Diare: Klasifikasi dan Etiologi Utama

Diare adalah keluhan umum yang sering membuat mahasiswa kedokteran pusing tujuh keliling saat UKMPPD. Tapi, tahukah Anda bahwa penegakan diagnosis dan tatalaksana yang tepat sangat bergantung pada pemahaman etiologinya? Yuk, kuasai klasifikasi dan berbagai penyebab diare akut maupun kronis yang sering keluar di ujian, agar Anda siap menghadapi kasus apa pun!

Definisi Diare

Diare didefinisikan sebagai buang air besar (BAB) dengan konsistensi tinja lebih cair dari biasanya (mencret atau berair) dan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Peningkatan volume tinja (lebih dari 200 gram per hari) juga menjadi kriteria penting.

Klasifikasi Diare Berdasarkan Durasi

Klasifikasi diare berdasarkan durasi sangat penting untuk membedakan etiologi dan pendekatan tatalaksananya:

  • Diare Akut: Berlangsung kurang dari 14 hari. Umumnya disebabkan oleh infeksi.
  • Diare Persisten: Berlangsung antara 14 hingga 30 hari. Sering merupakan kelanjutan dari diare akut yang tidak tertangani dengan baik atau komplikasi infeksi.
  • Diare Kronis: Berlangsung lebih dari 30 hari. Etiologinya lebih kompleks dan sering non-infeksius.

Etiologi Diare Akut

Mayoritas diare akut disebabkan oleh agen infeksius. Berikut adalah tabel ringkasan etiologi utama diare akut:

KategoriContoh PatogenMekanisme/Ciri Khas
VirusRotavirus, Norovirus, Adenovirus, Astrovirus

Penyebab paling umum pada anak-anak (Rotavirus) dan dewasa (Norovirus).

Biasanya swasirna (self-limiting) dengan gejala muntah, mual, demam ringan, diare cair.

Bakteri Toksigenik (Non-Invasif)Vibrio cholerae, Enterotoxigenic E. coli (ETEC), Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens

Menghasilkan toksin yang menyebabkan sekresi cairan dan elektrolit ke lumen usus.

Diare cair profus, tanpa demam tinggi atau tinja berdarah.

S. aureus dan B. cereus sering terkait intoksikasi makanan dengan onset cepat.

Bakteri Invasif (Invasif/Sitotoksik)Shigella spp., Salmonella enterica (non-Typhi), Campylobacter jejuni, Enteroinvasive E. coli (EIEC), Enterohemorrhagic E. coli (EHEC/STEC), Clostridium difficile

Merusak mukosa usus, menyebabkan inflamasi dan ulserasi.

Gejala: demam, nyeri perut hebat, tenesmus, tinja berdarah (disentri) dan/atau berlendir.

C. difficile sering terkait penggunaan antibiotik.

ParasitGiardia lamblia, Cryptosporidium parvum, Entamoeba histolytica

Dapat menyebabkan diare akut, persisten, atau kronis.

Gejala bervariasi dari diare cair hingga disentri (E. histolytica).

Sering terkait air atau makanan terkontaminasi.

Non-InfeksiusKeracunan makanan non-bakteri, efek samping obat (antibiotik, laksatif), iskemia usus akut

Penyebab lain yang lebih jarang, perlu dipertimbangkan jika tidak ada bukti infeksi.

Etiologi Diare Kronis

Diare kronis memiliki spektrum etiologi yang luas, seringkali non-infeksius dan membutuhkan investigasi lebih lanjut. Berikut adalah beberapa kategori utama:

KategoriContoh KondisiCiri Khas/Mekanisme
Diare OsmotikDefisiensi laktase, malabsorpsi karbohidrat lain (fruktosa, sorbitol), penggunaan laksatif osmotik (magnesium hidroksida, polietilen glikol)

Penarikan air ke lumen usus karena zat yang tidak terserap.

Menghilang saat puasa.

Gap osmotik tinja tinggi.

Diare SekretorikTumor neuroendokrin (VIPoma, gastrinoma), kolitis mikroskopik, reseksi ileum terminal, penggunaan laksatif stimulan, infeksi kronis (mis. Cryptosporidium pada imunokompromais)

Peningkatan sekresi aktif elektrolit dan air ke lumen usus.

Tidak menghilang saat puasa.

Gap osmotik tinja rendah.

Diare InflamasiPenyakit Radang Usus (Inflammatory Bowel Disease/IBD: Kolitis Ulseratif, Penyakit Crohn), kolitis iskemik, kolitis radiasi

Kerusakan mukosa usus akibat inflamasi.

Gejala: nyeri perut, demam, penurunan berat badan, tinja berdarah/berlendir.

Peningkatan penanda inflamasi (CRP, ESR, kalprotektin tinja).

Diare MalabsorpsiPenyakit Celiac, insufisiensi pankreas (fibrosis kistik, pankreatitis kronis), sindrom usus pendek, pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus (SIBO), defisiensi garam empedu

Gangguan penyerapan nutrisi (lemak, karbohidrat, protein) di usus halus.

Gejala: steatorea (tinja berminyak, berbau busuk, sulit disiram), penurunan berat badan, defisiensi vitamin.

Diare Gangguan MotilitasSindrom Irritable Bowel (IBS-D), neuropati diabetik, hipertiroidisme, skleroderma

Perubahan kecepatan transit makanan di usus.

IBS-D: nyeri perut yang membaik setelah BAB, perubahan frekuensi/konsistensi tinja.

Diare Iatrogenik/Obat-obatanAntibiotik (terutama Clostridium difficile), Metformin, kolkisin, obat kemoterapi, PPI, NSAID

Efek samping langsung dari konsumsi obat-obatan tertentu.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds