Pioderma adalah sekelompok infeksi bakteri pada kulit yang berkisar dari infeksi superfisial hingga infeksi jaringan dalam. Outline ini membahas tiga kondisi penting: ektima (infeksi dengan ulserasi), erisipelas (infeksi superfisial dengan batas tegas), dan selulitis (infeksi dermis dan jaringan subkutan). Pemahaman tentang perbedaan klinis, penyebab bakteri, dan pendekatan terapi dari ketiga kondisi ini sangat penting dalam praktik klinis.
Ektima adalah infeksi kulit yang ditandai dengan erosi dan ulserasi dengan krusta padat, yang merupakan komplikasi dari impetigo yang tidak diobati. Kondisi ini paling sering terjadi pada populasi tertentu: anak-anak, lansia, dan individu dengan kondisi yang mengganggu imunitas atau integritas kulit (seperti diabetes).
Lokasi lesi ektima yang paling umum adalah pada bagian bawah kaki dan tungkai. Kondisi ini lebih sering ditemukan di daerah dengan higienitas yang rendah dan malnutrisi.
Dua bakteri utama yang menyebabkan ektima adalah:
Ektima gangrenosum adalah varian yang lebih serius yang sering dikaitkan dengan imunokompromi atau infeksi sistemik.
Ektima berkembang melalui urutan tahapan yang jelas:
Dimulai dari impetigo yang tidak diobati, lesi ini kemudian menembus epidermis dan menyebabkan pembentukan ulkus dangkal. Beberapa faktor meningkatkan risiko perkembangan ini:
Patogenesis terutama melibatkan kerusakan epidermis oleh bakteri patogen, menghasilkan reaksi inflamasi lokal yang menyebabkan nekrosis dan ulserasi.
Penting untuk mengenali evolusi lesi ektima karena ini membantu dalam diagnosis:
Fase awal: Lesi dimulai sebagai vesikel atau vesikulopustul (gelembung kecil berisi cairan atau nanah) yang muncul dengan cepat.
Fase berikutnya: Vesikel ini berkembang menjadi krusta tebal dan kuning-keabuan yang melekat pada kulit.
Fase akhir (paling karakteristik): Setelah krusta diangkat atau terlepas, akan terlihat ulkus "punch-out" (ulkus dengan tepi yang tajam seperti hasil perforator) dengan karakteristik:
Ektima gangrenosum menunjukkan pola berbeda:
Pemeriksaan laboratorium membantu mengkonfirmasi diagnosis dan memandu terapi:
Pewarnaan Gram dari eksudat lesi dapat menunjukkan bakteri Gram positif (kokkus yang berkelompok untuk S. aureus atau streptokokus) atau Gram negatif (untuk Pseudomonas pada ektima gangrenosum).
Kultur dan uji sensitivitas antibiotik harus dilakukan terutama ketika:
Pemeriksaan lanjutan seperti kultur darah, CRP, dan kreatinin dapat dipertimbangkan jika dicurigai adanya bakteremia atau komplikasi sistemik, terutama pada pasien lansia atau immunokompromis.
Biopsi kulit dapat dilakukan jika lesi tidak memiliki fitur klinis yang jelas atau tidak merespons terapi, untuk menyingkirkan diagnosis banding lainnya.
Kondisi lain yang harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding ektima meliputi:
Diagnosis banding yang tepat penting untuk menghindari terapi yang tidak perlu, tetapi dalam praktik klinis, manifestasi klinis yang khas (ulkus punch-out dengan krusta tebal) biasanya cukup untuk menegakkan diagnosis ektima.
Pendekatan terapi ektima melibatkan kombinasi perawatan lokal dan antibiotik sistemik:
Perawatan lokal (tahap awal):
Terapi topikal saja mungkin cukup untuk lesi lokal yang terbatas.
Antibiotik oral (untuk lesi yang lebih luas atau tidak merespons lokal):
Durasi terapi biasanya 5-7 hari.
Pada pasien dengan alergi penisilin:
Penting: Penyesuaian terapi berdasarkan hasil kultur dan uji sensitivitas sangat direkomendasikan untuk memastikan efikasi dan mengurangi resistensi antibiotik.
Prognosis: Dengan terapi yang tepat, mayoritas lesi ektima akan sembuh dalam 5-7 hari. Namun, beberapa lesi mungkin memerlukan durasi terapi yang lebih panjang.
Komplikasi yang mungkin terjadi:
Penting untuk menekankan bahwa dengan diagnosis dini dan terapi yang tepat, sebagian besar komplikasi dapat dicegah.
Erisipelas dan selulitis adalah dua bentuk infeksi kulit dalam (pioderma profunda) yang melibatkan dermis dan jaringan subkutan. Meskipun sering dibandingkan, kedua kondisi ini memiliki perbedaan penting dalam presentasi klinis dan etiologi.
Epidemiologi: Infeksi jaringan lunak (soft-tissue infection) mengenai sekitar 10% dari pasien rawat jalan di Amerika Utara, dengan prevalensi yang lebih tinggi di negara berkembang di mana akses terhadap perawatan kesehatan dan higienitas lebih terbatas.
Faktor risiko berbeda antara erisipelas dan selulitis, mencerminkan perbedaan dalam patofisiologi dan populasi yang terkena.
Faktor risiko erisipelas:
Faktor risiko selulitis:
Kedua kondisi ini terjadi melalui mekanisme yang melibatkan kegagalan pertahanan kulit alami:
Kegagalan barrier kulit: Kulit intak berfungsi sebagai barier fisik yang efektif. Kegagalan barier iniâmelalui luka minor, gigitan serangga, dermatitis, atau traumaâmemungkinkan penetrasi bakteri ke dermis.
Mekanisme escape imun Streptococcus grup A: Bakteri ini telah mengembangkan strategi untuk menghindari sistem imun:
Virulence factors dari bakteri: Kedua organisme dapat memproduksi eksotoksin yang meningkatkan inflamasi dan kerusakan jaringan:
Onset: Biasanya akut, dengan gejala yang berkembang dalam hitungan jam
Gejala:
Tanda klinis yang paling karakteristik:
Lokasi: Sering dimulai pada wajah atau ekstremitas bawah
Onset: Biasanya lebih gradual dibanding erisipelas
Gejala:
Tanda klinis:
Komplikasi lokal:
Diagnosis utama didasarkan pada temuan klinis, terutama pada erisipelas yang presentasinya khas.
Pemeriksaan penunjang:
Dalam praktik klinis sehari-hari, sebagian besar kasus erisipelas dapat didiagnosis berdasarkan presentasi klinis saja tanpa memerlukan kultur atau imaging, menghemat waktu dan biaya. Kultur lebih penting pada kasus selulitis atau ketika ada kegagalan respons terapi awal.
Kedua obat ini merupakan first-line therapy dengan profil keamanan yang baik dan coverage yang cukup untuk bakteri penyebab selulitis di komunitas.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi