Infeksi bakteri pada kulit dan jaringan lunak merupakan masalah kesehatan yang umum dan penting di rumah sakit maupun komunitas. Memahami bagaimana bakteri menyebabkan infeksi kulit, faktor apa saja yang memicu terjadinya infeksi, serta cara mengidentifikasi dan mengobatinya adalah keterampilan klinis dasar yang harus dikuasai. Topik ini menghubungkan pemahaman tentang mekanisme infeksi dengan strategi diagnosis dan terapi yang praktis.
Infeksi bakteri pada kulit dan jaringan lunak menyumbang sekitar 10% dari seluruh kasus infeksi bakteri yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Kabar baiknya, mayoritas infeksi sembuh dalam 7â10 hari dengan pengobatan yang tepat.
Namun, insidensi infeksi kulit terus meningkat karena beberapa faktor populasi:
Patogen yang paling sering menyebabkan infeksi kulit adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes (Group A). Kedua bakteri ini gram-positif dan merupakan kolonisasi normal kulit manusia, tetapi dapat menyebabkan penyakit ketika kesempatan memungkinkan.
Infeksi kulit terjadi ketika keseimbangan antara patogen dan pertahanan tubuh (host defense) terganggu. Tiga faktor utama menentukan apakah infeksi akan terjadi:
Faktor risiko dapat dibagi menjadi tiga kategori:
Faktor pasien (mempengaruhi prognosis dan respons terapi):
Faktor lokal dan sistemik:
Faktor lingkungan:
Setiap kerusakan pada lapisan pelindung kulit membuka pintu bagi bakteri. Faktor-faktor yang mengganggu barrier kulit meliputi:
Ketika barrier kulit rusak, bakteri dapat dengan mudah masuk dan mengkolonisasi jaringan yang lebih dalam.
Pertahanan pertama kulit adalah lapisan keratin yang tebal dan mati di permukaan (stratum corneum). Lapisan ini secara fisik menghalangi bakteri untuk masuk. Namun, ada pula komponen kimia yang bekerja melawan bakteri:
Selain lipid, kulit juga memproduksi peptida antimikroba (AMP) yang secara aktif membunuh bakteri. Dua contoh penting adalah:
AMP bekerja dengan cara:
Hal penting yang perlu dicatat: pada dermatitis atopik, produksi AMP menurun secara signifikan. Ini menjelaskan mengapa pasien dengan dermatitis atopik memiliki kerentanan yang jauh lebih tinggi terhadap infeksi *S. aureus* dan infeksi virus.
Sel-sel imun menggunakan pattern recognition receptors (PRR) untuk mengenali struktur spesifik pada bakteri yang disebut pathogen-associated molecular patterns (PAMP). PRR ini adalah "alarm bells" yang memberitahu tubuh bahwa ada invader.
Tiga komponen utama sistem PRR adalah:
Ketiga komponen ini bekerja bersama secara sinergis. Activation dari TLR meningkatkan produksi AMP, yang sekaligus membunuh bakteri dan mengaktifkan lebih banyak respons imun. Komplemen diaktifkan dan menandai bakteri untuk fagositosis oleh neutrofil. Hasil akhirnya adalah peradangan lokal (yang kita lihat sebagai kemerahan, bengkak, dan nanah) sambil tubuh berusaha membunuh bakteri.
Pola infeksi bakteri pada kulit telah berubah dalam dekade terakhir karena tiga faktor utama:
Faktor-faktor ini terutama mempengaruhi pasien dengan imunodefisiensi, baik dari:
Pada kondisi ini, kemampuan migrasi neutrofil menurun dan infeksi menjadi jauh lebih parah dan sulit diobati.
Klasifikasi morfologis sangat penting karena membantu membuat keputusan terapi empiris (sebelum hasil kultur keluar). Infeksi dibedakan berdasarkan penampilan lesi kulit seperti pustula, impetigo, selulitis, erisipelas, dan abses. Setiap tipe memiliki karakteristik klinis dan patogen dominan yang dapat diprediksi.
Gram stain adalah pemeriksaan paling cepat yang dapat memberikan informasi berharga:
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dalam hitungan menit dan membantu memandu terapi awal. Pada banyak kasus infeksi kulit, gram stain dari aspirat atau swab sudah cukup untuk mulai terapi empiris yang tepat.
Kunci untuk hasil kultur yang akurat adalah pengambilan sampel yang benar untuk menghindari kontaminasi dari flora normal kulit:
Penting dicatat: aspirasi selulitis hanya positif pada ~16% kasus, jadi hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis.
Biopsi dipertimbangkan ketika:
Biopsi memberikan sampel yang lebih dalam dan dapat ditambahkan dengan stain spesial (seperti untuk bakteri tahan asam atau fungi) jika diperlukan.
Untuk kasus-kasus tertentu atau patogen yang jarang:
Terapi harus disesuaikan setelah hasil kultur dan sensitivitas tersedia. Jangan terus memberikan antibiotik spektrum luas jika patogen sudah teridentifikasi dan sensitif terhadap obat yang lebih sempit.
Setiap antibiotik memiliki risiko efek samping yang harus dipertimbangkan:
Pemantauan klinis dan laboratorium berkala sangat penting, terutama untuk terapi antibiotik yang berdurasi panjang atau pada pasien dengan komorbiditas.
Resistansi antibiotik dapat terjadi melalui dua cara utama:
Strategi praktis untuk mengurangi risiko resistansi:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi