Secara historis, neurosis atau gangguan neurotik merujuk pada sekelompok gangguan mental yang ditandai oleh adanya distress emosional signifikan (misalnya cemas, depresi, fobia), namun pasien tetap memiliki kontak dengan realitas dan tidak mengalami delusi atau halusinasi.
Meskipun istilah 'neurotik' tidak lagi digunakan sebagai diagnosis formal dalam klasifikasi modern seperti DSM-5 atau PPDGJ-III (ICD-10), konsep ini masih sangat relevan untuk memahami dasar-dasar patologi dan manifestasi klinis berbagai gangguan mental.
Membedakan gangguan neurotik dan psikotik adalah kunci dalam psikiatri dan sering menjadi pertanyaan di UKMPPD. Berikut perbandingannya:
| Kriteria | Gangguan Neurotik | Gangguan Psikotik |
| Kontak dengan Realitas | Intak, pasien sadar akan masalahnya. | Terganggu (mis. delusi, halusinasi). |
| Insight (Tilikan) | Umumnya baik, pasien menyadari bahwa gejala/perilakunya tidak normal. | Buruk, pasien tidak menyadari bahwa ia sakit atau mengalami distorsi realitas. |
| Gejala Utama | Cemas, fobia, obsesi, kompulsi, depresi ringan, keluhan somatik tanpa dasar organik, disosiasi. | Delusi, halusinasi, disorganisasi pikiran/perilaku, gangguan mood berat dengan fitur psikotik. |
| Fungsi Sosial/Pekerjaan | Dapat terganggu, namun seringkali masih dapat berfungsi. | Seringkali sangat terganggu, membutuhkan bantuan signifikan. |
| Penyebab | Stresor psikososial, konflik intrapsikis, faktor genetik & lingkungan. | Gangguan neurobiologis, genetik, stresor berat yang memicu. |
Meskipun istilah 'neurotik' tidak lagi menjadi kategori diagnosis, berbagai gangguan mental yang sebelumnya dikelompokkan dalam neurosis kini memiliki kategori tersendiri. Ini termasuk:
Penyebab gangguan yang terkait neurotik bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial. Ini sering disebut sebagai model biopsikososial.
Meskipun manifestasi spesifik bervariasi antar jenis gangguan, beberapa gejala umum yang sering ditemukan pada pasien dengan gangguan terkait neurotik meliputi:
Diagnosis gangguan terkait neurotik didasarkan pada anamnesis yang cermat, pemeriksaan status mental, dan kriteria diagnostik dari PPDGJ-III (ICD-10) atau DSM-5.
Tatalaksana gangguan terkait neurotik umumnya melibatkan kombinasi terapi farmakologis dan psikoterapi, disesuaikan dengan jenis gangguan dan kondisi individu pasien.
Prognosis gangguan terkait neurotik bervariasi tergantung pada jenis gangguan, keparahan, adanya komorbiditas, dan kepatuhan pasien terhadap tatalaksana. Dengan penanganan yang tepat dan komprehensif, banyak pasien dapat mencapai remisi gejala atau perbaikan signifikan dalam kualitas hidup mereka. Namun, beberapa kasus mungkin memerlukan tatalaksana jangka panjang dan rentan kambuh terutama jika stresor tidak teratasi.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi