Tingkat bukti didasarkan pada Oxford Centre for Evidence-Based Medicine 2011, dan rekomendasi dikategorikan sebagai:
Kategori A: Bukti dari meta-analisis atau uji coba terkontrol acak (RCT) berkualitas tinggi yang dapat diterapkan langsung
Kategori B: Bukti dari studi berkualitas sedang atau ekstrapolasi dari bukti level 1
Kategori C: Bukti dari studi berkualitas rendah atau ekstrapolasi dari bukti level 2
Kategori D: Bukti dari studi observasional atau ekstrapolasi dari bukti level 2
Gagal jantung adalah sindrom klinis kompleks yang terjadi akibat gangguan pada struktur atau fungsi jantung. Gangguan ini dapat mengenai:
Fungsi sistolik (kemampuan jantung untuk berkontraksi dan memompa darah)
Fungsi diastolik (kemampuan jantung untuk relaksasi dan menerima darah)
Struktur katup jantung (yang mengatur aliran darah)
Struktur perikardium (selubung jantung)
Gejala yang paling sering dijumpai meliputi:
Sesak napas – adalah gejala paling umum, terjadi karena kongesti paru akibat penumpukan cairan
Kelelahan dan kelemahan – pasien merasa lelah dengan aktivitas minimal
Edema tungkai – pembengkakan pada kedua kaki atau pergelangan kaki akibat penumpukan cairan
Saat pemeriksaan fisik, Anda dapat menemukan:
Takikardia (denyut jantung cepat) dan takipneu (pernapasan cepat) – kompensasi tubuh terhadap curah jantung yang rendah
Ronki paru – suara abnormal saat memeriksa paru dengan stetoskop, menunjukkan cairan di paru
Efusi pleura – cairan di sekitar paru
Peningkatan tekanan vena jugularis – terlihat pada leher, menunjukkan penumpukan cairan di sistem vena
Hepatomegali – pembesaran hati akibat kemacetan darah
Kardiomegali – pembesaran jantung
Murmur jantung atau S3 gallop – suara jantung abnormal
Peningkatan peptida natriuretik – biomarker dalam darah yang meningkat pada gagal jantung
Pasien sering melaporkan:
Ortopneu – kesulitan bernapas saat berbaring, merasa lebih baik saat duduk
Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) – terbangun di malam hari karena sesak napas
Penurunan toleransi aktivitas – tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dapat dilakukan
Kadang-kadang gagal jantung dapat muncul dengan gejala yang tidak khas, termasuk:
Batuk malam hari
Mengi atau wheezing
Penambahan berat badan ≥2 kg per minggu (tanda retensi cairan)
Penurunan nafsu makan
Kebingungan mental
Depresi
Fraksi ejeksi adalah persentase darah yang dipompa keluar dari ventrikel kiri pada setiap kontraksi. Klasifikasi ini sangat penting karena menentukan jenis terapi yang diberikan:
HFrEF (Heart Failure with Reduced Ejection Fraction) – EF < 40%, menunjukkan disfungsi sistolik yang jelas
HFmrEF (Heart Failure with Mid-Range Ejection Fraction) – EF 40-49%, merupakan zona abu-abu antara normal dan berkurang
HFpEF (Heart Failure with Preserved Ejection Fraction) – EF ≥ 50%, EF normal tetapi pasien memiliki gejala gagal jantung akibat masalah relaksasi (disfungsi diastolik)
Algoritma diagnostik melibatkan beberapa langkah sistematis:
Riwayat dan pemeriksaan fisik – mengumpulkan informasi tentang gejala dan menemukan tanda-tanda fisik
Elektrokardiogram (EKG) – untuk menilai irama jantung dan kelainan elektrik
Biomarker natriuretik – tes darah yang sensitif dan spesifik
Foto toraks – untuk melihat struktur jantung dan paru
Ekokardiografi – pemeriksaan utama untuk konfirmasi diagnosis dan menilai fungsi jantung
EKG adalah pemeriksaan awal yang cepat dan mudah diakses, meskipun tidak spesifik untuk diagnosis gagal jantung. Abnormalitas yang umum ditemukan meliputi:
Sinus takikardia – detak jantung cepat sebagai respons kompensatif
Takikardia atrial dan fibrilasi atrium – irama jantung abnormal yang dapat memicu atau diperburuk oleh gagal jantung
Blok atrioventrikular (AV) – keterlambatan atau kegagalan konduksi listrik antara atrium dan ventrikel
Aritmia ventrikel – irama abnormal dari ventrikel
Gelombang Q – menunjukkan infark miokard sebelumnya
Hipertrofi ventrikel kiri – penebalan dinding ventrikel akibat beban kerja berlebihan
Blok cabang kiri – keterlambatan konduksi di cabang kiri sistem konduksi
Foto toraks memberikan informasi visual tentang kondisi jantung dan paru. Temuan tipikal pada gagal jantung meliputi:
Kardiomegali – pembesaran bayangan jantung, menunjukkan dilatasi jantung
Kongesti paru – pattern infiltrat yang terlihat di lapangan paru, menunjukkan penumpukan cairan
Efusi pleura – cairan di sekitar paru
Penyakit paru penyerta – kelainan paru lain yang mungkin berkontribusi terhadap gejala atau menjadi faktor presipitasi
Pemeriksaan darah memberikan informasi penting tentang status keseimbangan elektrolit dan untuk mengidentifikasi penyakit penyerta. Hal-hal yang dinilai meliputi:
Anemia – kadar hemoglobin rendah, yang dapat memperburuk gejala karena berkurangnya kapasitas pembawa oksigen
Hiponatremia – kadar natrium darah rendah, seringkali mencerminkan aktivasi neurohormonal yang berat
Hiperkalemia – kadar kalium tinggi, penting dimonitor terutama saat pemberian inhibitor ACE atau antagonis aldosteron
Fungsi ginjal – gagal jantung dapat mempengaruhi fungsi ginjal dan sebaliknya
Fungsi hati – kemacetan hepatik pada gagal jantung dapat mempengaruhi fungsi hati
Biomarker natriuretik adalah protein yang diproduksi oleh jantung saat ada stress. Dua yang paling penting adalah:
BNP (B-type Natriuretic Peptide)
NT-proBNP (N-terminal pro-BNP)
Nilai normal (tidak ada gagal jantung):
BNP < 100 pg/mL atau NT-proBNP < 400 pg/mL memiliki nilai prediktif negatif yang tinggi – jika nilai ini normal, gagal jantung sangat tidak mungkin.
Nilai tinggi (konsisten dengan gagal jantung):
BNP ≥ 400 pg/mL atau NT-proBNP ≥ 2000 pg/mL sangat menyarankan gagal jantung, meskipun tidak mutlak karena beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan biomarker ini (misalnya infark miokard, sepsis, emboli paru).
Nilai moderat (zona abu-abu):
Nilai antara normal dan tinggi memerlukan interpretasi klinis yang hati-hati dan sering memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi.