Difteri

Difteri, penyakit infeksi bakteri yang seringkali diremehkan padahal berpotensi fatal! Tahukah kamu, pseudomembran khasnya bukan cuma di tenggorokan, tapi bisa juga di kulit? Penyakit ini masih menjadi momok di Indonesia dan sering keluar di UKMPPD, lho. Yuk, pahami patofisiologi toksinnya, manifestasi klinis yang beragam, hingga tatalaksana yang tepat agar kamu siap menghadapi soal dan praktik klinis!

Definisi

Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Infeksi ini utamanya menyerang saluran napas atas dan kulit, ditandai dengan pembentukan pseudomembran dan produksi eksotoksin yang dapat menyebabkan efek sistemik serius.

Etiologi

Penyebab difteri adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae.

  • Bakteri ini adalah gram positif, berbentuk batang, tidak bergerak, dan tidak berspora.
  • Strain yang patogen adalah yang terinfeksi oleh bakteriofag (lisogenik) yang membawa gen untuk produksi eksotoksin difteri.
  • Eksotoksin inilah yang bertanggung jawab atas manifestasi klinis sistemik dan komplikasi fatal difteri.

Patofisiologi

Setelah masuk ke tubuh (melalui saluran napas atau kulit yang luka), bakteri C. diphtheriae akan berkolonisasi dan berkembang biak secara lokal.

Di lokasi infeksi, bakteri menghasilkan eksotoksin difteri yang sangat poten. Toksin ini menyebabkan nekrosis sel epitel dan respons inflamasi hebat, yang berujung pada pembentukan pseudomembran.

Pseudomembran ini terdiri dari fibrin, sel nekrotik, bakteri, dan leukosit, melekat erat pada jaringan dan dapat meluas, berpotensi menyebabkan obstruksi jalan napas.

Toksin kemudian diserap ke sirkulasi darah dan menyebar ke organ target, terutama:

  • Jantung: Menyebabkan miokarditis, yang merupakan komplikasi paling fatal.
  • Sistem Saraf: Menyebabkan neuropati, seperti paralisis palatum mole, paralisis saraf kranial lainnya, dan paralisis perifer.
  • Ginjal: Dapat menyebabkan nekrosis tubulus akut, meskipun jarang.

Manifestasi Klinis

Masa inkubasi difteri berkisar antara 2-5 hari. Manifestasi klinis bervariasi tergantung lokasi infeksi dan virulensi bakteri.

  • Difteri Faringeal dan Tonsiler (paling sering):
    • Nyeri tenggorokan, disfagia (sulit menelan), demam ringan.
    • Muncul pseudomembran berwarna abu-abu keputihan, melekat erat pada tonsil, faring, atau uvula. Jika dilepas, akan berdarah.
    • Pada kasus berat, dapat terjadi pembengkakan kelenjar getah bening servikal bilateral yang masif (“bull neck”) dan napas berbau busuk.
  • Difteri Laringeal:
    • Suara serak, batuk menggonggong (croupy cough).
    • Stridor inspirasi, retraksi dinding dada, dan sianosis akibat obstruksi jalan napas yang dapat mengancam jiwa.
  • Difteri Nasal:
    • Biasanya lebih ringan, ditandai dengan pilek serosanguineous (bercampur darah) unilateral atau bilateral.
    • Pseudomembran dapat terlihat di septum nasi.
  • Difteri Kutaneus:
    • Terjadi ulkus kronis yang nyeri, dengan batas jelas dan dasar keabu-abuan.
    • Sering ditemukan di daerah tropis.
  • Manifestasi Sistemik (akibat toksin):
    • Miokarditis: Dapat menyebabkan aritmia, gagal jantung, dan syok kardiogenik.
    • Neuropati: Paralisis palatum mole (sering), paralisis saraf kranial lainnya (misalnya untuk mata atau wajah), paralisis diafragma, atau paralisis perifer.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis difteri adalah diagnosis klinis. Terapi harus segera dimulai berdasarkan kecurigaan klinis tanpa menunggu hasil laboratorium.

  • Anamnesis: Cari riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau riwayat kontak dengan penderita difteri.
  • Pemeriksaan Fisik: Temuan khas seperti pseudomembran yang melekat erat, bull neck, atau stridor adalah petunjuk kuat.
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Swab tenggorok atau lesi kulit: Sampel dikirim untuk kultur bakteri pada media Löffler atau Tellurite. Hasil positif mengonfirmasi adanya C. diphtheriae.
    • PCR (Polymerase Chain Reaction): Untuk deteksi gen toksin C. diphtheriae, memberikan hasil lebih cepat.
    • Elek Test: Digunakan untuk mendeteksi produksi toksin oleh isolat bakteri (tidak rutin, lebih untuk konfirmasi strain toksigenik).
    • Pemeriksaan darah rutin: Dapat menunjukkan leukositosis.
    • EKG: Penting untuk memantau komplikasi miokarditis.

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi dapat menyerupai difteri, sehingga penting untuk melakukan diagnosis banding:

KondisiCiri Khas Pembeda
Tonsilofaringitis StreptokokusEksudat purulen mudah dilepas, tidak berdarah, tidak ada pseudomembran sejati, tidak ada bull neck atau toksisitas sistemik berat.
Mononukleosis InfeksiosaLimfadenopati generalisata, splenomegali, uji Paul-Bunnell positif, gambaran limfosit atipik.
Candidiasis OralPlak putih seperti keju, mudah dikerok, dasar tidak berdarah, sering pada pasien imunokompromais.
Epiglotitis AkutOnset mendadak, stridor, drooling (ngiler), demam tinggi, posisi tripod, tidak ada pseudomembran.
Laringotrakeobronkitis (Croup)Batuk menggonggong, stridor, umumnya viral, tidak ada pseudomembran.

Tatalaksana

Tatalaksana difteri berfokus pada netralisasi toksin, eradikasi bakteri, dan perawatan suportif.

  • Isolasi Pasien: Pasien harus diisolasi (droplet precaution) hingga 2 kali kultur tenggorok negatif berturut-turut.
  • Antitoksin Difteri (ADS - Anti-Diphtheria Serum):
    • Wajib diberikan sesegera mungkin setelah diagnosis klinis ditegakkan, tanpa menunggu hasil kultur.
    • Dosis disesuaikan dengan beratnya penyakit (intramuskular atau intravena).
    • Lakukan skin test untuk mendeteksi hipersensitivitas sebelum pemberian.
  • Antibiotik:
    • Diberikan untuk menghentikan produksi toksin dan eradikasi bakteri.
    • Pilihan: Eritromisin (oral/IV) atau Penisilin Prokain (IM) / Penisilin G Kristal (IV).
    • Lama terapi umumnya 14 hari.
  • Terapi Suportif:
    • Pastikan patensi jalan napas (intubasi atau trakeostomi jika ada obstruksi berat).
    • Istirahat total (bed rest) untuk mencegah atau mengurangi keparahan miokarditis.
    • Koreksi cairan dan elektrolit.
    • Penanganan komplikasi (misalnya, kortikosteroid untuk miokarditis, fisioterapi untuk neuropati).
  • Imunisasi Pasca-Sembuh: Pasien yang telah sembuh dari difteri harus tetap diimunisasi karena infeksi alami tidak selalu memberikan imunitas seumur hidup.

Komplikasi

Komplikasi difteri dapat sangat serius dan mengancam jiwa:

  • Miokarditis: Komplikasi paling sering menyebabkan kematian, dapat bermanifestasi sebagai aritmia, gagal jantung kongestif, atau syok kardiogenik.
  • Neuropati: Paralisis palatum mole, saraf kranial lainnya, saraf diafragma (menyebabkan gagal napas), atau saraf perifer.
  • Obstruksi Jalan Napas: Akibat meluasnya pseudomembran di laring dan trakea.
  • Nekrosis tubulus akut ginjal (jarang).
  • Bronkopneumonia sekunder.

Pencegahan

Pencegahan difteri sangat efektif melalui imunisasi.

  • Imunisasi:
    • Vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) untuk bayi dan anak kecil.
    • Vaksin DT (Difteri, Tetanus) untuk anak sekolah.
    • Vaksin Td (Tetanus, difteri dosis rendah) untuk remaja dan dewasa, dengan booster setiap 10 tahun.
  • Profilaksis Pasca-Pajanan:
    • Pemberian antibiotik (misalnya eritromisin) kepada kontak erat yang tidak lengkap imunisasinya.
    • Pemberian booster toksoid difteri jika sudah lebih dari 5 tahun sejak dosis terakhir.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds