Faringitis dan Tonsilitis Akut

Sakit tenggorokan adalah keluhan yang sering banget kamu temui di IGD atau praktik sehari-hari, tapi tahukah kamu kapan harus curiga infeksi bakteri yang butuh antibiotik, dan kapan cukup istirahat saja? Faringitis dan tonsilitis akut memang umum, tapi penanganan yang tepat itu kunci untuk mencegah komplikasi serius. Yuk, kuasai materi ini biar kamu makin jago bedain viral vs. bacterial dan siap hadapi soal UKMPPD!

Definisi

Faringitis adalah inflamasi pada mukosa faring, sedangkan tonsilitis adalah inflamasi pada tonsil palatina. Keduanya sering terjadi bersamaan, dikenal sebagai faringotonsilitis, dan merupakan penyebab umum sakit tenggorokan.

Etiologi

Mayoritas kasus faringitis dan tonsilitis akut disebabkan oleh infeksi virus, namun infeksi bakteri juga penting untuk diidentifikasi karena memerlukan penanganan spesifik.

  • Viral:

    Paling sering disebabkan oleh virus saluran napas atas, seperti Rhinovirus, Adenovirus, Influenza virus, Parainfluenza virus, Coronavirus, Epstein-Barr virus (EBV), dan Herpes Simplex virus (HSV).

  • Bakterial:

    Penyebab bakteri tersering adalah Streptococcus pyogenes (Grup A Beta-Hemolytic Streptococcus/GABHS). Bakteri lain yang lebih jarang termasuk Arcanobacterium hemolyticum, Mycoplasma pneumoniae, dan Chlamydia pneumoniae.

Patofisiologi

Baik virus maupun bakteri masuk melalui saluran napas atas dan menginvasi sel-sel mukosa faring dan/atau tonsil. Invasi ini memicu respons inflamasi lokal yang ditandai dengan vasodilatasi, edema, dan infiltrasi sel-sel imun. Peradangan ini menyebabkan gejala seperti nyeri, kemerahan, dan pembengkakan.

Manifestasi Klinis

Meskipun gejalanya tumpang tindih, ada beberapa petunjuk yang bisa membantu membedakan etiologi viral dan bakterial:

Gejala/TandaFaringitis/Tonsilitis ViralFaringitis/Tonsilitis Bakterial (GABHS)
OnsetGradualAkut
Nyeri TenggorokanSedang, bisa disertai gatalBerat, mendadak
DemamBiasanya ringan,
BatukSering adaJarang ada
Pilek/CoryzaSering ada (bersin, hidung meler)Jarang ada
KonjungtivitisSering adaJarang ada
Eksudat TonsilJarang ada, jika ada biasanya ringanSering ada (putih/kuning), strep throat
LimfadenopatiServikal anterior, tidak nyeriServikal anterior, nyeri tekan
Ruam KulitJarangBisa ada (misal: scarlet fever)
Mual/Muntah/Nyeri AbdomenJarang pada dewasaSering pada anak

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan kadang pemeriksaan penunjang.

  • Anamnesis:

    Tanyakan onset, durasi, karakteristik nyeri, gejala penyerta (batuk, pilek, demam, ruam), riwayat kontak, dan riwayat penyakit sebelumnya.

  • Pemeriksaan Fisik:

    Inspeksi orofaring (kemerahan, pembengkakan tonsil, eksudat, petekie pada palatum molle), palpasi KGB servikal (pembesaran, nyeri tekan). Lakukan juga pemeriksaan sistem lain untuk menyingkirkan diagnosis banding.

  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Rapid Antigen Detection Test (RADT): Deteksi antigen GABHS dari swab tenggorok. Cepat, spesifisitas tinggi, sensitivitas bervariasi. Jika positif, bisa langsung terapi antibiotik. Jika negatif pada anak, perlu konfirmasi kultur.
    • Kultur Tenggorok (Gold Standard): Deteksi GABHS. Sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Hasil didapat dalam 24-48 jam.
    • Pemeriksaan Darah Lengkap (DL): Dapat menunjukkan leukositosis (terutama neutrofil) pada infeksi bakteri, atau limfositosis atipikal pada mononukleosis.
  • Skor Centor/McIsaac:

    Digunakan untuk memprediksi kemungkinan infeksi GABHS dan memandu keputusan pemeriksaan penunjang/terapi, terutama pada pasien dewasa dan anak >3 tahun. Setiap kriteria bernilai 1 poin:

    • Tonsil eksudat
    • Pembengkakan/nyeri tekan KGB servikal anterior
    • Tidak batuk
    • Riwayat demam (atau suhu ≥38°C)
    • Usia 3-14 tahun (+1 poin)
    • Usia ≥45 tahun (-1 poin)

    Interpretasi Skor:

    • 0-1 poin: Risiko GABHS rendah, tidak perlu tes/antibiotik.
    • 2-3 poin: Risiko sedang, pertimbangkan RADT atau kultur tenggorok.
    • ≥4 poin: Risiko tinggi, pertimbangkan RADT/kultur atau terapi antibiotik empiris.

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan faringotonsilitis dari kondisi lain dengan gejala serupa:

  • Mononukleosis Infeksiosa: Disebabkan EBV. Ditandai triad demam, faringitis eksudatif, dan limfadenopati. Sering disertai splenomegali, hepatomegali, dan ruam.
  • Epiglotitis Akut: Kondisi gawat darurat. Nyeri menelan hebat, drooling, stridor, tripod position.
  • Abses Peritonsiler (Quinsy): Komplikasi tonsilitis. Nyeri hebat unilateral, trismus, suara hot potato voice, deviasi uvula ke sisi kontralateral.
  • Difteria: Jarang di Indonesia berkat imunisasi. Membentuk pseudomembran abu-abu yang sulit dilepas dan berdarah jika dipaksa.
  • Herpangina: Disebabkan Coxsackievirus. Vesikel/ulkus pada palatum molle, tonsil, uvula.
  • Stomatitis Aftosa: Ulkus tunggal atau multipel pada mukosa mulut.
  • Agranulositosis: Penurunan sel darah putih yang parah, rentan infeksi berat.

Tatalaksana

Tatalaksana disesuaikan dengan etiologi dan keparahan penyakit.

  • Tatalaksana Non-Farmakologis:
    • Istirahat cukup.
    • Asupan cairan adekuat.
    • Kumur air garam hangat.
    • Hindari iritan (rokok, polusi).
    • Makan makanan lunak.
  • Tatalaksana Farmakologis:
    • Faringitis/Tonsilitis Viral:

      Bersifat simtomatik. Analgesik-antipiretik (parasetamol, ibuprofen) untuk demam dan nyeri. Dekongestan atau antihistamin dapat diberikan jika ada gejala pilek.

    • Faringitis/Tonsilitis Bakterial (GABHS):

      Pemberian antibiotik bertujuan eradikasi bakteri, mencegah komplikasi supuratif (abses) dan non-supuratif (demam reumatik, glomerulonefritis pasca-streptokokus).

      • Pilihan utama: Penisilin V per oral selama 10 hari.
      • Alternatif: Amoksisilin per oral selama 10 hari.
      • Alergi penisilin: Eritromisin atau azitromisin.
      • Dosis dan durasi harus adekuat untuk mencegah komplikasi.

Komplikasi

Komplikasi dapat terjadi jika infeksi tidak ditangani dengan baik, terutama pada infeksi GABHS.

  • Komplikasi Supuratif (Lokal):
    • Abses peritonsiler (quinsy)
    • Abses retrofaringeal
    • Abses parafaringeal
    • Otitis media akut
    • Sinusitis
    • Limfadenitis servikal supuratif
  • Komplikasi Non-Supuratif (Sistemik):
    • Demam Reumatik Akut (DRA): Komplikasi serius yang dapat merusak jantung (karditis), sendi (artritis), otak (korea Sydenham), dan kulit.
    • Glomerulonefritis Pasca-Streptokokus Akut (GNPSA): Kerusakan ginjal yang terjadi setelah infeksi GABHS.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk keberhasilan terapi dan pencegahan penularan.

  • Pentingnya Menghabiskan Antibiotik: Jelaskan mengapa antibiotik harus dihabiskan meskipun gejala membaik, untuk mencegah resistensi dan komplikasi.
  • Pencegahan Penularan: Ajarkan etika batuk/bersin, cuci tangan teratur, hindari berbagi alat makan/minum.
  • Istirahat dan Nutrisi: Anjurkan istirahat cukup dan asupan cairan serta nutrisi adekuat.
  • Kapan Kembali ke Dokter: Beri tahu tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medis segera (misal: sulit menelan, sulit bernapas, nyeri hebat unilateral).

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds