
Epistaksis atau perdarahan hidung merupakan kondisi medis yang sering dijumpai dalam praktik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher. Secara definisi, epistaksis adalah keluarnya darah dari rongga hidung atau nasofaring akibat ruptur pembuluh darah mukosa.
Kondisi ini dapat bersifat ringan dan berhenti spontan, namun dalam beberapa kasus memerlukan intervensi medis segera untuk mencegah komplikasi hemodinamik. Klasifikasi epistaksis secara klinis didasarkan pada lokasi sumber perdarahan dan tingkat keparahannya. Pemahaman anatomi vaskularisasi hidung sangat penting untuk menentukan tatalaksana yang tepat.
Epistaksis merupakan manifestasi klinis dari gangguan vaskular atau mukosa saluran napas atas yang dapat dipicu oleh berbagai faktor lokal maupun sistemik. Pemahaman etiologi yang komprehensif sangat penting untuk menentukan lokasi perdarahan dan strategi penatalaksanaan yang tepat pada pasien.
Faktor penyebab dibagi menjadi etiologi lokal yang melibatkan struktur hidung secara langsung dan etiologi sistemik yang memengaruhi hemostasis serta tekanan vaskular secara keseluruhan.
Epistaksis merupakan manifestasi klinis dari ruptur pembuluh darah mukosa hidung yang dipicu oleh berbagai faktor lokal maupun sistemik. Perdarahan umumnya berasal dari pleksus Kiesselbach di septum anterior atau pleksus Woodruff di meatus inferior posterior. Kerusakan integritas mukosa dan peningkatan tekanan vaskular menjadi mekanisme utama terjadinya perdarahan aktif.
Patogenesisnya melibatkan interaksi antara predisposisi anatomis, rangsangan lingkungan, serta gangguan hemostasis tubuh. Faktor seperti udara kering, trauma digital, infeksi saluran napas, hipertensi, dan kelainan koagulasi dapat memperburuk kerentanan pembuluh darah kapiler. Pemahaman lokasi sumber perdarahan sangat menentukan strategi penatalaksanaan klinis selanjutnya.

Epistaksis umumnya bermanifestasi sebagai perdarahan aktif dari rongga hidung yang dapat bersifat unilateral atau bilateral. Pasien biasanya mengeluhkan keluarnya darah segar secara spontan atau setelah tindakan manipulasi ringan pada hidung. Dalam kasus berat, perdarahan posterior dapat mengalir ke faring sehingga pasien sering kali meludah atau muntah darah berwarna coklat tua.
Evaluasi klinis juga harus mencakup penilaian status hemodinamik secara menyeluruh karena kehilangan volume darah signifikan dapat memicu respons kompensasi simpatis. Tanda-tanda hipovolemia seperti palpitasi, keringat dingin, dan penurunan kesadaran perlu diwaspadai terutama pada kelompok usia lanjut atau pasien dengan komorbiditas kardiovaskular.
Diagnosis epistaksis ditegakkan melalui anamnesis lengkap dan pemeriksaan fisik kepala leher yang sistematis. Fokus utama adalah menentukan lokasi perdarahan serta mengidentifikasi etiologi dasar yang mendasarinya.
Penatalaksanaan epistaksis bertujuan untuk menghentikan perdarahan, mengidentifikasi penyebab, serta mencegah rekurensi. Langkah awal meliputi stabilisasi hemodinamik pasien dan penilaian riwayat medis lengkap untuk mendeteksi faktor risiko sistemik maupun lokal.
Evaluasi klinis harus dilakukan secara sistematis untuk menentukan lokasi pendarahan anterior atau posterior sebelum memilih modalitas terapi yang tepat.
Epistaksis yang tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan berbagai komplikasi lokal maupun sistemik yang membahayakan keselamatan pasien. Perdarahan yang berlangsung lama atau berulang berisiko signifikan menyebabkan anemia defisiensi besi serta destabilisasi hemodinamik pada penderita dengan penyakit penyerta kardiovaskular. Selain itu, aspirasi darah ke saluran napas bawah berpotensi memicu obstruksi jalan napas akut dan pneumonitis aspiratif.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi