Fraktur Ekstremitas Bawah dan Pelvis

Fraktur ekstremitas bawah dan pelvis adalah kondisi ortopedi yang sering ditemui di UGD, seringkali akibat trauma energi tinggi. Penanganan yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi serius seperti perdarahan masif, cedera neurovaskular, hingga kematian. Mahasiswa kedokteran wajib menguasai konsep dasar diagnosis dan tatalaksananya, terutama untuk persiapan UKMPPD. Yuk, perdalam pemahamanmu tentang jenis-jenis fraktur ini, mekanisme cedera, hingga prinsip penanganannya yang efektif!

Definisi dan Klasifikasi Umum

Fraktur adalah diskontinuitas atau hilangnya integritas tulang. Fraktur ekstremitas bawah meliputi fraktur femur, patella, tibia, fibula, dan tulang-tulang pedis. Fraktur pelvis melibatkan diskontinuitas pada cincin pelvis.

Klasifikasi umum fraktur meliputi:

  • Fraktur Tertutup (Simple): Kulit di atas fraktur utuh.
  • Fraktur Terbuka (Compound): Terdapat diskontinuitas kulit dan jaringan lunak yang menghubungkan area fraktur dengan lingkungan luar. Klasifikasi Gustilo-Anderson digunakan untuk fraktur terbuka.
  • Berdasarkan Morfologi: Transversal, oblik, spiral, kominutif, segmental, avulsi, impaksi, greenstick, torus.
  • Berdasarkan Dislokasi: Undisplaced (tidak bergeser) atau displaced (bergeser).
  • Berdasarkan Stabilitas: Stabil atau tidak stabil.

Mekanisme Cedera

Mekanisme cedera sangat penting untuk menentukan jenis fraktur dan potensi cedera penyerta.

  • Trauma Langsung: Pukulan langsung pada tulang (misalnya, benturan dasbor pada patella).
  • Trauma Tidak Langsung: Kekuatan diterapkan pada satu titik dan fraktur terjadi di titik lain (misalnya, jatuh dengan kaki mendarat menyebabkan fraktur kolum femoris).
  • Fraktur Patologis: Terjadi pada tulang yang sudah lemah akibat penyakit (misalnya, osteoporosis, tumor).
  • Fraktur Stres: Akibat beban berulang pada tulang (misalnya, pada atlet atau tentara).

Fraktur Pelvis umumnya disebabkan oleh trauma energi tinggi (KLL, jatuh dari ketinggian) dan sering diasosiasikan dengan cedera organ lain (urogenital, gastrointestinal, vaskular).

Klasifikasi Fraktur Pelvis (Ringkas)

Klasifikasi fraktur pelvis penting untuk menilai stabilitas dan potensi perdarahan.

  • Klasifikasi Tile (berdasarkan stabilitas cincin pelvis):
    • Tipe A (Stabil): Cincin pelvis utuh atau fraktur yang stabil (misalnya, avulsi, ramus pubis unilateral).
    • Tipe B (Rotasional Tidak Stabil, Vertikal Stabil): Cincin pelvis terganggu secara rotasional (misalnya, Open Book, Lateral Compression).
    • Tipe C (Rotasional & Vertikal Tidak Stabil): Disrupsi lengkap cincin pelvis anterior dan posterior (paling parah, risiko perdarahan masif tinggi).

Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala umum fraktur meliputi:

  • Nyeri Hebat: Terutama saat digerakkan atau dipalpasi.
  • Deformitas: Perubahan bentuk, angulasi, pemendekan ekstremitas.
  • Pembengkakan dan Ekimosis: Akumulasi darah di jaringan.
  • Krepitasi: Sensasi gesekan tulang saat digerakkan.
  • Hilangnya Fungsi: Ketidakmampuan menggerakkan bagian tubuh yang cedera.
  • Nyeri Tekan Lokal: Pada area fraktur.

Pada fraktur pelvis, selain gejala di atas, penting untuk mencari tanda-tanda syok hipovolemik (takikardia, hipotensi, pucat, akral dingin) akibat perdarahan masif, serta cedera organ penyerta (hematuria, perdarahan rektum, nyeri abdomen).

Penegakan Diagnosis

Anamnesis

  • Mekanisme cedera (arah, kekuatan, posisi tubuh saat cedera).
  • Waktu kejadian, riwayat penyakit sebelumnya, alergi, obat-obatan.

Pemeriksaan Fisik

  • Primary Survey (ATLS): Penting pada trauma energi tinggi (fraktur pelvis) untuk menyingkirkan kondisi life-threatening.
  • Secondary Survey:
    • Inspeksi: Deformitas, bengkak, luka terbuka, ekimosis.
    • Palpasi: Nyeri tekan, krepitasi, pulsasi perifer, sensasi (neurovaskular).
    • Gerakan: Nyeri saat digerakkan (aktif/pasif), keterbatasan gerak.
  • Evaluasi status neurovaskular distal dari cedera (pulsasi, CRT, sensasi, motorik) sangat krusial.

Pemeriksaan Penunjang

  • Rontgen (X-ray): Minimal 2 proyeksi (AP dan lateral), mencakup sendi proksimal dan distal fraktur. Pada pelvis: AP, inlet, outlet view.
  • CT-Scan: Indikasi pada fraktur kompleks, intra-artikular, atau fraktur pelvis untuk detail anatomi dan perencanaan operasi.
  • MRI: Jika dicurigai cedera jaringan lunak (ligamen, meniskus) atau AVN.
  • Pemeriksaan Laboratorium: Darah lengkap, golongan darah, elektrolit, fungsi ginjal (terutama pada fraktur pelvis dengan potensi perdarahan besar).

Prinsip Tatalaksana

Tujuan utama adalah reduksi dan imobilisasi fraktur, restorasi fungsi, serta pencegahan komplikasi.

Tatalaksana Umum

  • Resusitasi: Pada fraktur pelvis dengan syok hipovolemik, stabilisasi hemodinamik adalah prioritas utama (infus cairan, transfusi darah, fiksasi eksternal pelvis).
  • Reduksi: Mengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomisnya. Dapat dilakukan secara tertutup (tanpa operasi) atau terbuka (dengan operasi).
  • Imobilisasi: Mempertahankan posisi reduksi hingga terjadi penyembuhan tulang. Metode: gips, splint, traksi, fiksasi internal (plate, screw, intramedullary nail), fiksasi eksternal.
  • Rehabilitasi: Fisioterapi untuk mengembalikan kekuatan otot, rentang gerak, dan fungsi.

Tatalaksana Farmakologis

  • Analgesik: Untuk mengontrol nyeri.
  • Antibiotik: Profilaksis pada fraktur terbuka (sesuai Gustilo-Anderson).
  • Profilaksis Trombosis Vena Dalam (TVD): Pada fraktur ekstremitas bawah dan pelvis yang memerlukan imobilisasi lama atau operasi.

Komplikasi

Komplikasi Dini

  • Syok Hipovolemik: Terutama pada fraktur pelvis dan femur akibat perdarahan masif.
  • Cedera Neurovaskular: Kerusakan saraf atau pembuluh darah akibat trauma atau fragmen tulang.
  • Sindrom Kompartemen: Peningkatan tekanan dalam kompartemen otot yang tertutup, mengganggu perfusi jaringan.
  • Emboli Lemak: Terutama pada fraktur tulang panjang (femur), dapat menyebabkan disfungsi paru dan neurologis.
  • Infeksi: Pada fraktur terbuka.

Komplikasi Lanjut

  • Non-union: Fraktur gagal menyatu setelah waktu yang cukup.
  • Malunion: Fraktur menyatu dalam posisi yang tidak anatomis.
  • Delayed Union: Fraktur menyatu lebih lambat dari yang diharapkan.
  • Osteomielitis: Infeksi tulang.
  • Nekrosis Aseptik (AVN): Kematian jaringan tulang akibat gangguan suplai darah (sering pada fraktur kolum femoris).
  • Kekakuan Sendi: Keterbatasan gerak sendi.
  • Trombosis Vena Dalam (TVD) & Emboli Paru (EP).

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds