Gangguan Psikiatri Anak Lain: Cemas, Mutisme, Tik, & Eliminasi

Pernah dengar anak yang takut sekolah karena cemas berpisah dari orang tua? Atau anak yang tiba-tiba tidak bisa bicara di lingkungan tertentu? Bahkan masalah ngompol atau BAB di celana yang sudah lewat usia seharusnya? Ini adalah beberapa 'gangguan anak lain' yang sering terlewat tapi krusial untuk dipahami dalam praktik klinis dan persiapan UKMPPD. Yuk, kenali lebih dalam kondisi-kondisi ini yang esensial untuk dikuasai!

Definisi & Gambaran Umum

Selain Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (ADHD) atau Gangguan Spektrum Autisme (ASD), ada beberapa kondisi psikiatri lain pada anak yang penting untuk dikenali. Gangguan-gangguan ini dapat memengaruhi perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak secara signifikan. Memahami manifestasi klinis dan tatalaksananya adalah kunci untuk penanganan yang tepat.

Gangguan Cemas Perpisahan (Separation Anxiety Disorder - SAD)

Gangguan Cemas Perpisahan (SAD) adalah kecemasan berlebihan dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan mengenai perpisahan dari individu yang memiliki keterikatan kuat (misalnya orang tua atau figur pengasuh utama).

  • Manifestasi Klinis:
    • Distres berulang dan berlebihan saat berpisah atau mengantisipasi perpisahan.
    • Kekhawatiran persisten dan berlebihan tentang kehilangan figur lekat atau kemungkinan bahaya yang menimpa mereka.
    • Kekhawatiran persisten dan berlebihan tentang peristiwa yang dapat menyebabkan perpisahan (misalnya diculik, tersesat).
    • Penolakan atau keengganan untuk pergi ke sekolah atau tempat lain karena takut berpisah.
    • Ketakutan atau keengganan berlebihan untuk sendirian di rumah atau tanpa figur lekat.
    • Penolakan tidur tanpa figur lekat atau tidur di luar rumah.
    • Mimpi buruk berulang tentang perpisahan.
    • Keluhan fisik berulang (sakit kepala, mual, muntah) saat berpisah atau mengantisipasi perpisahan.
  • Kriteria Diagnosis (DSM-5): Gejala harus berlangsung setidaknya 4 minggu pada anak dan remaja, atau 6 bulan pada dewasa, serta menyebabkan distres atau gangguan fungsi yang signifikan.
  • Tatalaksana:
    • Psikoterapi: Terapi Perilaku Kognitif (CBT) adalah lini pertama, sering melibatkan terapi keluarga.
    • Farmakoterapi: Jika psikoterapi tidak efektif atau gejala sangat berat, Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) seperti fluoxetine atau sertraline dapat dipertimbangkan.

Gangguan Mutisme Selektif (Selective Mutism - SM)

Gangguan Mutisme Selektif (SM) adalah kegagalan yang konsisten untuk berbicara dalam situasi sosial spesifik di mana ada ekspektasi untuk berbicara (misalnya di sekolah), meskipun anak berbicara dalam situasi lain.

  • Manifestasi Klinis:
    • Anak mampu berbicara di rumah dengan keluarga dekat, tetapi tidak berbicara di sekolah, di depan orang asing, atau di tempat umum.
    • Tidak disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau kenyamanan dengan bahasa yang digunakan.
    • Tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan komunikasi lain atau gangguan perkembangan.
  • Kriteria Diagnosis (DSM-5):
    • Kegagalan berbicara berlangsung setidaknya 1 bulan (tidak terbatas pada bulan pertama sekolah).
    • Mengganggu pencapaian pendidikan atau pekerjaan, atau komunikasi sosial.
  • Tatalaksana:
    • Terapi Perilaku: Teknik seperti stimulus fading, shaping, dan exposure therapy.
    • Terapi Keluarga: Mengedukasi orang tua dan memberikan strategi dukungan.
    • Farmakoterapi: SSRI dapat dipertimbangkan jika gejala berat dan terapi perilaku tidak cukup.

Gangguan Tik (Tic Disorders)

Tik adalah gerakan atau vokalisasi yang tiba-tiba, cepat, berulang, non-ritmis, dan stereotipik. Tik dapat bersifat motorik (misalnya kedipan mata, gelengan kepala) atau vokal (misalnya membersihkan tenggorokan, dengusan).

Terdapat beberapa jenis gangguan tik berdasarkan durasi dan jenis tik:

Jenis Gangguan TikKriteria Utama
Gangguan Tik ProvisionalTik motorik atau vokal tunggal atau multipel, durasi kurang dari 1 tahun.
Gangguan Tik Motorik Persisten (Kronis)Tik motorik tunggal atau multipel, durasi lebih dari 1 tahun, tidak pernah ada tik vokal.
Gangguan Tik Vokal Persisten (Kronis)Tik vokal tunggal atau multipel, durasi lebih dari 1 tahun, tidak pernah ada tik motorik.
Gangguan TouretteTik motorik multipel DAN setidaknya satu tik vokal, durasi lebih dari 1 tahun. Onset sebelum usia 18 tahun.
  • Tatalaksana:
    • Edukasi & Observasi: Banyak tik bersifat sementara dan tidak memerlukan intervensi.
    • Terapi Perilaku: Comprehensive Behavioral Intervention for Tics (CBIT) yang meliputi habit reversal training.
    • Farmakoterapi: Untuk tik yang mengganggu fungsi secara signifikan.
      • Lini pertama: Agonis alfa-2 adrenergik (misalnya clonidine, guanfacine).
      • Lini kedua: Antipsikotik (misalnya aripiprazole, risperidone, haloperidol) untuk kasus berat.

Gangguan Eliminasi (Elimination Disorders)

Gangguan eliminasi melibatkan buang air kecil atau buang air besar yang tidak tepat, seringkali tanpa disengaja, pada usia di mana kontrol sfingter seharusnya sudah tercapai.

Enuresis

Enuresis adalah buang air kecil berulang di tempat tidur atau pakaian, baik disengaja maupun tidak disengaja.

  • Kriteria Diagnosis (DSM-5):
    • Frekuensi setidaknya dua kali seminggu selama minimal 3 bulan berturut-turut, atau menyebabkan distres/gangguan fungsi yang signifikan.
    • Usia kronologis setidaknya 5 tahun.
    • Tidak disebabkan oleh efek fisiologis zat (misalnya diuretik) atau kondisi medis umum (misalnya diabetes, infeksi saluran kemih).
  • Tipe:
    • Nokturnal: Hanya terjadi saat tidur malam.
    • Diurnal: Hanya terjadi saat terjaga.
    • Campuran: Terjadi siang dan malam.
  • Primer vs. Sekunder:
    • Primer: Anak belum pernah mencapai periode kering yang konsisten (setidaknya 6 bulan).
    • Sekunder: Anak pernah kering setidaknya 6 bulan, kemudian kembali mengompol.
  • Tatalaksana:
    • Edukasi & Dukungan: Menenangkan anak dan keluarga, menghindari hukuman.
    • Terapi Perilaku:
      • Alarm Enuresis: Paling efektif untuk enuresis nokturnal.
      • Pelatihan kandung kemih, motivasi positif.
    • Farmakoterapi:
      • Desmopressin: Mengurangi produksi urin malam hari (anti-diuretik).
      • Imipramine: Antidepresan trisiklik, efek antikolinergik.

Enkopresis

Enkopresis adalah buang air besar berulang di tempat yang tidak sesuai (misalnya pakaian atau lantai), baik disengaja maupun tidak disengaja.

  • Kriteria Diagnosis (DSM-5):
    • Frekuensi setidaknya satu kali sebulan selama minimal 3 bulan berturut-turut.
    • Usia kronologis setidaknya 4 tahun.
    • Tidak disebabkan oleh efek fisiologis zat atau kondisi medis lain, kecuali melalui mekanisme konstipasi.
  • Tipe:
    • Dengan konstipasi dan inkontinensia luapan: Paling umum, feses keras menumpuk di rektum, menyebabkan feses cair keluar di sekitarnya.
    • Tanpa konstipasi dan inkontinensia luapan: Lebih jarang, sering dikaitkan dengan masalah perilaku.
  • Tatalaksana:
    • Edukasi & Dukungan: Menjelaskan kondisi kepada anak dan keluarga.
    • Penanganan Konstipasi (jika ada):
      • Disimpaksi: Membersihkan feses yang menyumbat (misalnya dengan laksatif oral atau enema).
      • Terapi Pemeliharaan: Diet tinggi serat, asupan cairan cukup, laksatif osmotik (misalnya polyethylene glycol).
    • Terapi Perilaku: Jadwal BAB teratur, motivasi positif.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds