Eksfoliatif dermatitis, yang juga dikenal sebagai eritrodermi, adalah kondisi kulit serius di mana hampir seluruh permukaan tubuh mengalami peradangan dan pengelupasan. Kondisi ini bukan hanya masalah kosmetik, tetapi merupakan keadaan darurat medis yang dapat menimbulkan komplikasi sistemik yang mengancam nyawa. Memahami eritrodermi sangat penting karena memerlukan penatalaksanaan yang segera dan komprehensif.
Eritrodermi didefinisikan sebagai eritema (kemerahan) dan skuama (pengelupasan) yang difus melibatkan lebih dari 90% permukaan kulit tubuh. Ambang batas 90% ini penting karena menunjukkan bahwa hampir tidak ada area kulit normal yang tersisa.
Kondisi ini memiliki insidensi yang bervariasi, berkisar antara 0,9 hingga 71 per 100.000 pasien rawat jalan, bergantung pada populasi yang dipelajari. Penyakit ini lebih umum pada pria dewasa dengan usia 41â61 tahun.
Apa yang membuat eritrodermi berbahaya adalah potensinya untuk menyebabkan komplikasi sistemik yang mengancam nyawa, termasuk:
Penyakit kulit sebelumnya merupakan faktor predisposisi utama. Penyebab utama meliputi:
Fakta penting: pasien dengan penyakit kulit sebelumnya yang mendasar tidak memerlukan pemicu signifikan penyakit mereka dapat berkembang menjadi eritrodermi tanpa sebab eksternal yang jelas.
Obat-obatan dapat memicu eritrodermi melalui reaksi hipersensitivitas. Obat-obat yang diketahui sering memicu kondisi ini meliputi:
Selain penyakit kulit dasar dan obat, berbagai pemicu lain dapat mempercepat perkembangan ke eritrodermi:
Meskipun mekanisme patogenesis eritrodermi belum sepenuhnya dipahami, pemahaman dasar tentang proses biologis membantu menjelaskan mengapa intervensi tertentu efektif.
Eritrodermi melibatkan dysregulasi sistem imun kulit dengan aktivasi sel Th1 dan Th2 (sel T pembantu tipe 1 dan 2). Sel-sel ini kemudian mengekspresikan reseptor kemokin tertentu (CCR4, CCR5, CXCR3) yang memandu leukosit menuju kulit.
Sekali di kulit, leukosit ini berinteraksi dengan sel endotel melalui molekul adesi seperti:
Interaksi ini, bersama dengan pelepasan sitokin inflamasi, menyebabkan peningkatan dramatis dalam turnover epidermis sel kulit berkembang biak jauh lebih cepat dari biasanya. Hal ini menghasilkan kehilangan protein, asam amino, dan asam nukleat yang signifikan melalui skuama yang mengelupas.
Selain itu, kolonisasi *Staphylococcus aureus* atau produksi toksin toxic shock syndrome dapat memperburuk patogenesis dan berkontribusi pada komplikasi sistemik.
Detail spesifik tentang reseptor kemokin individu dan langkah-langkah signaling molekuler mungkin melampaui apa yang diperlukan untuk sebagian besar ujian. Poin kunci yang perlu diingat adalah: (1) eritrodermi adalah kondisi inflamasi imun-dimediasi, dan (2) turnover kulit yang cepat menjelaskan mengapa pasien kehilangan protein dan mengalami gangguan homeostasis.
Lesi biasanya dimulai sebagai bercak eritematosa luas yang menyatu (bergabung) menjadi generalisasi yang menutupi hampir seluruh tubuh. Setelah beberapa hari, skuama tipis berwarna keputihan atau kekuningan muncul di atas area eritematosa. Pola ini berbeda dari penyakit kulit individual di mana area normal masih terlihat jelas.
Meskipun fokus utama adalah pada kulit, rambut dan kuku juga dapat terlibat:
Karena eritrodermi menyerang >90% kulit, tubuh tidak dapat menjalankan fungsi kulit secara normal. Ini menghasilkan gejala sistemik yang serius:
Kardiovaskular dan termoregulasi:
Hepatik dan limfatik:
Lain-lain:
Gejala-gejala ini mencerminkan bahwa eritrodermi adalah kondisi multi-sistem, bukan sekadar masalah dermatologi.
Langkah pertama adalah mengumpulkan riwayat penyakit kulit sebelumnya dan faktor pencetus. Tanyakan kepada pasien:
Pemeriksaan fisik harus mengkonfirmasi kehadiran eritema dan skuama pada >90% permukaan tubuh. Ini adalah kriteria diagnostik utama.
Tidak ada tes laboratorium yang spesifik untuk eritrodermi tes ini mencerminkan dampak sistemik dari kondisi kulit yang luas. Temuan laboratorium yang mungkin meliputi:
Sebagian besar kasus eritrodermi akut memerlukan rawat inap untuk pemantauan ketat, terutama karena risiko komplikasi sistemik. Intervensi perawatan suportif meliputi:
Perawatan kulit lokal berfokus pada perlindungan dan pemulihan:
Penggunaan kortikosteroid sistemik bergantung pada penyebab eritrodermi:
Poin penting ini sering menjadi pertanyaan ujian karena kontraintranya yang terhadap intuisi.
Untuk kasus yang lebih berat atau ketika kortikosteroid tidak sesuai, terapi alternatif tersedia, meskipun bukti ilmiah untuk beberapa di antaranya terbatas:
Prognosis eritrodermi sangat bergantung pada etiologi:
Mortalitas dari eritrodermi itu sendiri berkurang dengan penatalaksanaan modern yang lebih baik, tetapi kematian masih dapat terjadi dari komplikasi infeksi (sepsis) atau gagal jantung pada pasien yang lebih tua atau dengan penyakit penyerta yang signifikan.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi