Gangguan pertumbuhan tulang merujuk pada sekelompok kondisi genetik atau didapat yang memengaruhi perkembangan normal tulang dan kartilago, menyebabkan kelainan bentuk, ukuran, dan kekuatan kerangka tubuh. Ini dapat bermanifestasi sebagai perawakan pendek (dwarfisme), tulang rapuh, atau deformitas struktural lainnya.
Achondroplasia adalah bentuk displasia skelet non-letal yang paling umum, ditandai dengan perawakan pendek akibat gangguan osifikasi endokondral.
Osteogenesis Imperfecta (OI), atau penyakit tulang rapuh, adalah kelainan genetik yang ditandai oleh kerapuhan tulang yang ekstrem dan sering menyebabkan fraktur berulang.
Klasifikasi Sillence membagi OI menjadi beberapa tipe utama berdasarkan gambaran klinis dan genetik:
| Tipe | Karakteristik Utama | Tingkat Keparahan |
|---|---|---|
| Tipe I | Bentuk paling ringan. Fraktur ringan hingga sedang, sklera biru, gigi normal atau dentinogenesis imperfecta ringan, pendengaran normal atau tuli progresif. | Ringan |
| Tipe II | Bentuk paling parah (letal perinatal). Fraktur multipel in utero, deformitas berat, paru-paru hipoplastik. | Sangat berat (letal) |
| Tipe III | Bentuk progresif berat. Fraktur saat lahir, deformitas tulang berat, perawakan sangat pendek, sklera biru/abu-abu, dentinogenesis imperfecta, tuli progresif. | Berat |
| Tipe IV | Tingkat keparahan bervariasi. Fraktur moderat, sklera normal atau abu-abu, dentinogenesis imperfecta, perawakan pendek. | Sedang |
Penanganan gangguan pertumbuhan tulang bersifat multidisiplin dan berfokus pada peningkatan kualitas hidup pasien.
Prognosis gangguan pertumbuhan tulang sangat bervariasi tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi