Gangguan Makan: Anorexia Nervosa & Bulimia Nervosa

Hai calon dokter! Pernahkah kamu membayangkan dampak serius dari obsesi terhadap berat badan dan bentuk tubuh? Gangguan makan seperti Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa bukan sekadar masalah diet, melainkan kondisi psikiatri kompleks dengan komplikasi medis yang mengancam jiwa. Memahami kriteria diagnosis, manifestasi klinis, hingga tatalaksananya sangat krusial, lho, apalagi untuk UKMPPD. Yuk, kita kupas tuntas agar kamu siap menghadapi kasusnya!

Definisi

Gangguan makan adalah kondisi psikiatri serius yang ditandai oleh gangguan perilaku makan yang persisten, pikiran dan emosi negatif terkait berat badan, bentuk tubuh, serta makanan.

Dua jenis utama yang sering dibahas adalah Anorexia Nervosa (AN) dan Bulimia Nervosa (BN).

  • Anorexia Nervosa: Ditandai oleh pembatasan asupan energi yang signifikan, ketakutan intens terhadap penambahan berat badan, dan gangguan persepsi tubuh.
  • Bulimia Nervosa: Ditandai oleh episode berulang makan berlebihan (binge eating) diikuti oleh perilaku kompensasi yang tidak tepat (misalnya muntah paksa, penggunaan laksatif, olahraga berlebihan).

Epidemiologi & Faktor Risiko

Prevalensi AN dan BN lebih tinggi pada wanita muda, meskipun dapat terjadi pada semua kelompok usia dan jenis kelamin.

Faktor risiko meliputi:

  • Genetik: Riwayat keluarga gangguan makan atau gangguan mental lainnya.
  • Psikologis: Perfeksionisme, gangguan cemas, depresi, harga diri rendah, trauma.
  • Sosial-Kultural: Tekanan media sosial, budaya yang mengagungkan bentuk tubuh kurus, profesi tertentu (model, atlet).

Etiologi & Patofisiologi

Etiologi gangguan makan bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, neurobiologis, psikologis, dan sosiokultural.

Secara neurobiologis, diduga ada disregulasi pada sirkuit otak yang mengatur nafsu makan, penghargaan, dan kontrol impuls. Faktor psikologis seperti distorsi kognitif dan disforia tubuh juga berperan penting.

Manifestasi Klinis (Perbandingan)

CiriAnorexia NervosaBulimia Nervosa
Berat BadanSangat rendah (BMI < 17.5 kg/m² atau < persentil 5 untuk usia/tinggi)Biasanya normal atau sedikit di atas/bawah normal
Perilaku MakanPembatasan asupan ekstrem, takut gemuk, olahraga berlebihan, bisa ada binge-purge tipeEpisode binge eating berulang, diikuti perilaku kompensasi (muntah paksa, laksatif, diuretik, olahraga berlebihan)
Persepsi TubuhDistorsi berat/bentuk tubuh, menyangkal keparahan kondisiCemas berlebihan tentang berat/bentuk tubuh
Tanda FisikAmenore, bradikardia, hipotensi, lanugo, kulit kering, osteopenia/osteoporosis, hipotermia, edema perifer.Erosi enamel gigi, karies, pembesaran kelenjar parotis ("chipmunk cheeks"), luka di punggung tangan (tanda Russell), esofagitis, hipokalemia, aritmia.
PsikologisDepresi, cemas, obsesif-kompulsif, perfeksionisme, isolasi sosial.Depresi, cemas, gangguan suasana hati, impulsivitas, rasa bersalah, malu.

Kriteria Diagnosis (DSM-5)

Anorexia Nervosa:

  1. Pembatasan asupan energi yang mengakibatkan berat badan jauh di bawah minimal normal.
  2. Ketakutan intens terhadap penambahan berat badan atau menjadi gemuk, atau perilaku persisten yang mengganggu penambahan berat badan, meskipun berat badan sudah sangat rendah.
  3. Gangguan dalam cara seseorang mengalami berat badan atau bentuk tubuhnya, pengaruh yang tidak semestinya dari berat badan atau bentuk tubuh terhadap penilaian diri, atau penyangkalan terhadap keseriusan berat badan yang rendah saat ini.

Bulimia Nervosa:

  1. Episode berulang binge eating (makan dalam jumlah besar dalam periode waktu tertentu, disertai perasaan kurang kontrol).
  2. Perilaku kompensasi yang tidak tepat dan berulang untuk mencegah penambahan berat badan (misalnya muntah paksa, penyalahgunaan laksatif/diuretik, puasa, olahraga berlebihan).
  3. Binge eating dan perilaku kompensasi terjadi rata-rata setidaknya 1 kali seminggu selama 3 bulan.
  4. Penilaian diri sangat dipengaruhi oleh bentuk dan berat badan.
  5. Gangguan tidak terjadi secara eksklusif selama episode Anorexia Nervosa.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang bertujuan menilai komplikasi medis dan menyingkirkan diagnosis lain.

  • Laboratorium Darah Lengkap (DL): Anemia.
  • Elektrolit Serum: Hipokalemia (terutama pada BN), hiponatremia, alkalosis metabolik (muntah).
  • Fungsi Ginjal & Hati: Untuk menilai kerusakan organ.
  • Glukosa Darah: Hipoglikemia.
  • Fungsi Tiroid: Hipotiroidisme sekunder (pada AN).
  • EKG: Aritmia (akibat ketidakseimbangan elektrolit).
  • Densitometri Tulang (BMD): Osteopenia/osteoporosis (pada AN kronis).

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan gangguan makan dari kondisi lain yang memiliki gejala serupa.

  • Kondisi Medis: Penyakit gastrointestinal (IBD, malabsorpsi), hipertiroidisme, tumor otak, diabetes melitus.
  • Gangguan Psikiatri: Depresi mayor (dengan penurunan nafsu makan), OCD, gangguan dismorfik tubuh, gangguan kepribadian ambang.

Tatalaksana

Tatalaksana bersifat multidisipliner, melibatkan psikiater, psikolog, dokter umum, ahli gizi, dan keluarga.

Tatalaksana Non-Farmakologis (Pilar Utama):

  • Psikoterapi:
    • Terapi Kognitif Perilaku (CBT): Sangat efektif untuk BN, juga digunakan pada AN. Fokus pada identifikasi dan modifikasi pola pikir serta perilaku disfungsional.
    • Terapi Berbasis Keluarga (FBT) / Maudsley Approach: Pilihan utama untuk AN pada remaja. Keluarga dilibatkan aktif dalam proses pemulihan.
    • Terapi Interpersonal (IPT): Untuk BN, fokus pada masalah hubungan interpersonal.
  • Rehabilitasi Nutrisi: Pengembalian berat badan secara bertahap dan aman (pada AN), normalisasi pola makan.
  • Edukasi: Pasien dan keluarga tentang gangguan makan, nutrisi, dan strategi koping.

Tatalaksana Farmakologis:

  • Antidepresan (SSRI): Fluoxetine dosis tinggi efektif untuk mengurangi frekuensi binge-purge pada BN dan mengatasi komorbiditas depresi/cemas. Kurang efektif sebagai monoterapi untuk AN.
  • Antipsikotik Atypikal: Olanzapine dapat dipertimbangkan pada AN untuk membantu penambahan berat badan dan mengurangi pikiran obsesif tentang makanan/berat badan.
  • Obat-obatan lain untuk komplikasi medis (misalnya suplemen kalsium/vitamin D untuk osteopenia).

Indikasi Rawat Inap:

  • Penurunan berat badan >20-25% dari BB ideal.
  • Bradikardia (<40 bpm), hipotensi (<90/60 mmHg), aritmia.
  • Ketidakseimbangan elektrolit berat.
  • Gagal jantung, gagal ginjal.
  • Ide bunuh diri, psikosis.
  • Gagal rawat jalan.

Komplikasi

Komplikasi dapat fatal jika tidak ditangani.

  • Kardiovaskular: Aritmia, bradikardia, hipotensi, gagal jantung (terutama pada AN).
  • Gastrointestinal: Gastroparesis, konstipasi, esofagitis, ruptur esofagus (pada BN).
  • Endokrin: Amenore, osteopenia/osteoporosis, hipotiroidisme, gangguan pertumbuhan (pada AN).
  • Ginjal: Gagal ginjal (dehidrasi, penyalahgunaan diuretik).
  • Gigi: Erosi enamel, karies (pada BN).
  • Psikiatri: Depresi, cemas, gangguan kepribadian, penyalahgunaan zat, bunuh diri.

Prognosis

Prognosis bervariasi. AN memiliki tingkat mortalitas tertinggi di antara semua gangguan psikiatri.

Deteksi dini dan intervensi komprehensif meningkatkan kemungkinan pemulihan penuh atau parsial.

Kekambuhan sering terjadi, sehingga diperlukan dukungan jangka panjang.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds