Episkleritis dan skleritis adalah dua kondisi peradangan yang berbeda pada lapisan mata anterior, tetapi memiliki perbedaan penting dalam tingkat keparahan dan prognosis. Episkleritis adalah peradangan lokal pada episklera (jaringan di antara konjungtiva dan sklera) yang biasanya ringan dan sembuh spontan, sedangkan skleritis adalah peradangan pada sklera itu sendiri yang lebih serius dan dapat menyebabkan kerusakan permanen atau kebutaan. Memahami perbedaan klinis ini sangat penting untuk diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat.
Episkleritis adalah peradangan lokal pada episklera yang bersifat idiopatik, artinya penyebabnya sering tidak diketahui. Kondisi ini umumnya ringan dan memiliki prognosis yang baik, dengan sebagian besar kasus sembuh tanpa komplikasi.
Faktor-faktor yang terkait dengan episkleritis mencakup:
Pasien dengan episkleritis melaporkan keluhan-keluhan berikut:
Penting untuk dicatat bahwa visus (ketajaman mata) biasanya tetap normal, yang membedakan episkleritis dari kondisi yang lebih serius.
1. Episkleritis Difus Peradangan meliputi lebih dari satu kuadran episklera. Bentuk ini menunjukkan area merah yang luas tanpa lokalisasi spesifik.
2. Episkleritis Nodular
Untuk membedakan episkleritis dari konjungtivitis, dilakukan tes penetesan vasokonstriktor dengan fenilefrin 2,5%. Pada episkleritis, pembuluh-pembuluh episklera tidak menyusut setelah penetesan ini, sedangkan pada konjungtivitis pembuluh konjungtiva akan menyusut. Perbedaan ini penting karena membantu diagnosis diferensial.
Untuk kasus ringan: Banyak kasus episkleritis sembuh spontan dalam 1â2 minggu tanpa memerlukan pengobatan khusus.
Untuk kasus dengan gejala berat:
Penting dicatat bahwa episkleritis respons baik terhadap steroid topikal, dan tidak ada risiko perforasi seperti pada skleritis.
Skleritis adalah peradangan yang terbatas pada sklera (lapisan putih mata yang lebih dalam dibanding episklera). Berbeda dengan episkleritis yang ringan, skleritis adalah kondisi serius yang dapat menyebabkan kerusakan visual permanen atau bahkan kebutaan jika tidak ditatalaksana dengan tepat. Kondisi ini memerlukan pendekatan diagnostik dan terapeutik yang lebih agresif.
Karakteristik demografi:
Penyakit sistemik terkait (50% kasus): Sangat penting untuk mencari penyakit sistemik pada pasien skleritis karena setengah dari kasus memiliki asosiasi dengan penyakit sistemik.
Anterior (98% dari semua kasus skleritis):
*Non-nekrotik:*
*Nekrotik:*
Posterior (2% dari semua kasus skleritis): Peradangan pada sklera di belakang ekuator mata, sulit dilihat secara langsung dan memerlukan pencitraan untuk diagnosis.
Keluhan pasien:
Temuan pemeriksaan fisik:
Sklera adalah struktur yang memberikan kekuatan pada mata. Peradangan dan nekrosis pada sklera dapat menyebabkan:
Itulah mengapa diagnosis cepat dan pengobatan agresif sangat penting.
Bentuk ini memerlukan pendekatan yang lebih agresif:
Kombinasi terapi sistemik ini diperlukan karena skleritis nekrotik adalah manifestasi dari penyakit sistemik yang serius dan memerlukan penekanan imun yang kuat.
Peringatan penting: Hindari steroid subkonjungtiva (injeksi steroid di bawah konjungtiva) pada skleritis karena dapat meningkatkan risiko perforasi sklera. Pendekatan sistemik lebih aman dan lebih efektif.
Penatalaksanaan sangat berbeda dari bentuk non-infeksius:
Identifikasi cepat etiologi infeksius sangat penting karena memberi arah pengobatan yang sama sekali berbeda.
Karena 50% pasien skleritis memiliki asosiasi dengan penyakit sistemik, sangat penting untuk:
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi