Ikterus neonatus dapat diklasifikasikan menjadi fisiologis dan patologis, dengan perbedaan kunci pada waktu muncul, durasi, dan kadar bilirubin.
| Kriteria | Ikterus Fisiologis | Ikterus Patologis |
| Waktu Muncul | Setelah 24 jam pertama kehidupan | Dalam 24 jam pertama kehidupan |
| Puncak | Hari ke-3 sampai ke-5 (aterm) Hari ke-5 sampai ke-7 (preterm) | Cenderung meningkat cepat dan terus-menerus |
| Durasi | Menghilang dalam 1 minggu (aterm) Menghilang dalam 2 minggu (preterm) | Bertahan lebih dari 1 minggu (aterm) Bertahan lebih dari 2 minggu (preterm) |
| Kadar BST | <12 mg/dL (aterm) <15 mg/dL (preterm) | >12 mg/dL (aterm) >15 mg/dL (preterm) Kenaikan >5 mg/dL/24 jam |
| Bilirubin Direk | <2 mg/dL atau <20% dari BST | >2 mg/dL atau >20% dari BST (curiga kolestasis) |
| Penyebab Umum | Peningkatan produksi bilirubin (eritrosit janin umur pendek), keterbatasan konjugasi (enzim UGT masih imatur), peningkatan sirkulasi enterohepatik. | Inkompatibilitas golongan darah (ABO, Rh), Defisiensi G6PD, Sepsis, Polisetemia, Sefalhematoma/memar luas, Breast milk jaundice, Atresia bilier (bilirubin direk), Hipotiroidisme, Sindrom Crigler-Najjar, Sindrom Gilbert. |
Bilirubin terbentuk dari pemecahan heme, terutama dari eritrosit. Pada neonatus, produksi bilirubin lebih tinggi dan eliminasi lebih lambat karena:
Bilirubin tak terkonjugasi bersifat larut lemak dan neurotoksik, dapat menembus sawar darah otak yang belum matang dan menyebabkan kernikterus.
Tatalaksana bertujuan mencegah peningkatan bilirubin yang berlebihan dan komplikasi kernikterus.
Komplikasi paling serius dari hiperbilirubinemia tak terkonjugasi adalah kernikterus (ensefalopati bilirubin), yaitu kerusakan otak permanen akibat deposisi bilirubin di ganglia basalis dan nukleus batang otak. Manifestasi klinis meliputi:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi