Ileus Obstruktif vs Ileus Paralitik

Seringkali tertukar, padahal penanganannya jauh berbeda! Membedakan ileus obstruktif dan paralitik adalah kunci diagnosis dan tatalaksana yang tepat di IGD maupun bangsal. Pahami perbedaan fundamental dari etiologi, gambaran klinis, hingga radiologisnya agar tidak salah langkah. Yuk, kuasai materi krusial ini untuk UKMPPD!

Pendahuluan: Apa Itu Ileus?

Ileus adalah gangguan motilitas usus yang menyebabkan terhambatnya pasase isi usus. Kondisi ini dapat dibagi menjadi dua jenis utama berdasarkan mekanismenya: ileus obstruktif (mekanik) dan ileus paralitik (adinamik).

Meskipun keduanya memiliki gejala yang mirip, penanganan yang tepat sangat bergantung pada identifikasi jenis ileus yang mendasarinya. Kesalahan diagnosis dapat berakibat fatal.

Ileus Obstruktif (Mekanik)

Definisi: Ileus obstruktif adalah sumbatan fisik pada lumen usus yang menghalangi pasase isi usus. Sumbatan ini bisa parsial atau total, dan dapat terjadi di usus halus atau usus besar.

Etiologi: Penyebabnya bervariasi tergantung lokasi:

  • Usus Halus:
    • Perlekatan (adhesi) pascaoperasi (paling sering).
    • Hernia inkarserata (inguinal, femoral, umbilikal, insisional).
    • Tumor (primer atau metastasis).
    • Intususepsi (terutama pada anak).
    • Benda asing (mis. bezoar, batu empedu/gallstone ileus).
    • Penyakit Crohn (striktur).
  • Usus Besar:
    • Karsinoma kolorektal (paling sering).
    • Divertikulitis (striktur).
    • Volvulus (sigmoid atau sekum).
    • Fekal impaksi (pada lansia atau pasien imobilisasi).

Patofisiologi: Sumbatan fisik menyebabkan penumpukan gas dan cairan proksimal dari lokasi obstruksi. Hal ini meningkatkan tekanan intraluminal, distensi usus, dan gangguan absorbsi serta sekresi. Jika tidak ditangani, dapat terjadi iskemia, nekrosis, perforasi usus, dan peritonitis.

Manifestasi Klinis:

  • Nyeri perut kolik (kram) yang intermiten, semakin hebat seiring waktu.
  • Muntah (awalnya bilious, kemudian fekaloid jika obstruksi distal).
  • Distensi abdomen yang bervariasi tergantung lokasi obstruksi.
  • Konstipasi atau obstipasi (tidak bisa flatus maupun defekasi).

Pemeriksaan Fisik:

  • Inspeksi: Distensi abdomen, kadang terlihat gambaran "ladder pattern" atau gelombang peristaltik (darm contour, darm steifung).
  • Palpasi: Nyeri tekan lokal, massa (jika ada tumor/hernia).
  • Auskultasi: Bising usus meningkat, bernada tinggi (metallic sound), atau "borborygmi" pada fase awal, kemudian bisa melemah pada fase lanjut.
  • Rectal Touché (RT): Ampula rekti kosong atau berisi feses, mungkin teraba massa.

Pemeriksaan Penunjang:

  • Foto Polos Abdomen 3 Posisi:
    • Erect/Tegak: Tampak air-fluid level (tangga) multipel, terutama pada usus halus.
    • Supine/Terlentang: Dilatasi loop usus proksimal dari obstruksi. Pada usus halus, diameter >3 cm, gambaran herringbone pattern atau keyboard sign (valvulae conniventes). Pada usus besar, diameter >6 cm, gambaran haustra.
    • Left Lateral Decubitus (LLD): Sama dengan erect, untuk melihat air-fluid level.
  • CT Scan Abdomen: Standar emas untuk mengidentifikasi lokasi, penyebab, dan komplikasi obstruksi.
  • Laboratorium: Leukositosis, gangguan elektrolit, peningkatan laktat (jika ada iskemia).

Ileus Paralitik (Adinamik)

Definisi: Ileus paralitik adalah gangguan motilitas usus akibat kelumpuhan sementara otot polos usus, tanpa adanya sumbatan fisik. Peristaltik usus terhenti atau sangat berkurang.

Etiologi: Umumnya multifaktorial dan sering terjadi setelah:

  • Pembedahan abdomen (paling sering, terutama operasi luas).
  • Gangguan elektrolit (hipokalemia, hiponatremia, hipomagnesemia).
  • Obat-obatan (opioid, antikolinergik, antidepresan trisiklik).
  • Inflamasi intra-abdomen (peritonitis, pankreatitis, apendisitis).
  • Infeksi berat (sepsis).
  • Cedera tulang belakang atau trauma kepala.
  • Iskemia mesenterika.
  • Penyakit sistemik (uremia, ketoasidosis diabetik).

Patofisiologi: Terjadi disfungsi saraf otonom atau otot polos usus, menyebabkan hilangnya koordinasi kontraksi peristaltik. Akibatnya, isi usus tidak dapat didorong ke distal, terjadi penumpukan gas dan cairan di seluruh saluran cerna.

Manifestasi Klinis:

  • Nyeri perut tumpul dan difus, tidak bersifat kolik.
  • Muntah (umumnya bilious, jarang fekaloid).
  • Distensi abdomen yang menyeluruh dan simetris.
  • Konstipasi atau obstipasi (tidak bisa flatus maupun defekasi).

Pemeriksaan Fisik:

  • Inspeksi: Distensi abdomen menyeluruh, simetris.
  • Palpasi: Nyeri tekan difus ringan, tidak ada massa (kecuali penyebab dasarnya).
  • Auskultasi: Bising usus menurun atau menghilang sama sekali (silent abdomen).
  • Rectal Touché (RT): Ampula rekti kosong atau berisi feses.

Pemeriksaan Penunjang:

  • Foto Polos Abdomen 3 Posisi:
    • Tampak dilatasi loop usus baik usus halus maupun usus besar secara menyeluruh dan merata.
    • Air-fluid level bisa ada, tetapi lebih sedikit dan tidak membentuk tangga yang jelas seperti pada obstruksi.
    • Tidak ada titik transisi (transition point).
  • CT Scan Abdomen: Menyingkirkan obstruksi mekanik, menunjukkan dilatasi usus tanpa titik sumbatan.
  • Laboratorium: Sesuai dengan etiologi (mis. hipokalemia, peningkatan amilase/lipase pada pankreatitis).

Tabel Perbandingan Kunci Ileus Obstruktif vs Ileus Paralitik

FiturIleus Obstruktif (Mekanik)Ileus Paralitik (Adinamik)
DefinisiSumbatan fisik pada lumen usus.Kelumpuhan motilitas usus tanpa sumbatan fisik.
Penyebab UtamaAdhesi, hernia, tumor, volvulus, intususepsi.Pascaoperasi, gangguan elektrolit, obat-obatan, peritonitis, sepsis.
Nyeri PerutKolik, intermiten, progresif.Tumpul, difus, konstan.
MuntahSering, bisa bilious hingga fekaloid (distal).Sering, umumnya bilious, jarang fekaloid.
Distensi AbdomenLokal/asimetris (tergantung lokasi), bisa ada darm contour.Menyeluruh, simetris.
Bising UsusMeningkat, hiperaktif, metallic sound (fase awal); dapat menurun (fase lanjut).Menurun drastis atau menghilang (silent abdomen).
Flatus/DefekasiObstipasi (tidak bisa flatus/defekasi).Obstipasi (tidak bisa flatus/defekasi).
Foto Polos AbdomenAir-fluid level multipel dan bertingkat (ladder pattern), dilatasi usus proksimal, transition point.Dilatasi usus menyeluruh (halus & besar), air-fluid level minimal/tidak bertingkat, tidak ada transition point.
TatalaksanaUmumnya bedah (kecuali kasus tertentu seperti adhesi ringan).Konservatif, koreksi penyebab dasar.

Prinsip Tatalaksana

Prinsip Umum (untuk keduanya):

  • Puasa total (NPO): Hentikan asupan oral.
  • Pemasangan Nasogastric Tube (NGT): Dekompresi lambung dan usus, mengurangi distensi, mencegah muntah, dan aspirasi.
  • Terapi cairan IV: Koreksi dehidrasi dan gangguan elektrolit.
  • Analgesik: Untuk nyeri.
  • Antiemetik: Untuk mual dan muntah.

Tatalaksana Spesifik Ileus Obstruktif:

  • Sebagian besar kasus memerlukan tindakan bedah untuk menghilangkan sumbatan (misalnya adhesiolisis, reseksi tumor, koreksi hernia).
  • Kasus ileus obstruktif parsial atau ileus akibat adhesi ringan dapat dicoba penanganan konservatif awal dengan NGT dan cairan IV, namun observasi ketat diperlukan.
  • Pada volvulus, detorsi endoskopik bisa menjadi pilihan awal, namun seringkali diikuti dengan tindakan bedah definitif.

Tatalaksana Spesifik Ileus Paralitik:

  • Bersifat konservatif dan suportif.
  • Fokus pada identifikasi dan koreksi penyebab dasar (misalnya koreksi hipokalemia, penghentian obat-obatan penyebab, penanganan sepsis/peritonitis).
  • Mobilisasi dini (pascaoperasi) dan penggunaan agen prokinetik (misalnya metoclopramide) dapat membantu mempercepat pemulihan motilitas usus, namun penggunaannya harus hati-hati dan sesuai indikasi.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds