Epistaksis

Sering bikin panik tapi sebenarnya umum, epistaksis itu bukan sekadar mimisan biasa! Sebagai calon dokter, kamu harus tahu seluk-beluknya, mulai dari penyebab tersembunyi sampai penanganan yang tepat. Yuk, kuasai materi penting ini agar kamu siap menghadapi UKMPPD dan praktik klinis!

Definisi

Epistaksis adalah perdarahan akut dari lubang hidung, rongga hidung, atau nasofaring. Kondisi ini sering disebut juga sebagai mimisan.

Epistaksis dapat terjadi pada semua golongan usia, namun paling sering pada anak-anak (2-10 tahun) dan lansia (50-80 tahun).

Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab epistaksis dapat dibagi menjadi faktor lokal dan sistemik:

  • Faktor Lokal:
    • Trauma: Mengorek hidung, benturan, cedera wajah, fraktur hidung, pemasangan selang nasogastrik.
    • Inflamasi dan Infeksi: Rinitis (alergi/non-alergi), sinusitis, infeksi saluran napas atas, granulomatosis Wegener.
    • Benda Asing: Terutama pada anak-anak.
    • Tumor: Angiofibroma nasofaring juvenil, karsinoma nasofaring, polip nasi berdarah.
    • Deviasi Septum: Mukosa kering dan rapuh di area yang menonjol.
    • Lingkungan Kering: Udara panas atau dingin yang kering dapat mengiritasi mukosa hidung.
    • Pascabedah: Terutama bedah hidung dan sinus.
  • Faktor Sistemik:
    • Hipertensi: Peningkatan tekanan darah dapat memicu atau memperburuk perdarahan.
    • Koagulopati: Kelainan pembekuan darah seperti hemofilia, penyakit von Willebrand, trombositopenia, leukemia.
    • Obat-obatan: Antikoagulan (warfarin), antiplatelet (aspirin, clopidogrel), NSAID.
    • Penyakit Sistemik: Penyakit hati (sirosis), gagal ginjal kronis, telangiektasia herediter (Osler-Weber-Rendu).
    • Defisiensi Nutrisi: Kekurangan vitamin C (skorbut) atau vitamin K.

Area perdarahan yang sering ditemukan:

  • Anterior: Umumnya berasal dari Pleksus Kiesselbach (Little's area), suatu anastomosis dari arteri etmoidalis anterior, arteri sfenopalatina, arteri palatina mayor, dan arteri labialis superior.
  • Posterior: Umumnya berasal dari Pleksus Woodruff, cabang dari arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis posterior.

Klasifikasi

Epistaksis diklasifikasikan berdasarkan lokasi perdarahan:

KriteriaEpistaksis AnteriorEpistaksis Posterior
FrekuensiLebih sering (90-95% kasus)Lebih jarang (5-10% kasus)
SumberPleksus Kiesselbach (Little's area)Pleksus Woodruff (cabang arteri sfenopalatina dan etmoidalis posterior)
Tampak DarahDarah keluar dari nares anterior, mudah terlihatDarah mengalir ke orofaring (ditelan atau diludahkan), bisa keluar dari kedua nares
KeparahanUmumnya ringan, mudah diatasiCenderung lebih berat, sulit dihentikan, risiko aspirasi tinggi
UsiaLebih sering pada anak-anak dan dewasa mudaLebih sering pada lansia

Manifestasi Klinis

Gejala utama adalah keluarnya darah dari hidung. Perbedaan manifestasi klinis antara epistaksis anterior dan posterior seringkali membantu dalam penegakan diagnosis:

  • Epistaksis Anterior: Perdarahan umumnya ringan hingga sedang, keluar dari satu lubang hidung, dan mudah dihentikan dengan penekanan.
  • Epistaksis Posterior: Perdarahan cenderung lebih masif, darah sering mengalir ke tenggorokan (pasien mungkin meludah darah atau muntah darah), dan dapat keluar dari kedua lubang hidung. Pasien berisiko mengalami syok hipovolemik jika perdarahan hebat.
  • Gejala penyerta lain: Pusing, lemas, pucat, takikardia, hipotensi (jika perdarahan masif).

Penegakan Diagnosis

  • Anamnesis:
    • Kapan perdarahan dimulai? Berapa lama? Berapa banyak? Dari sisi mana?
    • Apakah ada riwayat trauma, mengorek hidung, atau benda asing?
    • Riwayat penyakit sistemik (hipertensi, kelainan pembekuan darah, penyakit hati)?
    • Penggunaan obat-obatan (antikoagulan, antiplatelet)?
    • Riwayat epistaksis sebelumnya atau riwayat keluarga?
    • Gejala penyerta (pusing, lemas)?
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Evaluasi Umum: Nilai tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi), status kesadaran, dan tanda-tanda syok (pucat, akral dingin) jika perdarahan masif.
    • Pemeriksaan Lokal:
      • Pasien duduk tegak dengan kepala sedikit menunduk ke depan.
      • Bersihkan bekuan darah dari hidung dengan suction atau meminta pasien meniup hidung perlahan.
      • Lakukan rinoskopi anterior dengan spekulum hidung dan lampu kepala untuk mencari sumber perdarahan.
      • Jika dicurigai epistaksis posterior, lakukan rinoskopi posterior atau pemeriksaan orofaring untuk melihat adanya darah yang mengalir dari nasofaring.
  • Pemeriksaan Penunjang (jika diperlukan):
    • Laboratorium: Darah lengkap (Hb, Ht), PT/APTT, INR, trombosit (jika ada riwayat kelainan pembekuan darah atau penggunaan antikoagulan). Golongan darah dan crossmatch jika perdarahan masif dan membutuhkan transfusi.
    • Radiologi: CT-scan atau MRI (jika dicurigai ada massa/tumor, fraktur, atau benda asing).

Tatalaksana

Tatalaksana epistaksis bertujuan untuk menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi, dan mengatasi penyebab yang mendasari.

Penanganan Awal (First Aid)

  • Tenangkan pasien.
  • Posisikan pasien duduk tegak, kepala menunduk ke depan (untuk mencegah darah tertelan).
  • Jepit cuping hidung dengan ibu jari dan telunjuk selama 10-15 menit tanpa dilepas.
  • Kompres dingin di pangkal hidung atau dahi.
  • Jangan menelan darah karena dapat menyebabkan mual dan muntah.

Tatalaksana Medis

Jika perdarahan tidak berhenti dengan penanganan awal:

  • Identifikasi Sumber Perdarahan: Bersihkan hidung dari bekuan darah.
  • Kauterisasi:
    • Kauterisasi Kimia: Menggunakan larutan Nitrat Argenti (AgNO3) 20-30% atau asam trikloroasetat (TCA). Cocok untuk perdarahan anterior yang terlihat jelas.
    • Kauterisasi Elektrik (Elektrokauter): Untuk perdarahan yang lebih persisten atau area yang lebih luas.
  • Tampon Hidung:
    • Tampon Anterior: Digunakan untuk epistaksis anterior yang tidak berhenti dengan kauterisasi. Dapat menggunakan kapas vaselin, kasa yang diolesi salep antibiotik, tampon hidung yang dapat mengembang (misalnya Merocel, Rapid Rhino), atau balon tampon hidung. Tampon dibiarkan selama 24-48 jam.
    • Tampon Posterior: Digunakan untuk epistaksis posterior atau anterior yang sangat masif dan tidak responsif terhadap tampon anterior. Dapat menggunakan tampon Bellocq, balon kateter Foley, atau balon khusus posterior. Pemasangan tampon posterior memerlukan keahlian dan seringkali membutuhkan rawat inap. Tampon dibiarkan selama 2-3 hari.
  • Ligasi Arteri: Jika tampon gagal menghentikan perdarahan, pertimbangkan ligasi arteri yang menjadi sumber perdarahan (misalnya arteri sfenopalatina, arteri etmoidalis anterior/posterior, arteri maksilaris interna, atau arteri karotis eksterna).
  • Embolisasi: Prosedur radiologi intervensi untuk menyumbat pembuluh darah yang berdarah.

Medikamentosa

  • Analgesik: Untuk nyeri akibat tampon.
  • Antibiotik: Diberikan jika tampon hidung dipasang lebih dari 24-48 jam untuk mencegah infeksi (sinusitis, toxic shock syndrome).
  • Transfusi Darah: Jika terjadi anemia berat atau syok hipovolemik.
  • Koreksi Faktor Sistemik: Kontrol tekanan darah pada pasien hipertensi, koreksi koagulopati.

Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi akibat epistaksis atau tatalaksananya meliputi:

  • Syok Hipovolemik: Akibat perdarahan masif.
  • Aspirasi Darah: Terutama pada epistaksis posterior yang mengalir ke orofaring.
  • Anemia: Jika perdarahan berulang atau kronis.
  • Infeksi: Sinusitis, otitis media, toxic shock syndrome (terutama dengan tampon hidung yang lama).
  • Septal Hematoma/Perforasi: Akibat trauma atau pemasangan tampon yang terlalu ketat.
  • Nekrosis Alar Nasi: Jarang, akibat tekanan tampon yang berlebihan.
  • Hipoksia: Jika tampon menghalangi jalan napas.

Edukasi dan Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk mencegah kekambuhan:

  • Hindari mengorek hidung atau meniup hidung terlalu kencang.
  • Gunakan pelembap udara (humidifier) di rumah atau salep hidung (misalnya vaselin) untuk menjaga kelembapan mukosa hidung, terutama di lingkungan kering.
  • Hindari trauma pada hidung.
  • Kontrol tekanan darah secara teratur jika menderita hipertensi.
  • Konsultasi dengan dokter mengenai penggunaan obat-obatan yang memengaruhi pembekuan darah.
  • Segera cari pertolongan medis jika perdarahan berulang, sangat masif, atau tidak berhenti dengan penanganan awal.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds