Faktor Risiko PPOK

Faktor-faktor risiko yang menyebabkan penyakit paru obstruktif kronik termasuk merokok, polusi, dan genetik.

Polusi udara dalam ruangan mencakup berbagai sumber:

Asap rokok (dari perokok atau perokok lain) Asap dapur, termasuk asap dari pembakaran kayu, arang, dan bahan bakar biomassa lainnya

Polusi udara luar ruangan terutama berasal dari:

Gas buang kendaraan bermotor, yang mengandung nitrogen dioksida, partikel diesel, dan senyawa organik volatile Debu jalanan dan partikel PM₂.₅ dan PM₁₀, yang dapat menembus ke saluran napas bawah

Paparan akibat pekerjaan (occupational exposure) dapat meningkatkan risiko PPOK secara signifikan. Zat-zat yang terbukti berbahaya meliputi:

Bahan kimia industri Zat iritasi (seperti klor, amoniak) Gas beracun Debu mineral dan organik

Merokok aktif meningkatkan risiko PPOK bergantung pada beberapa parameter dosis:

Usia mulai merokok: Semakin muda seseorang mulai merokok, semakin lama paru terpapar kerusakan Jumlah batang per hari: Lebih banyak rokok yang dihisap setiap hari berarti dosis lebih tinggi Lamanya merokok (tahun): Durasi paparan kronis menentukan derajat kerusakan paru Kedalaman inhalasi: Seberapa dalam perokok menghirup asap rokok

Derajat berat merokok berdasarkan Indeks Brinkman:

Ringan: IB 0-200 Sedang: IB 201-600 Berat: IB >600

Riwayat merokok pasien diklasifikasikan menjadi tiga kategori:

Perokok aktif: Seseorang yang masih merokok saat ini Perokok pasif: Seseorang yang tidak merokok tetapi terpapar asap rokok lingkungan secara teratur Bekas perokok: Seseorang yang telah berhenti merokok

Status sosial-ekonomi yang lebih rendah dikaitkan dengan:

Berat badan lahir rendah (BBLR), yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan paru secara optimal Paparan lingkungan yang lebih buruk (polusi udara, merokok pasif) Akses yang terbatas terhadap layanan kesehatan dan pencegahan

Malnutrisi mengurangi:

Massa otot respirasi, sehingga mengurangi kemampuan ventilasi Kapasitas sistem imun, membuat paru lebih rentan terhadap infeksi

Mutasi pada gen SERPINA1 menyebabkan defisiensi α-1 antitripsin, suatu kondisi genetik yang meningkatkan risiko emfisema secara dramatis. Penting untuk diperhatikan:

Pada perokok: Defisiensi α-1 antitripsin mempercepat pengembangan emfisema secara signifikan, bahkan pada usia lebih muda (40-50 tahun) Pada bukan perokok: Pun masih berisiko mengembangkan emfisema pada usia yang lebih tua, terutama jika terpapar polusi atau asap rokok pasif

Beberapa karakteristik personal lainnya juga meningkatkan risiko PPOK:

Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, karena akumulasi kerusakan paru dari paparan kronis Jenis kelamin: Secara historis, PPOK lebih sering pada pria, tetapi tren saat ini menunjukkan peningkatan prevalensi pada wanita seiring dengan perubahan pola merokok Infeksi paru berulang semasa kanak-kanak: Infeksi seperti pneumonia berulang dapat menghambat perkembangan paru Asma atau hiperreaktivitas bronkus: Individu dengan asma memiliki peningkatan risiko overlapping syndrome (ACOS—Asthma-COPD Overlap Syndrome) Bronkitis kronik: Peradangan kronis saluran napas besar merupakan manifestasi awal PPOK

Referensi

  1. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Penyakit Paru Obstruktif Kronik — KEMKES RI
Customer Support umeds