Endoftalmitis adalah inflamasi pada bagian dalam bola mata yang merupakan kondisi oftalmologi serius yang memerlukan penanganan cepat. Kondisi ini dapat terjadi sebagai akibat infeksi atau reaksi non-infeksius terhadap zat asing atau toksin. Pemahaman mendalam tentang penyebab, gejala, diagnosis, dan penatalaksanaan endoftalmitis sangat penting bagi praktisi kesehatan mata, terutama mengingat potensi terjadinya kebutaan permanen jika tidak ditangani dengan tepat.
Endoftalmitis diklasifikasikan menjadi dua kategori utama berdasarkan sifat penyebabnya.
Endoftalmitis Infeksius terjadi ketika agen patogen, baik bakteri, jamur, atau organisme lainnya, menginfeksi ruang intraokular. Tipe ini memerlukan penggunaan agen antimikroba untuk pengendalian infeksi.
Endoftalmitis Non-Infeksius (Steril) terjadi ketika terdapat peradangan intraokular tanpa agen patogen hidup. Jenis ini biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap toksin, debris, atau zat asing yang masuk ke dalam mata. Pembedaan antara kedua jenis ini sangat penting karena mengarahkan strategi pengobatan yang berbeda.
Patogen bakteri yang paling sering menyebabkan endoftalmitis akut adalah Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus, keduanya merupakan kokus gram-positif. Organisme-organisme ini umumnya berasal dari flora normal kulit dan selaput lendir di sekitar mata. Mengapa bakteri ini sering bertanggung jawab? Karena lokasi mereka di dekat mata membuat kontaminasi selama prosedur intraokular menjadi lebih mudah terjadi.
Selain dua patogen utama tersebut, bakteri lain yang dapat menyebabkan endoftalmitis akut meliputi Streptococcus, Pseudomonas, dan Streptococcus pneumoniae. Penting untuk dicatat bahwa Pseudomonas umumnya menghasilkan infeksi yang lebih agresif dan progresif cepat dibandingkan dengan bakteri gram-positif.
Selain itu, Corynebacterium juga dapat menyebabkan endoftalmitis, meskipun lebih jarang. Propionibacterium acnes dan Actinomyces (organisme gram-positif) cenderung menyebabkan endoftalmitis yang bersifat lebih kronik dan indolen, dengan gejala yang berkembang lebih lambat selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah prosedur intraokular.
Insiden endoftalmitis pasca operasi intraokular akut sangat rendah, sekitar 0,1% dari semua prosedur intraokular. Angka yang rendah ini mencerminkan pentingnya teknik asepsis dan profilaksis antibiotik modern dalam oftalmologi. Namun, meskipun jarang, konsekuensi dari endoftalmitis sangat serius, sehingga pencegahan dan deteksi dini tetap menjadi prioritas.
Sumber infeksi endoftalmitis berasal dari beberapa kemungkinan:
Endoftalmitis akut biasanya terjadi 1-7 hari setelah prosedur intraokular, dengan gejala yang berkembang dengan cepat dan dramatis. Onset yang cepat ini mencerminkan respons inflamasi tubuh yang kuat terhadap bakteri yang sangat virulen.
Sebaliknya, endoftalmitis kronik dapat muncul berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah prosedur, sering kali dengan gejala yang lebih subtle dan progresif. Onset yang terlambat ini biasanya berkaitan dengan organisme yang kurang virulen atau organisme yang secara perlahan menginvasi struktur mata.
Pasien dengan endoftalmitis akut akan mengeluh:
Pemeriksaan slit lamp akan mengungkapkan perubahan anatomis yang nyata:
Segmen anterior:
Segmen posterior:
Pola tekanan intraokular (TIO) pada endoftalmitis menarik: pada awal penyakit, TIO meningkat karena peradangan dan pembentukan eksudat. Namun, pada kasus berat dengan destruksi jaringan okular yang luas, TIO dapat menurun drastis seiring dengan hilangnya produksi humor akuos dan pengurangan volume mata. Penurunan TIO yang progresif adalah tanda buruk yang menunjukkan kerusakan intraokular yang parah.
Pertanyaan kunci dalam anamnesis harus mencakup:
Riwayat prosedur mata baru-baru ini yang diikuti dengan onset nyeri mata yang tiba-tiba dan dramatis adalah kombinasi yang sangat mencurigakan untuk endoftalmitis.
Pemeriksaan fisik harus sistematis dan mencakup:
Catatan penting: Pemeriksaan fundoskop (melihat ke belakang mata) mungkin tidak mungkin dilakukan karena kekeruhan media yang parah akibat eksudasi vitreus.
Pemberian antibiotik harus segera dilakukan tanpa menunggu hasil kultur, karena setiap jam penundaan meningkatkan risiko kerusakan permanen pada struktur intraokular. Injeksi intravitreal dipilih karena antibiotik lokal memberikan konsentrasi tinggi langsung di situs infeksi.
Untuk bakteri gram-positif (Staphylococcus dan Streptococcus), gunakan:
Vancomycin adalah pilihan umum karena efektif terhadap Staph aureus yang resisten metisilin (MRSA), yang semakin banyak ditemukan dalam infeksi nosokomial.
Untuk bakteri gram-negatif (Pseudomonas dan enterobacteria), gunakan:
Kedua obat ini adalah antibiotik aminoglikosida yang efektif terhadap patogen gram-negatif yang lebih agresif.
Pendekatan umum adalah memberikan kombinasi satu agen gram-positif dan satu agen gram-negatif untuk cakupan empiris yang luas sampai hasil kultur dan sensitivitas tersedia.
Meskipun antibiotik adalah lini pertahanan utama, steroid intravitreal memainkan peran penting dalam mengendalikan respons inflamasi yang berlebihan yang menyebabkan kerusakan jaringan sekunder.
Waktu pemberian sangat penting: Steroid intravitreal (misalnya dexamethasone 0,4 mg/0,1 mL) hanya diberikan 24-48 jam setelah infeksi telah mulai terkontrol oleh antibiotik. Pemberian steroid terlalu dini dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri, sedangkan pemberian terlalu lambat mengurangi potensi manfaatnya dalam mencegah kerusakan.
Logika di balik timing ini adalah membiarkan antibiotik melakukan pekerjaan membunuh bakteri terlebih dahulu, kemudian steroid ditambahkan untuk mengurangi peradangan yang menyakitkan dan berpotensi merusak jaringan mata yang sehat.
Vitrektomi diindikasikan dalam situasi berikut:
Vitrektomi memiliki beberapa keuntungan:
Prognosis endoftalmitis umumnya buruk, dan pasien harus diberikan konseling yang realistis tentang outcome potensial.
Mayoritas pasien dengan endoftalmitis akan mengalami kebutaan permanen atau penglihatan yang sangat terbatas, terutama dalam kasus-kasus berikut:
Bahkan dengan penatalaksanaan agresif yang mencakup antibiotik intravitreal, steroid, dan vitrektomi, pemulihan penglihatan yang bermakna sering kali tidak tercapai. Oleh karena itu, pencegahan melalui teknik asepsis yang ketat, sterilisasi instrumen yang sempurna, dan profilaksis antibiotik perioperatif tetap menjadi strategi paling efektif dalam mengatasi masalah ini.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi