Penyebab epistaksis dapat dibagi menjadi faktor lokal dan sistemik:
Area perdarahan yang sering ditemukan:
Epistaksis diklasifikasikan berdasarkan lokasi perdarahan:
| Kriteria | Epistaksis Anterior | Epistaksis Posterior |
|---|---|---|
| Frekuensi | Lebih sering (90-95% kasus) | Lebih jarang (5-10% kasus) |
| Sumber | Pleksus Kiesselbach (Little's area) | Pleksus Woodruff (cabang arteri sfenopalatina dan etmoidalis posterior) |
| Tampak Darah | Darah keluar dari nares anterior, mudah terlihat | Darah mengalir ke orofaring (ditelan atau diludahkan), bisa keluar dari kedua nares |
| Keparahan | Umumnya ringan, mudah diatasi | Cenderung lebih berat, sulit dihentikan, risiko aspirasi tinggi |
| Usia | Lebih sering pada anak-anak dan dewasa muda | Lebih sering pada lansia |
Gejala utama adalah keluarnya darah dari hidung. Perbedaan manifestasi klinis antara epistaksis anterior dan posterior seringkali membantu dalam penegakan diagnosis:
Tatalaksana epistaksis bertujuan untuk menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi, dan mengatasi penyebab yang mendasari.
Jika perdarahan tidak berhenti dengan penanganan awal:
Komplikasi yang dapat terjadi akibat epistaksis atau tatalaksananya meliputi:
Edukasi pasien sangat penting untuk mencegah kekambuhan:

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi