Faktor Risiko dan Pencegahan Primer Stroke

Faktor risiko stroke yang dapat dan tidak dapat dimodifikasi serta strategi pencegahan primer.

Faktor risiko stroke meliputi:

Faktor riwayat keluarga dan genetik: riwayat keluarga stroke, sickle cell disease, polisitemia Faktor kardiovaskular: penyakit jantung, fibrilasi atrium, patent foramen ovale, stenosis karotis asimtomatik Faktor metabolik dan gaya hidup: hipertensi, diabetes, dislipidemia, merokok, obesitas Faktor lain: terapi hormon, kontrasepsi oral, faktor inflamasi (misalnya infeksi gigi)

Target tekanan darah yang direkomendasikan berbeda tergantung kondisi pasien:

Populasi umum: tekanan sistolik < 150 mmHg dan diastolik < 90 mmHg Pasien diabetes atau penyakit ginjal kronik: < 130/80 mmHg (standar lebih ketat)

Obat pilihan pertama untuk hipertensi meliputi:

Diuretik tiazid (misalnya hidroklorotiazid) Penghambat kanal kalsium (misalnya amlodipine) ACE inhibitor (misalnya lisinopril) atau ARB/penyekat reseptor angiotensin (misalnya losartan)

Perubahan hematologi dan koagulasi:

Peningkatan koagulabilitas darah (mudah membeku) Peningkatan viskositas darah Peningkatan fibrinogen Peningkatan agregasi platelet (penggumpalan trombosit) Peningkatan hematokrit

Perubahan lipid dan tekanan:

Peningkatan LDL (kolesterol jahat) Penurunan HDL (kolesterol baik) Peningkatan tekanan darah

Strategi Penghentian Merokok

Konseling (behavioral support) fondasi penting Terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy): patch, permen karet, inhalator, semprot hidung Obat oral: vareniklin (reseptor nikotinat parsial agonist) atau bupropion (antidepresan)

Target lipid:

LDL kolesterol < 100 mg/dL (target umum) LDL kolesterol < 70 mg/dL untuk pasien high-risk (dengan penyakit kardiovaskular atau multiple risk factors)

ACE inhibitor atau ARB adalah pilihan utama untuk mengelola hipertensi pada pasien diabetes karena:

Memberikan proteksi ginjal Mengurangi albuminuria Menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular

LDL kolesterol > 150 mg/dL memerlukan terapi statin. Statin bekerja dengan:

Mengurangi produksi kolesterol hati Meningkatkan clearance LDL dari darah Meningkatkan stabilitas plak aterosklerotik

Skrining fibrilasi atrium dilakukan dengan:

Pemeriksaan nadi: mencari irama yang tidak teratur (irregular irregularly) EKG: untuk konfirmasi diagnosis

Untuk memutuskan apakah pasien AFib memerlukan antikoagulan, gunakan skor CHA₂DS₂-VASc:

C = Congestive heart failure (1 poin) H = Hypertension (1 poin) A₂ = Age ≥75 (2 poin) D = Diabetes (1 poin) S₂ = prior Stroke/TIA/thromboembolism (2 poin) V = Vascular disease (1 poin) A = Age 65-74 (1 poin) Sc = Sex category female (1 poin)

Rekomendasi antikoagulan:

Skor ≥ 2: Antikoagulan direkomendasikan (NOAC seperti apixaban, dabigatran, edoxaban, rivaroxaban ATAU warfarin dengan INR 2-3) Skor 1 dengan risiko perdarahan rendah: Dapat dipertimbangkan tidak memberikan antikoagulan, tetapi antikoagulan tetap pilihan yang masuk akal Skor 0: Antikoagulan tidak diperlukan

NOAC lebih dipilih dibanding warfarin pada kebanyakan pasien karena:

Monitoring INR tidak diperlukan Onset aksi lebih cepat Profil efektivitas dan keamanan superior dalam uji klinis

Faktor yang meningkatkan risiko:

Right-to-left shunt (RLS) saat istirahat RLS saat valsava maneuver (mengedan, batuk, mengangkat beban) Aneurisma septa atrium

Deteksi PFO dilakukan dengan:

Transesophageal echocardiography (TEE) dengan bubble contrast: sensitivitas tinggi, gold standard Transcranial Doppler (TCD) dengan agitated saline bubble contrast: non-invasif, dapat mendeteksi microemboli

Derajat stenosis diukur dengan:

Angiografi: standar referensi Doppler ultrasound: pemeriksaan non-invasif, praktis di klinik

Untuk semua pasien dengan stenosis karotis asimtomatik:

Aspirin dosis rendah Statin (untuk kontrol lipid) Modifikasi gaya hidup (kontrol tekanan darah, berhenti merokok, diet sehat)

Intervensi mekanis:

Carotid endarterectomy (CEA) atau carotid stenting dipertimbangkan jika: Stenosis ≥ 60% pada angiografi, ATAU Stenosis ≥ 70% pada Doppler ultrasound AND pasien memiliki life expectancy > 5 tahun Jika surgical risk tinggi: Pilih carotid stenting sebagai alternatif

Skrining populasi umum untuk stenosis karotis asimtomatik TIDAK direkomendasikan karena:

Rendah cost-effectiveness Banyak false positives Risk-benefit ratio tidak menguntungkan

Skrining dan Manajemen

Skrining TCD (Transcranial Doppler) pada usia 2-16 tahun untuk mengidentifikasi pasien high-risk (kecepatan aliran > 200 cm/s) Target hemoglobin S (HbS) < 30% dicapai dengan transfusi darah reguler Alternatif jika menolak transfusi: Hidroksiurea: meningkatkan hemoglobin F (fetal) yang melindungi Transplantasi sumsum tulang: kurasi definitif pada kasus tertentu Pada dewasa: Evaluasi faktor risiko stroke umum (hipertensi, diabetes, merokok, dislipidemia)

Referensi

  1. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stroke — KEMKES RI
Customer Support umeds