Epilepsi adalah gangguan otak kronis yang ditandai oleh predisposisi untuk menghasilkan kejang epileptik, serta konsekuensi neurobiologis, kognitif, psikologis, dan sosial dari kondisi ini.
Diagnosis epilepsi ditegakkan jika memenuhi salah satu kriteria berikut (ILAE 2014):
Penyebab epilepsi sangat bervariasi dan seringkali multifaktorial. Klasifikasi ILAE 2017 mengkategorikan etiologi menjadi:
Faktor risiko yang dapat memicu kejang pada individu dengan epilepsi meliputi kurang tidur, stres, demam, alkohol, obat-obatan tertentu, dan perubahan hormonal.
Klasifikasi ini penting untuk diagnosis dan pemilihan obat anti-epilepsi (OAE).
| Tipe Kejang | Deskripsi |
|---|---|
| Fokal (Parsial) | Berasal dari satu area di salah satu hemisfer otak. |
| Fokal Sadar (Simple Partial) | Kesadaran tidak terganggu. |
| Fokal Tidak Sadar (Complex Partial) | Kesadaran terganggu. |
| Fokal menjadi Bilateral Tonik-Klonik | Dimulai fokal, menyebar menjadi kejang umum. |
| Umum (Generalisata) | Berasal dari kedua sisi otak secara bersamaan. |
| Kejang Tonik-Klonik | Fase tonik (kaku) diikuti fase klonik (kelojotan). |
| Kejang Absans (Petit Mal) | Gangguan kesadaran singkat, tatapan kosong, tanpa jatuh. |
| Kejang Mioklonik | Sentakan otot singkat, mendadak. |
| Kejang Klonik | Kelojotan berulang. |
| Kejang Tonik | Peningkatan tonus otot secara mendadak. |
| Kejang Atonik | Kehilangan tonus otot mendadak, menyebabkan jatuh (drop attack). |
| Onset Tidak Diketahui | Ketika onset kejang tidak dapat ditentukan (misalnya, kejang terjadi saat sendiri dan tidak ada saksi mata). |
Secara umum, epilepsi terjadi akibat ketidakseimbangan antara proses eksitasi dan inhibisi di otak, yang menyebabkan aktivitas listrik abnormal, sinkron dan berlebihan dari sekelompok neuron.
Manifestasi klinis sangat bervariasi tergantung jenis kejang:
Diagnosis epilepsi adalah diagnosis klinis yang didasarkan pada anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Penting untuk membedakan kejang epileptik dari kondisi lain yang menyerupai kejang.
| Karakteristik | Kejang Epileptik | Sinkop | Serangan Iskemik Transien (TIA) | Kejang Psikogenik Non-Epileptik (PNES) |
|---|---|---|---|---|
| Penyebab | Aktivitas listrik otak abnormal | Penurunan aliran darah ke otak | Iskemia otak transien | Psikologis |
| Pemicu | Kurang tidur, stres, alkohol, demam | Berdiri lama, nyeri, emosi kuat | Aterosklerosis, emboli | Stres emosional |
| Awitan | Bisa mendadak, dengan/tanpa aura | Sering didahului pusing, mual, pandangan gelap | Mendadak | Bervariasi, sering gradual |
| Gerakan | Kaku (tonik), kelojotan (klonik), simetris/asimetris | Kejang mioklonik singkat, tidak terorganisir, jarang | Defisit neurologis fokal (mis. kelemahan) | Tidak teratur, asinkron, bergantian, sering dengan gerakan tidak lazim (pelvic thrusting, side-to-side head shaking) |
| Kesadaran | Sering terganggu | Hilang kesadaran singkat | Sadar penuh | Bisa tampak tidak sadar, tetapi responsif terhadap stimulus nyeri/verbal |
| Durasi | Detik hingga beberapa menit | Beberapa detik | Menit hingga kurang dari 24 jam | Bervariasi, sering lebih lama (menit-jam) |
| Post-iktal | Kebingungan, somnolen, nyeri otot (Todd's paralysis) | Pemulihan cepat | Tidak ada post-iktal | Pemulihan cepat, tidak ada kebingungan |
| Luka/Cidera | Sering | Jarang | Tidak ada | Jarang |
Tujuan utama adalah mencapai bebas kejang tanpa efek samping yang mengganggu. Prinsipnya adalah monoterapi dengan dosis titrasi.
Status Epileptikus (SE) adalah kondisi gawat darurat neurologis. Definisi terbaru: kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit, atau dua atau lebih kejang tanpa pemulihan kesadaran penuh di antara kejang.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi