Penyakit ini dapat sembuh secara spontan dalam 2-3 minggu tanpa pengobatan. Namun, pemberian terapi medikamentosa sangat penting karena dapat mempercepat penyembuhan secara signifikan dan, yang sama pentingnya, mengurangi penularan ke orang lain dan area kulit lainnya.
Meskipun jarang, impetigo dapat menghasilkan komplikasi yang serius jika tidak ditangani dengan tepat:
Kesadaran tentang komplikasi potensial ini menekankan pentingnya diagnosis dini dan pengobatan yang adekuat.
Strategi pencegahan berfokus pada pengendalian penularan:
Folikulitis adalah peradangan pada folikel rambut yang biasanya disebabkan oleh bakteri *Staphylococcus aureus* . Untuk memahami mengapa *S. aureus* begitu sering menjadi penyebab, penting mengetahui epidemiologi patogen ini: sekitar 20% dari populasi umum adalah pembawa asimtomatik *S. aureus* , dengan organisme ini berkolonisasi di hidung, aksila (ketiak), atau perineum. Reservoir alami ini membuat *S. aureus* menjadi sumber utama infeksi folikulitis, baik melalui autoinokulasi maupun transmisi antar individu.
Berbagai kondisi dan situasi meningkatkan risiko pengembangan folikulitis:
Pemahaman tentang faktor-faktor ini membantu dalam strategi pencegahan dan identifikasi pasien berisiko tinggi.
Folikulitis superfisial, juga dikenal sebagai impetigo folikular atau Bockhart, melibatkan inflamasi terbatas pada bagian superfisial folikel rambut, khususnya infundibulum (bagian atas folikel).
Presentasi klinis folikulitis superfisial mencakup:
Karakteristik superfisial dari kondisi ini membuat prognosis jangka panjang sangat baik tanpa risiko parut yang signifikan.
Folikulitis profunda melibatkan seluruh kedalaman folikel rambut dan struktur sekitarnya, menghasilkan peradangan yang lebih berat dibanding tipe superfisial. Istilah sycosis barbae atau sycosis vulgaris digunakan untuk mendeskripsikan kondisi ini, terutama ketika terjadi di area berjenggot (area wajah bawah).
Presentasi klinis folikulitis profunda:
Bentuk khusus yang lebih parah disebut lupoid sycosis, di mana inflamasi kronis yang tidak diobati dapat menghasilkan fibrosis dan deformitas permanen. Nama "lupoid" merujuk pada kesamaan penampilan dengan lesi lupus (lesi bulan sabit) yang dapat terjadi pada kulit dalam lupus eritematosus sistemik, meskipun keduanya adalah kondisi yang sama sekali berbeda.
Diagnosis diferensial (diagnosis banding) sangat penting dalam mengevaluasi pasien dengan keluhan yang sesuai dengan folikulitis. Beberapa kondisi dapat meniru folikulitis dan harus dipertimbangkan:
Diferensiasi klinis yang cermat berdasarkan lokasi, karakteristik lesi, riwayat penyakit, dan pemeriksaan penunjang akan membantu menetapkan diagnosis yang akurat.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi