Stroke iskemik akut adalah kondisi mendesak yang memerlukan diagnosis cepat dan manajemen tepat waktu untuk memaksimalkan peluang penyelamatan jaringan otak. Dalam satu jam pertama sejak terjadinya stroke, jutaan neuron dapat mati setiap menitnya. Neuroimaging canggih memungkinkan klinisi untuk mengidentifikasi jaringan yang dapat diselamatkan, memilih pasien yang tepat untuk terapi reperfusi, dan memperkirakan prognosis. Pemahaman mendalam tentang patofisiologi iskemia serebral dan bagaimana berbagai teknik imaging mendeteksi perubahan ini sangat penting untuk praktik klinis yang optimal.
Otak normal menerima aliran darah serebral (cerebral blood flow, CBF) sekitar 50â55 mL/100 g jaringan otak/menit. Nilai ini sangat penting karena menentukan berapa lama jaringan dapat bertahan tanpa oksigen yang cukup.
Ketika oklusi pembuluh darah mengurangi CBF:
Ketika CBF menurun drastis, serangkaian kejadian biokimia dimulai:
Proses ini dimulai dalam menit pertama setelah iskemia dimulai, itulah mengapa waktu sangat penting dalam manajemen stroke.
Inti infark adalah jaringan yang telah mengalami kematian sel ireversibel. Karakteristiknya:
Penting untuk diingat: Reperfusi pada inti infark tidak bermanfaat dan sebenarnya dapat berbahaya, karena aliran darah yang dipulihkan dapat menyebabkan perdarahan pada jaringan yang sudah rusak.
Penumbra adalah "jaringan yang terancam tetapi dapat diselamatkan." Karakteristiknya:
Penelitian penting seperti DAWN dan DEFUSE 3 menunjukkan bahwa imaging penggaris dapat memperluas jendela waktu reperfusi hingga 24 jam pada pasien tertentu.
Konsep kunci: Daripada hanya melihat jam di dinding, klinisi dapat melihat "jam biologi" pasien menggunakan imaging perfusi. Jika seorang pasien memiliki penumbra yang besar dan inti infark yang kecil, bahkan setelah 12-24 jam, mereka mungkin masih mendapat manfaat dari reperfusi.
Kriteria imaging ini meliputi:
Keunggulan:
Temuan pada stroke iskemik:
Penting untuk diingat bahwa CT adalah normal dalam fase hiperakut (0-6 jam pertama). Ketiadaan perubahan pada CT awal tidak berarti tidak ada stroke.
Tanda-tanda awal infark yang mungkin terlihat bahkan dalam 3-6 jam pertama termasuk:
CT perfusi memerlukan injeksi kontras intravena dan memungkinkan perhitungan kuantitatif aliran darah.
Parameter yang diukur:
Interpretasi klinis:
CTP juga dapat memberikan parameter seperti time-to-maximum (Tmax) atau time-to-peak (TTP). Penundaan Tmax ⥠6 detik menunjukkan jaringan yang berisiko berkembang menjadi infark jika tidak diperfusi ulang.
DWI adalah sekuen MRI paling sensitif untuk stroke iskemik akut. Ia mendeteksi pembatasan gerakan air (restriksi difusi) yang terjadi dalam menit pertama iskemia akibat edema sitotoksik.
Temuan pada stroke iskemik:
Mengapa ini terjadi? Edema sitotoksik membatasi gerakan air bebas antara ruang intrasel dan ekstrasel, menghasilkan sinyal DWI yang terang.
ADC adalah peta kuantitatif dari pembatasan difusi.
ADC penting karena dapat membedakan infark akut dari stroke kronis atau kondisi lain yang menyebabkan sinyal terang pada DWI.
MRA memvisualisasikan pembuluh darah tanpa memerlukan kontras (meskipun varian kontras tersedia).
PWI memerlukan injeksi bolus gadolinium (agen kontras MRI) dan menghasilkan peta aliran darah serupa dengan CT perfusi.
Parameter yang dihasilkan:
Interpretasi klinis:
Peta berwarna dari PWI menunjukkan:
Salah satu konsep paling penting dalam neuroimaging stroke adalah DWI-PWI mismatch (atau istilah serupa pada CT: CTP-CT perfusion mismatch).
Penumbra ini adalah target terapi! Jika dapat diperfusi ulang dengan cepat, jaringan ini dapat diselamatkan. Konsep ini memungkinkan dokter untuk memberikan terapi kepada pasien bahkan di luar jendela waktu tradisional 4,5 jam, asalkan masih ada penumbra yang bermakna untuk diselamatkan.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi