Hirschsprung Disease (HD), atau penyakit Hirschsprung, adalah kelainan kongenital pada kolon dan rektum yang ditandai dengan tidak adanya sel ganglion (aganglionosis) pada pleksus submukosa (Meissner) dan pleksus mienterikus (Auerbach) di segmen usus tertentu. Kondisi ini menyebabkan kegagalan relaksasi sfingter ani interna dan peristaltik usus yang normal, sehingga timbul obstruksi fungsional.
Etiologi Hirschsprung Disease bersifat multifaktorial, melibatkan faktor genetik dan lingkungan.
Berdasarkan panjang segmen aganglionik, Hirschsprung Disease dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Gejala Hirschsprung Disease bervariasi tergantung usia dan panjang segmen yang terkena.
Diagnosis Hirschsprung Disease didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Beberapa pemeriksaan penunjang penting untuk mengonfirmasi diagnosis:
Beberapa kondisi lain dapat menyerupai Hirschsprung Disease:
| Kondisi | Karakteristik Kunci | Perbedaan dari Hirschsprung |
|---|---|---|
| Meconium Plug Syndrome | Gagal keluar mekonium, distensi abdomen. | Sembuh setelah evakuasi plug mekonium. Manometri anorektal normal (RAIR ada). |
| Meconium Ileus | Obstruksi usus halus oleh mekonium kental. Sering terkait dengan Cystic Fibrosis. | Obstruksi di usus halus, bukan kolon. Barium enema menunjukkan mikrokolon. |
| Konstipasi Fungsional Kronis | Konstipasi yang dimulai setelah periode normal, sering terkait dengan retensi feses psikogenik. | Onset biasanya setelah usia bayi, riwayat keluar mekonium normal. Manometri anorektal normal (RAIR ada). Biopsi rektum normal. |
| Hipotiroid Kongenital | Konstipasi, letargi, hipotonia, ikterus berkepanjangan. | Gejala sistemik lain. Tes fungsi tiroid abnormal. Biopsi rektum normal. |
| Malformasi Anorektal | Anus imperforata, fistula. | Inspeksi fisik langsung menunjukkan anomali anatomis. |
Tatalaksana Hirschsprung Disease adalah bedah.
Komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien Hirschsprung Disease, baik sebelum maupun sesudah operasi:
Prognosis Hirschsprung Disease umumnya baik setelah operasi pull-through yang berhasil. Mayoritas anak dapat tumbuh dan berkembang secara normal dengan fungsi defekasi yang baik. Namun, beberapa anak mungkin mengalami konstipasi persisten atau episode enterokolitis berulang yang memerlukan pemantauan jangka panjang.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi