Empiema umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Berikut adalah penyebab paling umum:
Perjalanan empiema biasanya dibagi menjadi tiga tahap:
Pada tahap awal, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler pleura akibat peradangan, menyebabkan akumulasi cairan steril di rongga pleura. Cairan ini memiliki pH normal, glukosa normal, dan LDH rendah. Respon terhadap antibiotik umumnya baik.
Bakteri menginvasi rongga pleura, memicu respons inflamasi yang lebih intens. Terjadi pembentukan fibrin, septa, dan lokulasi cairan. Cairan pleura menjadi keruh, pH menurun, glukosa menurun, dan LDH meningkat. Pada tahap ini, drainase cairan mungkin diperlukan.
Fibroblas tumbuh ke dalam eksudat fibrin, membentuk 'kulit' atau 'peel' fibrosa yang tebal di permukaan pleura viseral dan parietal. Ini dapat menyebabkan restriksi paru dan kegagalan ekspansi paru. Drainase saja tidak cukup, sering memerlukan intervensi bedah.
Gejala empiema seringkali tumpang tindih dengan pneumonia, namun dapat lebih berat dan persisten:
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda efusi pleura:
Diagnosis empiema ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan analisis cairan pleura.
Pemeriksaan penunjang sangat krusial untuk konfirmasi diagnosis dan panduan tatalaksana:
Ini adalah pemeriksaan terpenting. Aspirasi cairan pleura untuk analisis makroskopis, biokimia, mikrobiologi, dan sitologi. Kriteria empiema meliputi:
Tatalaksana empiema berfokus pada dua pilar utama: drainase cairan pleura dan terapi antibiotik.
Dimulai secara empiris, mencakup bakteri Gram positif (misalnya Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae), Gram negatif (misalnya Klebsiella pneumoniae), dan anaerob (misalnya Bacteroides, Peptostreptococcus). Contoh kombinasi: Beta-laktam/inhibitor beta-laktamase (misalnya Amoksisilin-Klavulanat, Piperasilin-Tazobaktam) atau Sefalosporin generasi ketiga (misalnya Seftriakson) ditambah Metronidazol atau Klindamisin. Disesuaikan berdasarkan hasil kultur dan uji sensitivitas.
Biasanya 2-4 minggu, atau hingga pasien afebris dan tanda-tanda inflamasi membaik.
Dilakukan untuk diagnosis dan terapi. Dapat mengeluarkan sebagian cairan, namun seringkali tidak cukup untuk drainase empiema yang kental atau terlokulasi.
Merupakan tatalaksana utama untuk drainase. Selang berukuran besar (misalnya 28-36 Fr) mungkin diperlukan untuk cairan kental. Harus dipastikan selang terpasang di lokasi yang tepat dan berfungsi efektif.
Jika cairan terlokulasi dan sulit didrainase dengan chest tube, agen fibrinolitik (misalnya Alteplase) dapat diinjeksikan ke rongga pleura melalui selang dada untuk melarutkan septa fibrin dan memfasilitasi drainase. Sering dikombinasikan dengan DNAse (misalnya Dornase alfa).
Prosedur minimal invasif untuk debridement (membersihkan nanah dan fibrin), memecah lokulasi, dan memasang selang drainase. Sangat efektif pada tahap fibrinopurulen.
Pada empiema tahap organisasi atau kronis dengan penebalan pleura yang signifikan, mungkin diperlukan torakotomi terbuka untuk mengangkat 'kulit' fibrosa (dekortikasi) dan memungkinkan re-ekspansi paru.
Empiema yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius:
Prognosis empiema bervariasi tergantung pada stadium penyakit saat diagnosis, kecepatan dan ketepatan tatalaksana, serta kondisi kesehatan umum pasien. Dengan tatalaksana yang agresif dan tepat, sebagian besar pasien dapat pulih sepenuhnya. Namun, empiema yang terlambat ditangani atau pada pasien dengan komorbiditas berat memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi