
Epistaksis anterior didefinisikan sebagai perdarahan aktif yang berasal dari jaringan vaskular superficial di sepertiga depan septum nasi, tepatnya pada pleksus Kisselbach. Kondisi ini menjadi manifestasi klinis paling umum dari gangguan perdarahan saluran napas atas yang sering ditangani di layanan gawat darurat THT-KL. Pemahaman anatomi dan fisiopatologi lokasi ini menjadi dasar penatalaksanaan awal yang efektif sebelum dilakukan prosedur invasif lebih lanjut.
Epistaksis anterior merupakan perdarahan yang berasal dari sumber vaskular di kompartemen depan rongga hidung, khususnya pleksus Kiesselbach. Etiologinya umumnya multifaktorial dan dapat diklasifikasikan menjadi penyebab lokal maupun sistemik. Pemahaman etiologi yang tepat sangat penting untuk menentukan tatalaksana hemostasis yang efektif pada mahasiswa kedokteran dan gigi.
Epistaksis anterior umumnya bermula dari perdarahan pada pleksus Kiesselbach di kuadran inferior septum nasi. Area ini memiliki vaskularisasi yang sangat kaya dari anastomosis arteri sistemik namun dilapisi mukosa tipis yang sangat rentan terhadap iritasi dan dehidrasi lingkungan. Mekanisme patofisiologis utamanya melibatkan kerusakan integritas epitel disertai vasodilatasi reaktif dan kegagalan hemostasis primer pada kapiler superfisial.

Epistaksis anterior merupakan perdarahan hidung yang berasal dari jaringan vaskular di septum nasi bagian depan, khususnya pada area Kiesselbach plexus. Gejala utamanya ditandai dengan keluarnya darah segar secara unilateral atau bilateral melalui lubang hidung depan. Pasien umumnya menyadari perdarahan sejak dini karena lokasi sumber perdarahan yang mudah diakses dan terlihat.
Manifestasi klinis dapat bervariasi tergantung pada volume perdarahan dan durasinya. Pada kasus ringan, pasien mungkin hanya mengalami tetesan darah saat membersihkan hidung atau setelah bersin. Sebaliknya, perdarahan masif dapat memicu gejala sistemik akibat hipovolemia ringan hingga sedang.
Diagnosis epistaksis anterior ditegakkan melalui anamnesis riwayat trauma, penggunaan obat, dan faktor risiko sistemik, diikuti pemeriksaan fisik untuk menilai stabilitas hemodinamik pasien. Identifikasi fokus perdarahan dilakukan dengan inspeksi rongga hidung menggunakan spesulum atau endoskopi untuk melihat area pleksus Kiesselbach.
Penatalaksanaan epistaksis anterior berfokus pada penghentian perdarahan secara cepat dan pencegahan rekurensi melalui pendekatan klinis yang terstruktur. Evaluasi awal wajib memastikan stabilitas hemodinamik penderita sebelum dilakukan prosedur henti perdarahan lokal secara bertahap.
Intervensi medis harus disesuaikan dengan tingkat keparahan perdarahan dan respons terhadap tindakan konservatif awal.
Epistaksis anterior umumnya bersifat jinak dan dapat ditatalaksana dengan kompresi sederhana atau kauterisasi. Namun, jika tidak ditatalaksana dengan tepat, kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi lokal maupun sistemik yang memerlukan intervensi lebih lanjut. Pemahaman mengenai potensi risiko ini sangat penting bagi mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi dalam menegakkan diagnosis dini serta mencegah progresi penyakit.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi