
Epistaksis posterior didefinisikan sebagai perdarahan aktif yang bermula dari kompartemen posterior rongga hidung atau nasofaring, biasanya melibatkan jaringan vaskular di sekitar meatus nasi media superior. Gangguan ini secara klinis dikategorikan sebagai kondisi emergensi THT karena volume perdarahan yang signifikan dan risiko aspirasi sekret ke jalan napas. Penanganannya menuntut pemahaman anatomi regional yang mendalam serta kesiapan prosedur intervensi invasif minimal.
Epistaksis posterior umumnya berasal dari pendarahan arteri sfenopalatina atau cabangnya di sepertiga posterior rongga hidung dan nasofaring. Berbeda dengan epistaksis anterior yang sering bersifat idiopatik, perdarahan posterior biasanya berkaitan dengan faktor sistemik maupun lesi struktural yang lebih signifikan.
Pemahaman etiologi yang tepat sangat penting untuk menentukan strategi hemostasis yang efektif dan mencegah komplikasi akibat kehilangan darah masif.
Epistaksis posterior umumnya bermula dari pecahnya pembuluh darah di pleksus Woodruff atau cabang arteri sfenopalatina yang terletak di meatus nasi media bagian posterior. Kerusakan mukosa akibat kekeringan, hipertensi sistemik, atau proses degeneratif vaskular memicu perdarahan yang mengalir ke belakang menuju nasofaring.
Mekanisme ini diperparah oleh faktor lokal maupun sistemik yang menghambat mekanisme hemostasis alami. Darah yang tertelan dapat menyebabkan mual dan aspirasi, sementara kehilangan volume darah signifikan berisiko menimbulkan syok hipovolemik pada pasien rentan.

Epistaksis posterior umumnya menyerang pasien berusia lebih dari lima puluh tahun dengan riwayat hipertensi atau penyakit vaskular sistemik. Berbeda dengan perdarahan anterior, darah mengalir ke belakang menuju faring sehingga pasien sering menelan darah secara tidak sadar. Hal ini menyebabkan keluhan mual, muntah darah, atau tinja berwarna hitam yang sering disalahartikan sebagai gangguan saluran cerna.
Diagnosis epistaksis posterior memerlukan evaluasi klinis yang sistematis untuk membedakan perdarahan dari sumber anterior atau posterior serta mengidentifikasi etiologi dasar. Pemeriksaan fisik menyeluruh harus dilakukan bersamaan dengan penatalaksanaan awal untuk mencegah syok hipovolemik pada pasien.
Penegakan diagnosis ditegakkan melalui anamnesis lengkap mengenai riwayat perdarahan, penggunaan antikoagulan, serta penyakit penyerta seperti hipertensi atau gangguan koagulasi. Evaluasi lanjutan diperlukan jika perdarahan tidak responsif terhadap penanganan konservatif atau dicurigai adanya lesi neoplastik.
Penatalaksanaan epistaksis posterior memerlukan pendekatan sistematis yang dimulai dari stabilisasi hemodinamik pasien karena risiko perdarahan masif dan aspirasi darah. Evaluasi awal mencakup penilaian jalan napas, sirkulasi, dan identifikasi faktor predisposisi sebelum dilakukan intervensi spesifik pada rongga hidung.
Epistaksis posterior merupakan kondisi gawat darurat THT yang berpotensi menimbulkan komplikasi sistemik dan lokal akibat lokasi perdarahan yang berada jauh di belakang kavum nasi.
Patofisiologi komplikasi umumnya berkaitan dengan volume perdarahan yang masif serta prosedur intervensi bedah konservatif yang diperlukan untuk menghentikan aliran darah.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi