Ikterus Neonatus: Memahami Kuning pada Bayi Baru Lahir

Ikterus neonatus adalah kondisi umum yang sering dijumpai pada bayi baru lahir, namun bisa menjadi patologis dan berujung pada komplikasi serius seperti kernikterus. Jangan sampai salah dalam membedakan ikterus fisiologis dan patologis, apalagi dalam tatalaksananya! Yuk, kuasai konsep Ikterus Neonatus yang krusial ini untuk UKMPPD dan praktik klinis Anda!

Definisi

Ikterus neonatus adalah diskolorasi kuning pada kulit dan sklera bayi baru lahir akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi (indirek) yang berlebihan di dalam darah (hiperbilirubinemia).

Kuning secara klinis terlihat ketika kadar bilirubin serum total (BST) mencapai sekitar 5-7 mg/dL.

Etiologi dan Klasifikasi

Ikterus neonatus dapat diklasifikasikan menjadi fisiologis dan patologis, dengan perbedaan kunci pada waktu muncul, durasi, dan kadar bilirubin.

KriteriaIkterus FisiologisIkterus Patologis
Waktu MunculSetelah 24 jam pertama kehidupanDalam 24 jam pertama kehidupan
PuncakHari ke-3 sampai ke-5 (aterm)
Hari ke-5 sampai ke-7 (preterm)
Cenderung meningkat cepat dan terus-menerus
DurasiMenghilang dalam 1 minggu (aterm)
Menghilang dalam 2 minggu (preterm)
Bertahan lebih dari 1 minggu (aterm)
Bertahan lebih dari 2 minggu (preterm)
Kadar BST<12 mg/dL (aterm)
<15 mg/dL (preterm)
>12 mg/dL (aterm)
>15 mg/dL (preterm)
Kenaikan >5 mg/dL/24 jam
Bilirubin Direk<2 mg/dL atau <20% dari BST>2 mg/dL atau >20% dari BST (curiga kolestasis)
Penyebab UmumPeningkatan produksi bilirubin (eritrosit janin umur pendek), keterbatasan konjugasi (enzim UGT masih imatur), peningkatan sirkulasi enterohepatik.Inkompatibilitas golongan darah (ABO, Rh), Defisiensi G6PD, Sepsis, Polisetemia, Sefalhematoma/memar luas, Breast milk jaundice, Atresia bilier (bilirubin direk), Hipotiroidisme, Sindrom Crigler-Najjar, Sindrom Gilbert.

Patofisiologi Singkat

Bilirubin terbentuk dari pemecahan heme, terutama dari eritrosit. Pada neonatus, produksi bilirubin lebih tinggi dan eliminasi lebih lambat karena:

  • Peningkatan produksi: Massa eritrosit lebih besar, umur eritrosit lebih pendek (70-90 hari vs 120 hari pada dewasa).
  • Penurunan konjugasi hepar: Aktivitas enzim UDP-glucuronosyltransferase (UGT) masih rendah/imatur.
  • Peningkatan sirkulasi enterohepatik: Enzim beta-glukuronidase di usus neonatus lebih aktif, mengubah bilirubin terkonjugasi kembali menjadi tak terkonjugasi yang dapat direabsorpsi.

Bilirubin tak terkonjugasi bersifat larut lemak dan neurotoksik, dapat menembus sawar darah otak yang belum matang dan menyebabkan kernikterus.

Manifestasi Klinis

  • Kuning pada kulit dan sklera. Penilaian derajat kuning secara klinis dapat menggunakan Zona Kramer:
    1. Zona 1: Kepala dan leher (BST ± 4-8 mg/dL)
    2. Zona 2: Sampai badan atas/pusar (BST ± 5-12 mg/dL)
    3. Zona 3: Sampai paha dan lutut (BST ± 8-16 mg/dL)
    4. Zona 4: Sampai lengan dan tungkai bawah (BST ± 11-18 mg/dL)
    5. Zona 5: Sampai telapak tangan dan kaki (BST > 15 mg/dL)
  • Tanda bahaya (curiga ikterus patologis/kernikterus):
    • Kuning muncul dalam 24 jam pertama.
    • Kuning menyebar cepat ke bagian distal.
    • Kuning disertai demam, letargi, malas minum, iritabel, tangisan melengking.
    • Feses pucat atau urin gelap (curiga kolestasis/atresia bilier).
    • Kuning menetap lebih dari 2 minggu (aterm) atau 3 minggu (preterm).

Penegakan Diagnosis

  • Anamnesis: Riwayat kehamilan (penyakit ibu, obat-obatan), riwayat persalinan (trauma lahir), riwayat keluarga (ikterus, anemia, defisiensi G6PD), riwayat ASI (frekuensi, volume), golongan darah ibu dan ayah.
  • Pemeriksaan Fisik: Penilaian derajat kuning (Kramer), tanda-tanda anemia (pucat), hepatosplenomegali, petekiae, tanda dehidrasi, tanda ensefalopati bilirubin (letargi, hipotonia, high-pitched cry, kejang).
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Bilirubin Serum Total (BST) dan Bilirubin Direk (BD): Untuk membedakan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi (indirek) atau terkonjugasi (direk).
    • Golongan darah ABO dan Rhesus ibu dan bayi: Untuk skrining inkompatibilitas.
    • Tes Coombs Direk: Mendeteksi antibodi pada eritrosit bayi (positif pada penyakit hemolitik).
    • Darah lengkap dengan hitung retikulosit dan apusan darah tepi: Menilai hemolisis (retikulositosis, morfologi eritrosit abnormal).
    • Kadar G6PD: Jika ada riwayat keluarga atau kecurigaan defisiensi G6PD.
    • Fungsi tiroid: Jika ikterus memanjang.
    • Urin lengkap: Untuk infeksi saluran kemih.

Tatalaksana

Tatalaksana bertujuan mencegah peningkatan bilirubin yang berlebihan dan komplikasi kernikterus.

  • Fototerapi:
    • Indikasi berdasarkan nomogram kadar BST sesuai usia bayi dan faktor risiko (prematuritas, asfiksia, sepsis, asidosis, hipoalbuminemia, hemolisis).
    • Mekanisme: Sinar fototerapi mengubah bilirubin tak terkonjugasi di kulit menjadi isomer yang larut air (lumirubin dan fotobilirubin) yang dapat diekskresi melalui empedu dan urin tanpa perlu konjugasi di hepar.
    • Persiapan: Buka pakaian bayi (kecuali popok), lindungi mata, pastikan hidrasi adekuat, pantau suhu, posisikan bayi agar seluruh permukaan kulit terpapar.
  • Transfusi Tukar:
    • Indikasi: Kegagalan fototerapi intensif atau kadar BST yang sangat tinggi mendekati ambang kernikterus, terutama pada hemolisis berat.
    • Mekanisme: Mengganti darah bayi dengan darah donor, mengeluarkan bilirubin dan antibodi yang bersirkulasi, serta mengganti eritrosit yang hemolisis.
  • Farmakologis:
    • Intravenous Immunoglobulin (IVIG): Diberikan pada inkompatibilitas ABO/Rh yang berat untuk menghambat hemolisis dengan memblokir reseptor Fc pada makrofag.
    • Phenobarbital: Meningkatkan aktivitas enzim UGT, namun efeknya lambat dan jarang digunakan sebagai terapi akut.
    • Metalloporfirin: Menghambat produksi bilirubin, masih dalam penelitian.

Komplikasi

Komplikasi paling serius dari hiperbilirubinemia tak terkonjugasi adalah kernikterus (ensefalopati bilirubin), yaitu kerusakan otak permanen akibat deposisi bilirubin di ganglia basalis dan nukleus batang otak. Manifestasi klinis meliputi:

  • Fase akut: Letargi, hipotonia, malas minum, high-pitched cry, demam, iritabilitas, opistotonus, kejang.
  • Fase kronis: Palsi serebral koreoatetoid, tuli sensorineural, displasia email gigi, gangguan perkembangan motorik dan intelektual.

Edukasi dan Pencegahan

  • Edukasi orang tua tentang pentingnya memantau warna kulit bayi, terutama pada 3-5 hari pertama.
  • Menganjurkan pemberian ASI eksklusif yang adekuat (8-12 kali/hari) untuk mencegah dehidrasi dan meningkatkan eliminasi bilirubin.
  • Pemeriksaan golongan darah ibu dan skrining inkompatibilitas pada bayi berisiko.
  • Follow-up ketat pada bayi dengan ikterus yang signifikan.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds